Jumat, 24 May 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

-- Berbeda --

10 Februari 2019, 19: 56: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Mahfud

Oleh : Mahfud

Apa yang ada di benak Anda bila melihat gambar ini: Seorang biksu memegang timba air yang baru diambilnya dari sumur. Air itu dia kucurkan. Kemudian, kucuran air itu dimanfaatkan oleh seorang muslim untuk berwudu.

                                                             ---

Di Indonesia, setidaknya ada 1.300-an suku bangsa. Dengan 300 lebih etnis. Ribuan suku bangsa itu juga melahirkan ratusan bahasa. Catatan terbaru, ada sekitar 600-an bahasa daerah yang dipergunakan di Indonesia. Dengan sepuluh bahasa daerah yang paling banyak digunakan. Di antara ‘sepuluh besar’ bahasa daerah itu adalah bahasa Jawa, melayu-Indonesia, Sunda, Madura, Batak, Banjar, dan Bali.

Dengan gambaran seperti itu bisa kita bayangkan bagaimana wajah bangsa kita ini. Mulai dari pulau Weh hingga ke Merauke di Papua ada banyak ragam bahasa, suku, bangsa, dan kebudayaan. Tentu dengan beragam warna kulit, bentuk fisik, adat-istiadat, serta agama dan kepercayaannya.

Keberagaman itu bukannya tidak disadari oleh para founding father kita. Sumpah Pemuda di tahun 1928 adalah wujud dari kesadaran akan perbedaan itu. Sekaligus mencerminkan upaya untuk mempersatukan perbedaan. Bukan melebur perbedaan itu menjadi satu keragaman etnis ataupun bangsa. Namun tetap mempertahankan perbedaan yang ada. Menjadikan perbedaan itu sebagai sebuah kekuatan untuk mendapatkan status sebagai negara berdaulat. Menjadi jalan untuk mencapai kemerdekaan seperti yang kita rasakan saat ini.

Artinya, perbedaan itu adalah aset utama kita sebagai bangsa dan negara. Sejarah memberi kita pemahaman bahwa perlawanan yang sendiri-sendiri tak bisa menghasilkan sesuatu yang besar. Bagaimanapun dahsyatnya perlawanan Diponegoro toh tetap harus takluk di kaki Kompeni. Begitu pula sengitnya perlawanan kaum Padri di Padang, Tjoet Nya Dhien di Aceh, dan di berbagai sudut Nusantara, toh tetap berakhir dengan kekalahan menyakitkan.

Nah, itulah yang membuat perbedaan itu sebenarnya adalah aset yang sangat besar. Sangat potensial. Perbedaan bisa menjadi satu kekuatan yang menakutkan. Bila perbedaan itu menyatukan diri, akan menjadi potensi untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Bila perbedaan merupakan aset, maka kenapa kita takut? Karena bila perbedaan itu aset, maka berbeda dari kita bukanlah ancaman. Justru itu akan memperkaya kita. Menambah kegairahan dalam membangun sendi-sendi berkehidupan dan bermasyarakat. Yang bisa menciptakan interaksi antarsesama yang saling menghargai dan toleransi.

Sayangnya, situasi saat ini seperti mengarah ke sisi sebaliknya. Perbedaan tak lagi dianggap sebagai aset kehidupan yang potensial. Justru dinilai sebagai ancaman yang potensial. Karena itu, oleh sebagian kelompok, berbeda dianggap tabu. Peri pergaulan justru mengarah kepada kelompok eksklusif. Yang berbeda, baik itu dari sisi suku, agama, ras, dan antargolongan, lebih baik dijauhi. Kecuali mereka menyatu dan bergabung dengan pandangan kita. Maka, kini marak pemikiran ‘Yang benar adalah kita. Sedangkan yang lain adalah salah’. Kelompok di luar kita adalah liyan. Yang harus dicurigai. Yang harus menjadi musuh.

Arah seperti itu seperti menemukan muara di tahun politik seperti ini. Yang pro si A bakal menolak mentah-mentah semua pemikiran si B. Demikian pula sebaliknya. Yang pro si B bakal menistakan si A.

Beruntung, masih banyak yang berusaha merajut aset perbedaan itu dengan sekuat tenaga. Mereka dengan telaten dan sabar berusaha menyatukan serpihan-serpihan perbedaan yang mulai terkoyak di beberapa bagian. Berusaha menyatukan bangsa ini menjadi satu bagian yang, bisa saja terdiri dari banyak elemen, tapi tetap satu.

Kita perlu menyadari bahwa perbedaan pilihan politik itu sah-sah saja. Apalagi kehidupan bernegara kita juga terbangun dari cuilan-cuilan sikap politik masyarakatnya. Bahkan saat Orde Baru yang penuh pengekangan dari sisi politik pun masih ada tiga partai yang membangun demokrasi Pancasila. Apalagi di era pasca-reformasi seperti saat ini, di mana pilihan politik yang berbeda adalah suatu keniscayaan. Termasuk di antara anggota keluarga.

Namun, sekali lagi, perlu kita ingat lagi bahwa perbedaan itu adalah aset. Berbeda pilihan politik adalah potensi kita untuk menciptakan NKRI yang berusaha menciptakan masyarakat adil makmur. Keadilan dan kemakmuran bagi seluruh warganya. Tak peduli apa latar belakang politiknya, organisasi keagamaannya, derajat sosialnya, dan semua perbedaan lain. Karena perbedaan adalah aset. Maka, tak perlu menjadikan perbedaan itu sebagai pemecah kita bermasyarakat. Sah-sah saja kita berbeda pandangan politik, dan itu dijamin oleh konstitusi. Namun, menjadikan pandangan politik yang berbeda itu sebagai pemecah persaudaraan, itu bukan zamannya. Selamat berbeda pilihan, tapi tetap satu Indonesia. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia