Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis I

Legenda Kebo Iwa di Watu Tulis

Misteri Gunung Air di Mata Wabup Masykuri (2)

06 Februari 2019, 19: 33: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

NUANSA DEWATA: Wabup Masykuri berada di prasasti bertuliskan Kebo Iwa yang masih area Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo. Di lokasi itu nuansanya terasa bersuasana Bali. (MASYKURI For radarkediri.id)

Share this          

Lokasi yang satu ini berada di lereng Gunung Wilis. Menjadi jujugan sejumlah warga Bali. Kenapa? Inilah yang juga membuat penasaran Wabup Masykuri. Datang dan melihat langsung ke lokasi yang lekat dengan budaya Bali ini pun dilakukannya. Berikut penuturannya.

Kali kedua saya mendapat kesempatan naik ke Gunung Wilis lagi pada pertengahan November tahun lalu. Tepatnya 17 November 2018. Bersamaan dengan tim Ekspedisi dari Jawa Pos Radar Kediri. Tetapi, karena saya ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan dan kondisi yang kurang fit, saya mengantar keberangkatan teman-teman dari Watu Prongos.

Saya pun ikut naik. Tapi, tidak melalui jalur yang saya pernah lalu sebelumnya. Sekitar perjalanan 1,5 kilometer dari Watu Prongos, saya berpisah dengan tim ekspedisi lainnya. Saya memilih jalur lain yang memang ingin saya datangi. Yaitu Watu Tulis.

Jaraknya sekitar 1 kilometer dari tempat berpisah dengan teman-teman. Bersama dengan lima orang lainnya, saya menuju lokasi tersebut. Memang, jaraknya hanya 1 kilometer. Tapi, lagi-lagi, Wilis memang benar-benar penuh tantangan. Selama perjalanan itu, penuh dengan tanjakan. Ada jalur yang sudah dibuka, tetapi tetap saja banyak ilalang. Mungkin, memang jalur-jalur ke Puncak Wilis ini memang masih jarang dilewati.

Begitu sampai, di lokasi ini memang terasa suasana Bali-nya. Ada kain dengan corak kotak-kotak putih dan hitam khas Pulau Dewata membebat sebuah batu raksasa yang berbentuk unik, seperti potongan batu besar yang sengaja di hujamkan. Sisi atasnya lebih besar dari bawahnya. Yang sangat disayangkan, banyak tulisan-tulisan dan coretan yang tidak jelas di batu itu. Sungguh memprihatinkan. Andaikan saja coretan-coretan itu bisa dihilangkan mungkin akan lebih indah dilihat. Saya yakin, mereka yang mencoret bukanlah orang yang mencintai alam.

Satu batu prasasti tidak jauh dari batu raksasa itu. Dari situlah, bisa dikenali nama batu tulis itu yang ternyata berkaitan dengan legenda Kebo Iwa. Legenda yang cukup dikenal masyarakat Bali. Saya pun  tertarik mengenali legenda itu.

Jadi, legenda ini berkaitan dengan mahapatih di sebuah kerajaan di Bali, yaitu Bali Aga. Saat itu, pada zaman Majapahit, sekitar abad 8, saat Mahapatih Gadjah Mada dengan sumpah palapanya ingin mempersatukan Nusantara, masih terganjal untuk menaklukkan Bali Aga.

Di kerajaan yang dipimpin raja yang sangat arif yaitu Sri Ratna Bhumi Banten itu memiliki patih, yang lebih senior dari Gadjah Mada. Namanya Kebo Iwa. Nyaris tidak ada yang berani menghadapinya karena Kebo Iwa dikenal memiliki kemampuan mumpuni.

Di salah satu ceritanya, konon Gadjah Mada akhirnya membuat strategi. Kebo Iwa diundang ke Kediri dengan janji akan dinikahkan dengan putri Majapahi t yang cantik. Setelah dibujuk, akhirnya mau datang ke Kediri. Kebo Iwa pun jatuh cinta dengan putri Kediri. Dan Kebo Iwa boleh menikahinya asalkan membuat sumur tanpa bantuan manusia.

Sebenarnya, itu strategi dari Gadjah Mada untuk membunuh Kebo Iwa. Saat sumur jadi, Kebo Iwa pun masuk ke sumur dan ditimbun. Ternyata, dengan kemampuan Kebo Iwa, dia tidak mati. Akhirnya terjadi adu kesaktian dan berjalan peperangan. Berhari-hari tidak selesai.

Gadjah Mada menyadari kemampuan luar biasa dari Kebo Iwa. Tetapi, akhirnya, selama perang itu, Kebo Iwa yang mampu menerawang masa depan, dia melihat harus mengalah karena niat Gadjah Mada dengan sumpah palapanya yang ingin menyatukan nusantara tanpa harus menanggung malu karena kalah dari dirinya. Karena itulah, Kebo Iwa pun mengalah. Batu tulis itulah yang dipercaya digunakan untuk menutup jasad dari Kebo Iwa.

Saat ini Batu Tulisnya dirawat. Meski begitu, saya melihatnya sih itu batu penyumbat magma. Bukti terjadinya letusan Gunung Wilis entah di tahun berapa. Saya khawatir kalau GunungWilis nanti meletus. Akan benar-benar membahayakan.

Dari dua kali pendakian ini, saya menyadari Gunung Wilis benar-benar penuh misteri. Banyak kisah menarik yang masih tersimpan. Tak hanya tentang kisah legenda, tetapi juga flora dan faunanya. Selama perjalanankemarin, saya masih melihat ada jejak celeng, kijang, dan mendengar suara burung yang masih langka. Bahkan, saat malam, sesekali saya masih mendengar auman singa.

Karena itu, recananya, saya akan kembali naik dengan melalui jalur yang berbeda. Kali ini, saya lewat Sumber Podang di Desa Joho, Kecamatan Semen. Tapi, memang butuh waktu cukup lama karena perjalanan masih harus tiga hari. Banyak potensi wisata yang ingin saya lihat. Memang, saya penasaran dengan air terjun dan Goa Lawean, Petilasan Syech Bela Belu,  Gapura Mlawang, dan Situs Cikar Guling. Rencanaya saya akan kembali naik dengan anak saya Umam yang juga senang mendaki seperti saya.

Meski penuh misteri, saya merasakan kalau Wilis masih bersahabat. Asalkan, yang perlu diingat teman-teman pendaki atau yang ingin naik ke Wilis, adalah selama di hutan dan di gunung, jangan pernah berlebihan. Jangan terlalu gembira dan jangan terlalu sedih. Yang wajar-wajar saja ya.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia