Sabtu, 25 May 2019
radarkediri
icon featured
Features

Marsel dan Rafael, Dua Murid SD yang Jadi Korban Tabrak Lari

Tak Sempat Pakai Caplokan Jaranan Buatan Ayah

08 Februari 2019, 14: 23: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

korban kecelakaan

TINGGAL KENANGAN : Sulaiman dan Wati, orang tua Marsel,  memperlihatkan foto putranya yang telah tiada. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Usianya masih belia. Namun, Marsel dan Rafael bernasib nahas. Kedua siswa kelas III dan V SD ini meninggal akibat tabrak lari. Meski bukan saudara kandung, semasa hidup keduanya adalah teman akrab. Mereka memiliki kegemaran yang sama, jaranan.

HABIBAH A MUKTIARA

Beberapa kerabat dekat maupun jauh masih memenuhi rumah Tanto Marsel Muktan, 9, dan Rafael Raditya Pratama, 11, di Desa Blaru, Kecamatan Badas, Rabu siang kemarin (6/2). Jarak kedua rumah itu hanya terpaut 50 meter. Mereka turut berbelasungkawa atas meninggalnya dua bocah tersebut.

rafael kecelakaan

BERDUKA: Suktikno dan Ama Wijayanti, orang tua Rafael, menunjukkan foto anaknya di rumah duka. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Marsel dan Rafael yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) nahas karena kecelakaan maut yang merenggut nyawanya. Sehari sebelumnya (5/2), kedua murid SD ini menjadi korban tabrak lari di Jalan Desa Blaru, Badas sekitar pukul 05.00 WIB.

Ketika Jawa Pos Radar Kediri bertandang ke rumah duka, Wati, ibu Marsel, lebih banyak diam. Sepertinya, hatinya masih terguncang mengenang anaknya yang telah tiada.

“Kemarin jam 05.00, Marsel dicari temannya. Semula saya cegah untuk dibangunkan karena masih pagi,” terang Sulaiman Rondip, ayah Marsel.

Namun Wati meminta agar membangunkan. Pasalnya, Marsel sudah ditunggu oleh dua temannya yang akan mengajak jalan-jalan. Kedua temannya itu adalah Rafael dan Waga. Mereka memang biasa jalan-jalan pagi ketika sedang hari libur. Waktu itu memang libur hari raya Imlek. Kegiatan itu hanya dilakukan di lingkungan desa, tidak sampai ke jalan raya.

Semasa hidupnya, Marsel tertarik dan senang pada seni jaranan. Bahkan siswa SDN Blaru I itu meminta ayahnya agar dibuatkan caplokan. “Padahal sudah saya bilangi, saya buatkan nanti kalau agak besar. Jadi biar tidak buat lagi waktu dewasa,” ungkap ayah dua anak tersebut.

Namun Marsel tetap meminta dibuatkan. Tidak bisa menolak permintaan buah hatinya, Sulaiman pun membuatkan caplokan. Namun sayang, belum sempat dipakai, Marsel telah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Sehari setelah Marsel meninggal, Tantan Mario Anando, 2, adiknya, mencari keberadaan kakaknya. Di rumah duka, bocah ini memandangi foto sang kakak. Dia memanggil-manggil namanya. “Mas, Mas,” kata Tantan sambil memeluk pigura berbingkai warna emas.

Di usianya yang masih batita, Tantan belum mengerti bahwa kakak yang sehari-hari mengajaknya bermain telah tiada. “Marsel itu kalau saya tinggal sebentar langsung sakit,” kenang Sulaiman.

Pernah setelah ditinggal sehari di rumah kakeknya, Marsel tiba-tiba jatuh sakit. Bahkan bocah yang sehari-hari bermain burung dara dengan teman-temannya itu tidak bisa tidur jika tidak dikeloni ayahnya.

Begitu pula dengan kedua orang tua Rafael, Suktikno dan Ama Wijayanti. Mereka pun tampak masih berduka ketika ditemui di rumahnya. “Saya saat itu yang membawa Rafael ke rumah sakit,” kenang Sutikno.

Pagi itu ayah dua anak tersebut memang mengetahui anak pertamanya akan jalan-jalan bersama dua temannya. Namun dia tidak menyangka mereka pergi hingga jalan raya. “Saat itu saya berangkat untuk menyemprot rumput, melihat sekilas di pinggir jalan raya,” tuturnya.

Tidak lama kemudian, Waga memberitahu terjadi kecelakaan. Mendengar hal itu, Sutikno langsung bergegas membawa sepeda motornya. Saat tiba di lokasi kejadian, ia hanya melihat tubuh Marsel tergeletak di pinggir jalan. “Lantaran saya tanya Waga di mana Rafael, dia mengatakan terpental tidak jauh,” aku Sutikno sambil berusaha menyembunyikan tangisnya.

Untuk melanjutkan ceritanya, Sutikno terlihat mengambil napas terlebih dahulu. “Melihat tubuh anak saya, sudah dalam keadaan berdarah-darah langsung saya bawa ke rumah sakit,” imbuhnya.

Rafael dibawa ke rumah sakit menggunakan sepeda motor. Sampai di RS HVA Toeloengredjo, Rafael sempat diberi oksigen hingga resusitas jantung paru-paru (RJP). Namun nyawanya tidak tertolong. “Sebelum meninggal, anak saya mengajak pergi ke Malang untuk melihat barongsai,” imbuh Sutikno.

Namu keinginan tersebut tidak terwujud. Sama seperti Marsel, Rafael pun senang dengan kesenian jaranan. Dia juga minta ayahnya membuatkan caplokan. Rafael dan Marsel dikuburkan di lokasi yang sama di tempat pemakaman umum desa setempat meski tidak berdampingan. Rafael dimakamnkan di sebelah neneknya, Sutami. Kini orang tua Rafael dan Marsel hanya bisa berharap, agar pengemudi pikap yang menabrak putranya segera ditemukan dan dihukum setimpal dengan perbuatannya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia