Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Nasib Candi Klotok setelah Ekskavasi Memprihatinkan  

Rawan Rusak karena Akar Tanaman 

08 Februari 2019, 16: 06: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

candi klotok

RAWAN RUSAK: Wiretno saat melihat kondisi Candi Klotok setelah diekskavasi lima bulan lalu di lereng Gunung Klotok, Kelurahan Pojok, Mojoroto, Kota Kediri, kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

KEDIRI KOTA - Kondisi Candi Klotok pasca-ekskavasi lima bulan silam cukup memprihatinkan. Sebagian bangunannya ditumbuhi rerumputan. Bahkan tak sedikit yang mengalami erosi kecil.

Kondisi terbuka setelah ekskavasi tampaknya membuat struktur candi di salah satu bukit Gunung Klotok itu terancam rusak. Meski telah diberi pengaman berupa kawat berduri, namun belum pernah ada perawatan. Wiretno, warga yang berkunjung ke candi itu, kemarin, menyebut bahwa kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan.

Menurut dia, keberadaan tanaman liar yang tumbuh di bagian candi mengganggu. “Takutnya rumput-rumput dan tanaman semak yang tumbuh lebat di atas punden (Candi Klotok, Red) bisa mempercepat pelapukan bebatuan. Sehingga merusak struktur candi atau punden,” paparnya.

Dari pantauan koran ini, tumbuhan liar itu memiliki perakaran yang panjang. Sebagian besar akarnya masuk ke celah-celah bagian dalam candi. Sehingga rongga di sejumlah titik sangat mudah terbuka.

Selain itu, kondisi pasca-ekskavasi yang membuat tubuh candi tampak jelas itu mengakibatkan paparan hujan langsung mengenai susunan struktur banguannya yang terbuat dari batu bata merah. Terjangan hujan sangat memungkinkan candi semakin keropos.

“Pihak terkait seharusnya melakukan pengawasan berkala. Seakan-akan candi ini hanya dipedulikan dan diperhatikan pada awal penemuannya (saat ekskavasi) saja,” ujar warga Kelurahan Bandarlor, Mojoroto ini.

Untuk itu, Retno berharap, Pemkot Kediri bisa membentuk badan khusus agar perawatan candi yang masih dalam proses pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur ini terpelihara. Sebab, dia khawatir, struktur batu bata dan benda-benda lain di lokasi bisa hilang.

“Kami sebagai warga Kediri selalu menunggu perkembangan dan pengelolaan cagar budaya ini,” imbuhnya.

Tentunya, lanjut Retno, pengelolaan itu harus sesuai ketentuan yang berlaku. Sehingga cagar budaya seperti Candi Klotok yang baru diekskavasi terjaga kelestariannya. Selain itu, dia berharap, jalur menuju lokasi diperbaiki. Mengingat tempat itu berpotensi sebagai tempat wisata cagar budaya Jawa Timur. Nantinya, dapat menjadi kawasan Cagar Budaya Kota Kediri di samping Gua Selomangleng yang tak jauh dari lokasi candi.

Sementara itu, Penggiat Budaya Kediri Novi Bahrul Munib membenarkan kondisi banyaknya rumput dan tanaman liar di struktur candi membahayakan. Sebab akarnya bisa saja merusak batu bata yang telah rapuh. “Kalaupun langsung dicabut, makah hancur (strukturnya, red). Bisa disemprot herbisida, biar rumputnya mati semua,” sarannya.

Atau bisa saja menunggu kemarau agar rumput benar-benar kering. Sementara terkait bangunan untuk menaungi candi, menurutnya, itu harus benar-benar dipertimbangkan. Sebab kondisi candi di atas bukit dengan angin yang berhembus kencang diperlukan model naungan yang tahan kondisi tersebut.

Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Disbudparpora Kota Kediri Endah Setiyowati menyebut bahwa pada tahun ini ekskavasi lanjutan oleh BPCB Jawa Timur bakal dilanjutkan. Namun kepastian waktunya, dia belum bisa memastikan. Yang jelas ekskavasi akan dilakukan nanti saat memasuki kemarau. “Kalau musim hujan seperti ini risikonya besar,” tegasnya.

Untuk diketahui, Candi Klotok untuk kali pertama diekskavasi pada September 2018. Candi yang diperkirakan dari era Kerajaan Kadhiri ini merupakan satu kawasan dengan Gua Selomangleng dan diprediksi sebagai tempat peribadatan. Sebenarnya masih ada sejumlah struktur lain disekitar candi utama. Namun BPCB Trowulan akan melakukan ekskavasi secara bertahap.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia