Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Features

Tepis Stigma Buruk, Anak Punk Badas Bikin Aktivitas Kreatif 

Pamerkan Seni Ilustrasi Bernuansa Satir

08 Februari 2019, 19: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

punk kediri

KEGIATAN POSITIF: Komunitas anak-anak punk saat kegiatan cetak gambar ilustrasi pada kertas dalam kegiatan di halaman KUD Desa/Kecamatan Badas (3/2). (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Berawal dari insiden tiga anak mengaku punk yang memukul anggota klub sepeda onthel, komunitas punk Badas tergerak beraksi. Bukan bertindak radikal. Namun, mereka bikin acara positif. Di antaranya buka taman baca, ajarkan gambar ilustrasi, dan sablon.

IQBAL SYAHRONI

Minggu Siang itu (3/2), Jalan Desa/Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri sedang ramai. Banyak orang membawa sepeda motor, sepeda onthel, hingga berjalan kaki mengerumuni stan di halaman KUD Badas.

punk badas

KREATIF: Anak-anak punk di Kediri. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Dentuman suara musik dari tape recorder terdengar tak begitu keras. Hanya sebagai peramai tempat diadakannya acara tersebut. Terlihat beberapa tenda yang digunakan untuk memamerkan karya dari anak-anak punk di sana.

“Ada sekitar delapan komunitas yang hadir dan meramaikan acara,” ujar Azam, salah satu anak punk yang juga pemuda desa setempat.

Menurutnya, kegiatan tersebut diprakarsai oleh para pemuda punk asal Badas. Itu karena terjadi insiden tak mengenakkan beberapa waktu sebelumnya. Kejadiannya, ada tiga remaja berpakaian dan beratribut seperti anak punk tiba-tiba mengamuk di lingkungan desa.

Ditengarai mereka sedang dalam keadaan mabuk. Tiga berandalan itu memukul seorang anggota klub sepeda onthel Badas. Karena saat itu masih banyak warga di sekitar dan melihat kejadian itu, maka tiga anak yang mengaku “punk” tersebut langsung diusir keluar lingkungan desa.

Akibat insiden tersebut, warga yang resah memasang rambu larangan masuk bagi anak punk ke lingkungan desa. Hal tersebut membuat para remaja punk lain geram. Namun kegeraman mereka tidak berujung pada tindakan vandalism yang merusak seperti yang diresahkan warga.

Mereka sepakat membuat sebuah acara untuk mendekatkan diri dari remaja punk dengan warga Badas. “Kita tunjukkan pada warga bahwa punk bukanlah yang seperti dipikirkan dan stigma masyarakat yang cenderung negatif,” imbuh Azam.

Akhirnya, dengan persiapan minim pun dengan biaya pribadi yang dikumpulkan, Azam dan Khoirul Huda, dua pemuda punk asal Badas, berupaya membuat acara unjuk keterampilan dari punk lain di luar desa, bahkan dari luar kota. “Mulai dari Pare, Jombang, Malang, Sidoarjo, hingga Surabaya, semua diundang,” tuturnya.

Dari beberapa komunitas yang datang ke Badas, di antaranya adalah anak punk yang memiliki usaha seperti sablon kaus. Lalu ada yang bergerak di bidang seni menggambar. Dengan menggabungkan ilustrasi realita dengan dibumbui komentar satir, seperti sebuah kertas putih yang digambar dengan tinta hitam bertuliskan “Gemah Ripah Loh Jinawi, Tapi tidak Manusiawi”. Yang menurut pembuat gambar tersebut adalah, meski banyak kekayaan alam yang berada di bumi pertiwi, namun sifat nafsu manusia yang ingin menguasai membuat mereka lupa tentang tata cara berkehidupan.

Ada juga perpustakaan mini yang terdapat bermacam buku. Dengan tujuan meningkatkan angka literasi pada warga dan kawan-kawan punk yang hadir. Buku yang didapatkan, menurut Azam, dikumpulkan dari buku bekas milik teman-teman yang mau menymbang dan beberapa milik pribadi Azam.

Buku-buku tersebut bermacam-macam jenisnya. Ada yang bertemakan lingkungan, ada yang teknik fotografi, pengetahuan tentang teknik, hingga novel maupun komik. Tujuannya pun sama, yakni mengajak gemar membaca.

“Dengan membaca kan bisa menambah ilmu, bisa mengerti mana yang benar dan yang salah, membaca adalah salah satu bagian dari punk,” terangnya sambil bercanda.

Selain itu, Azam juga menjelaskan bahwa atensi dan dukungan dari warga Badas sangat besar. Bahkan, banyak anak kecil dan remaja desa lain yang datang untuk meramaikan acara tersebut.

“Anak-anak desa senang bermain dengan cetakan, mereka diajari oleh beberapa kawan dari komunitas punk, lalu kertas hasil cetakan mereka bawa pulang untuk kenang-kenangan,” papar Azam.

Dengan banyaknya respons positif warga, Azam mengaku, senang. Dia berharap, agar stigma negatif warga lain, tidak hanya di Badas tentang punk, bukan selalu yang negatif. “Ke depannya akan rutin diadakan acara seperti ini, mungkin bukan di tempat yang sama, bisa jadi ke tempat teman teman punk di kota lain,” imbuhnya.

Azam menjelaskan bahwa dengan adanya acara tersebut, masyarakat dan anak punk bisa menilai. Bahwa emosi bisa dituangkan melalui karya. Bukan dengan menumpahkan kekesalan dan merusak di jalanan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia