Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Features

Wong Kito Galo Mengajar, Ajarkan Bahasa Inggris Gratis di Pare

Karena Ilmu Juga Harus Dibagi

10 Februari 2019, 19: 01: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

wong kito galo

TANPA PAMRIH: Nafis Lailatur Rohmah sedang berinteraksi dengan anak-anak didik di MI Al Hidayah. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Wong Kito Galo Mengajar (WKGM) membagikan ilmunya secara cuma-cuma. Bagi mereka, hal itu adalah sebuah bentuk balas budi dari ilmu yang mereka didapatkan.

Kemasyhuran Kampung Inggris di Pare telah sampai ke penjuru negeri. Banyak orang dari luar kota yang datang ke tempat ini. Tak jarang pula mereka yang berasal dari luar pulau Jawa turut menimba ilmu di salah satu kecamatan terpadat di Kabupaten Kediri itu.

Seperti halnya pelajar asal Sumatera ini. Mereka datang jauh-jauh dari seberang lautan. Demi sebuah pengalaman belajar dan tinggal di Kampung Inggris Pare.

wong kito galo pare

Dari kiri, Nafis, Daya, Mardiana, dan Rudy, memeriksa banner WKGM yang baru dibuat di salah satu kafe tempat mereka berkumpul. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Tak jauh berbeda dengan pelajar lainnya, aktivitas sehari-hari mereka adalah les, nongkrong, dan pulang ke tempat kos. Berulang seperti itu terus. Hingga akhirnya sebuah gagasan mulia tercetus.

Mereka sadar tidak bisa hanya beraktivitas seperti itu saja. Harus ada sesuatu hal positif yang dilakukan. Rumusan ide pun mulai digodok bersama oleh sekitar sembilan orang anak.

“Akhirnya diputuskan untuk membuat sebuah kegiatan sosial. Yaitu dengan mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak di sekitar Kampung Inggris sini,” terang Rudy Saputra, salah seorang pendiri komunitas Wong Kito Galo Mengajar (WKGM).

Komunitas tersebut percaya bahwa ilmu tidak hanya harus dicari. Tetapi juga harus dibagi. Untuk itulah mereka memantapkan diri untuk bergerak di jalur sosial. Membagikan ilmu yang didapatkan kepada anak-anak sekitar tempat mereka berdiam.

Komunitas yang berdiri pada 2016 tersebut memulai semuanya dengan susah-payah. Mulai dari ditolak saat mengajukan proposal kerja sama dengan instansi setempat. Namun mereka tidak pernah berhenti mencoba.

Hingga akhirnya ada yang memfasilitasi. Di Balai Desa Sekoto, Badas. Pelajarannya sendiri disesuaikan dengan kurikulum dan tingkat kelas yang sedang digunakan anak-anak yang belajar.

Selang waktu berjalan, lokasi pembelajarannya pun berganti di MI Al-Hidayah yang berada di Desa Tulungrejo, Pare. Di sana mereka memanfaatkan fasilitas dari sekolah untuk mengajar anak-anak yang ada di sekolah itu.

Kerjasama dengan pihak sekolah memang sengaja dilakukan. Agar lebih memudahkan koordinasi dan teknis di lapangan. Murid-muridnya pun khusus yang bersekolah di MI tersebut. Berbeda dengan di tempat sebelumnya yang muridnya terdiri dari berbagai sekolah.

“Kalau seperti yang di Sekoto dulu muridnya sampai ratusan. Kami sendiri yang kebingungan untuk mengajarinya. Tetapi kalau bekerjasama dengan pihak sekolah lebih mudah koordinasinya,” aku pria asli Palembang tersebut.

Selanjutnya, berganti lagi sekolah yang bekerjasama dengan mereka. Yaitu dengan SDN 2 Tulungrejo, Pare. Tidak jauh berbeda, di sana juga lebih mudah melakukan koordinasi. Karena semua muridnya berasal dari sekolah yang sama.

Pengalaman mengajari anak-anak kecil menjadi hal yang berharga bagi para pengajar yang juga rata-rata masih muda tersebut. Beruntung bagi mereka yang memiliki latar belakang sebagai pendidik, tidak terlalu kaku ketika mengajar.

“Namanya juga mengajar anak-anak pasti banyak tantangannya. Apalagi untuk kami orang luar Jawa sangat terkendala dengan bahasa. Ada yang mengejek pengajarnya tapi malah manggut-manggut karena tidak tahu artinya,” kenangnya sambil tertawa lepas.

Ada sekitar 10 – 15 anak didik dalam setiap kelas yang dibagi. Per kelasnya ada sekitar 3 – 6 pengajar yang mendampingi. Mereka akan bergantian mengajar di depan anak-anak. Sedangkan yang lainnya akan mendampingi sang anak didik. Selain karena lebih efektif dan memudahkan penyampaian materi juga karena anak-anak di sana sangat aktif. Sehingga perlua usaha ekstra untuk mengajarnya.

Pola pengajaran yang dipilih tidak sekaku yang ada di sekolah. Mereka justru menyisipkan permainan dan kuis yang menarik bagi anak-anak. Mereka percaya, belajar dengan hati senang, ilmu akan diserap dengan gampang.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia