Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Politik
Demam Berdarah

Dinkes Curiga Ada Kasus DB yang Ditutupi

10 Februari 2019, 20: 04: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

darah

KEDIRI KABUPATEN - Kasus demam berdarah (DB) pada 2019 ini memang meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun rendahnya laporan kasus DB pada periode itu kemungkinan karena adanya tempat pelayanan kesehatan yang belum melaporkan kasus yang mereka tangani.

Pihak dinkes curiga ada rumah sakit (RS) atau klinik kesehatan yang tidak tertib laporan terkait hal tersebut. “Setelah saya evaluasi ada salah satu RS besar yang hanya merawat 1 – 2 tersangka DB saja,” ucap Kasi Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Nur Munawaroh kepada koran ini melalui sambungan telepon kemarin siang.

Menurutnya hal tersebut kurang masuk akal. Dia menduga bahwa selama ini RS tersebut tidak memberikan laporan ketika ada kasus DB di tempatnya. Hal serupa kemungkinan juga terjadi di beberapa layanan kesehatan lainnya. Baik itu rumah sakit, klinik, atau puskesmas.

Karena itu, dinkes, menurut Nur, berusaha mengumpulkan data riil kasus DB yang terjadi di lapangan. Dan ketika dinkes menghubungi salah satu RS yang dicurigai, ternyata dugaan tersebut benar. Pihak RS yang bersangkutan belum melaporkan sekitar 25 kasus DB yang ada di tempatnya.

Bila hal tersebut dibiarkan memang terlihat seperti tidak banyak kasus DB yang terjadi. “Seakan-akan nggak ada, padahal di RS itu penuh. Kadang kita tidak tahu karena mereka tidak melaporkannya,” ujarnya kesal.

Kasus seperti itu tak hanya terjadi di Kabupaten Kediri. Di beberapa daerah lain juga muncul fenomena seperti itu. Seperti halnya pada tahun sebelumnya ada satu daerah yang tinggi kasus DB-nya. Namun pada tahun berikutnya, di daerah tersebut langsung tidak ada kasus DB lagi.

Menurutnya, hal seperti itu juga kurang masuk akal. Ada kemungkinan bahwa daerah yang bersangkutan juga tidak melaporkan adanya kasus DB. “Demam berdarah itu tidak ada yang langsung berhenti total. Kalau saya justru mencari RS atau klinik mana yang belum melaporkan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ada beberapa alasan yang menyebabkan layanan kesehatan tidak melaporkan kasus DB yang ada. Salah satunya adalah karena takut citranya akan terlihat negatif. Belum lagi jika ada pasien DB yang tidak bisa diselamatkan dan meninggal di tempatnya. Hal itu biasanya ditakutkan akan menjadi preseden bagi pihak layanan kesehatan.

Selain itu, ada juga kemungkinan lain tidak dilaporkannya kasus tersebut karena petugas kesehatannya yang bermasalah. Seperti halnya yang terjadi di salah satu puskesmas di Kabupaten Kediri. Sang dokter sudah memberi tahu petugasnya untuk melaporkan adanya pasien DB yang dirawat. Sayangnya petugas tersebut justru tidak melaporkannya.

“Bahkan ada pula RS yang pasiennya meninggal karena DB tetapi yang dilaporkan meninggal karena alasan lainnya. Kemungkinan hal tersebut dilakukan karena RS takut namanya menjadi jelek,” beber Nur.

Sementara itu, berdasarkan data terbaru dari Dinkes Kediri, ada tujuh kasus DB yang dilaporkan. Satu di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Sedangkan kasus DB yang terjadi pada bulan lalu ada sebanyak 438 kasus dengan korban meninggal ada 12 orang.  

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia