Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Kemacetan Jadi Momok di Jalan Brawijaya

09 Februari 2019, 15: 25: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

kemacetan

MENGULAR: Kepadatan kendaraan terjadi di Jalan Brawijaya pada jam-jam sibuk. Kendaraan mengular hingga sekitar 500 meter dari traffic light Jembatan Brawijaya. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA - Masa evaluasi lalu lintas di sekitar Jembatan Brawijaya sudah berlangsung satu setengah bulan. Dalam masa itu, satu hal yang paling terlihat adalah kepadatan yang parah di Jalan Brawijaya. Jalan yang langsung menuju jembatan dari arah timur. Terutama terjadi di jam-jam sibuk, seperti siang dan sore hari.

Bahkan, dari hari kehari, kepadatan itu kian parah. Kendaraan bisa mengular hingga di dekat kantor Satlantas Polres Kediri Kota. Padahal, dari lampu merah di timur jembatan, kantor satlantas itu mencapai 500-an meter!

Kondisi seperti ini membuat banyak warga kota yang mengeluh. Sebab, setiap melalui kawasan tersebut harus ekstra-waspada. “Pas siang hari saat pulang sekolah, Jalan Brawijaya selalu ramai. Harus lebih hati-hati,” kata Novan, salah seorang pengguna jalan yang ditemui kemarin.

Saat itu, aktivitas di Jalan Brawijaya memang sedang pada puncaknya. Sebab, jalan ini dikenal sebagai pusat bisnis. Banyak perkantoran dan bank yang berada di sepanjang jalan ini. Bahkan, ada dua kompleks ruko di jalan ini. Salah satunya hanya beberapa puluh meter dari traffic light.

Belum lagi bila jam pulang sekolah. Di jalan ini terdapat dua sekolah yang jumlah siswanya juga banyak. Yaitu SDK Santa Maria di sisi utara dan SMPK Santa Maria di sisi selatan. Nah, saat itu kepadatan bisa mengarah kepada kemacetan. Sebab, kendaraan yang melintas juga berbaur dengan kendaraan para penjemput.

Lebih parah lagi, masih banyak pengendara yang memarkir kendaraannya di dekat traffic light. Memang, dulu lokasi itu adalah tempatparkir. Namun, dengan dibukanya Jembatan Brawijaya dan ditambahnya lampu lalu lintas di perempatan itu, parkir di tepi jalan bisa sangat mengganggu.

“Harapannya pemerintah bisa segera mencari solusi untuk mengurangi masalah (kepadatan) ini,”  harap Novan.

Dari pantauan kemarin (8/2), kepadatan di Jalan Brawijaya terjadi pukul 13.00 WIB hingga 14.00 WIB. Kendaraan dari arah perempatan Jalan Dhoho harus mengurangi kecepatannya. Terlihat kendaraan mengular nyaris ke Mako Satlantas Polres Kediri Kota. Apalagi saat lampu merah menyala.

Sebelumnya, Kabid Manajemen Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Kediri Bagus Hermawan pernah menyinggung persoalan ini. Yaitu soal imbas pembukaan Jembatan Brawijaya di ruas Jalan Brawijaya. Menurutnya, saat ini gabungan organisasi pemerintah daerah (OPD) tengah melakukan kajian dan survei lapangan tentang dampak pembukaan Jembatan Brawijaya 1,5 bulan lalu ini. Yaitu Satlantas Polres Kediri Kota, dinas PUPR, dan dishub.

Menurut Bagus dishub bersama satlantas akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi. Dari evaluasi, uji coba pembukaan Jembatan Brawijaya juga menyebabkan dampak kepadatan di ruas Jalan Brawijaya serta Jalan Mayjend Sungkono.

Kepadataan ini disebabkan oleh sejumlah faktor. Yakni pada pagi dan siang hari, adanya penumpukkan kendaraan akibat parkir pengantar dan penjemput sekolah di kawasan SD/SMP Santa Maria Jalan Brawijaya. Juga parkir kendaraan pengunjung Taman Brantas di Mayjend Sungkono. “Juga pengunjung (Taman Brantas) yang menyeberang jalan sembarangan,” tegasnya.

Menurut Bagus, setiap ada traffic baru, selalu muncul hambatan baru. Sebab, yang dulu bisa jalan terus, sekarang berhenti. Hal itu juga terjadi di ruas Jalan Brawijaya.

Sebenarnya, sambungnya, arus lalu lintas di Jalan Brawijaya bisa lebih lancar.  Yang penting adalah pengguna jalan mau tertib berlalu lintas dan mematuhi rambu. Itulah kunci kelancaran arus lalu lintas.

Seperti lokasi parkir di dekat lampu merah. Padahal usai berfungsinya Jembatan Brawijaya marka parkir tersebut sudah dihapus. Namun masih saja ada kendaraan yang parkir di tempat tersebut.

“Tentunya itu sangat mengganggu kelancaran lalu lintas di sana. Dan itu merupakan salah satu budaya yang sangat sulit dihapuskan,” keluhnya. Menurutnya, jika masyarakat bisa sadar dengan tidak parkir kendaraan sembarangan, menyeberang pada tempat yang disediakan pasti kawasan itu akan lebih lancar.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia