Selasa, 25 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Events

Berobat pada Kiai

08 Februari 2019, 17: 03: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Dialog Jumat

Dialog Jumat

Share this          

Bagaimana hukumnya seseorang yang meminta bantuan pengobatan kepada seorang Kiai atau lama?

(Sadli, Nganjuk, 085731639xxx)

Jawaban:

 

Kesehatan adalah nikmat yang sangat agung dari Allah SWT di antara sekian banyak nikmat. Dan kewajiban kita sebagai seorang hamba adalah bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan kepada kita sebagaimana firman-Nya dalam QS Al Baqarah: 152 yang artinya ”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.

Salah satu cara kita mensyukuri nakmat-Nya adalah apabila kita ditimpa suatu penyakit kita berupaya mencari kesembuhan karena setiap penyakit ada obatnya. Banyak hadis yang menjelaskan hal itu, sebagaimana keterangan Imam Nawawi dalam kitab al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab yang  menuturkan beberapa hadis yang disabdakan oleh Rasulullah di antaranya:

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya dan menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan kalian berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud dari Abu Darda),  dan “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit kecuali diturunkan pula baginya obat.”

Dari kedua hadits tersebut bisa diambil satu kesimpulan bahwa ketika Allah memberikan satu penyakit kepada hamba-Nya maka kepadanya pula akan diberikan obat yang bisa menyembuhkannya. Tentunya orang yang sakit dituntut untuk berusaha mendapatkan obat tersebut agar teraih kesembuhannya.

Namun suatu hal yang juga mesti dipahami dan diyakini oleh setiap orang yang sakit, bahwa ketika ia telah berusaha berobat dan mendapatkan kesembuhannya maka ia mesti berkeyakinan bahwa yang menyembuhkan penyakitnya adalah Allah semata, bukan obat yang diminumnya atau perantara lainnya. Usaha berobat yang ia lakukan adalah hanya ikhtiar seorang hamba untuk mendapatkan anugerah kesembuhan dari Allah.sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Setiap penyakit memiliki obat. Bila cocok obat dengan penyakitnya maka akan sembuh dengan izin Allah Ta’ala.”

          Adapun meminta bantuan pengobatan kepada seorang kiai atau ulama memang lazim dilakukan kebanyakan dari kita terutama oleh orang awam. Hal ini berarti kiai atau ulama dimaksud harus diposisikan sebagai perantara karena kesembuhan mutlak adalah kehendak dan anugerah Allah semata, maka juga perlu dipahami bahwa  air putih yang didoakan kiai adalah sarana yang bisa dijadikan obat.

Dengan sarana yang mana seseorang yang sakit akan mendapatkan kesembuhannya hanya Allah yang tahu sesuai dengan kehendak dan izin-Nya. Oleh karena itu, sebenarnya meminta didoakan orang lain pada dasarnya tidak masalah, apalagi seorang kiai yang sholih yang tentu saja menjalankan syariat agama dengan benar, insya Allah doanya mustajab. Sebab hanya orang yang benar-benar menjalankan agama dengan benar saja yang insya Allah doanya diterima.

Sedangkan media meminum air yang sudah didoakan, memang ada khilaf di antara para ulama, beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendoakan seseorang dengan memintanya meminum air yang telah dibacakan doa atau ditiupkan ke dalamnya oleh beliau. Dengan dasar itu, ada sebagian ulama yang memandang bahwa praktik seperti itu dibenarkan. Wallahu A’lam Bish Shawab (Nurul Hanani, Dosen IAIN Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia