Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis I 

Gara-gara Penasaran Kisah Romusa Jepang

Misteri Gunung Air di Mata Wabup Masykuri (1)

05 Februari 2019, 13: 24: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

PENASARAN: Wabub Masykuri (tengah) dengan latar belakang Gunung Wilis. (Masykuri for radarkediri.id)

Share this          

Mencintai alam dan petualangan, membuat Wakil Bupati Kediri Masykuri bertekad untuk menyusuri Gunung Wilis. Rombongan Wabup Masykuri juga  menjadi kelompok pendaki pertama yang naik ke gunung air ini. Dalam Radar Kediri-Gudang Garam Ekspedisi Wilis I, Wabup Masykuri juga ambil bagian. Berikut penuturannya tentang Gunung Wilis.

Dari sekian banyak gunung yang pernah saya daki, bagi saya, Gunung Wilis menjadi salah satu gunung yang membuat saya sangat penasaran. Selain karena ada di Kediri, juga karena saya penasaran setelah mengobrol dengan warga setempat.

Mereka bercerita tentang dahulunya, saat penjajahan Jepang, banyak warga yang mengangkut barang naik ke atas (Gunung Wilis). Yang sekarang dikenal sebagai kerja romusa. Konon, benda-benda yang dibawa ke atas itulah yang digunakan untuk membuat Gua Jepang. Selain itu, mereka juga disebut membuka hutan untuk membangun landasan pesawat. Saat itulah, saya berkeinginan kuat untuk naik. Padahal, belum banyak yang pernah naik.

Singkat cerita, saya akhirnya mengunggah rencana naik ke Wilis itu melalui akun facebook saya. Kami sepakat naik pada 28 Oktober 2017. Hari yang memang saya pilih sekaligus untuk merayakan hari  Sumpah Pemuda.

Ternyata responnya cukup luar biasa. Begitu tiba hari yang dimaksud, ternyata peserta di acara dadakan itu sangat banyak. Kaget saya. Sampai 45 orang, padahal tidak ada undangan.

Setelah doa bersama, kami pun berangkat pukul 09.00 WIB. Membawa enam orang porter, kami naik dengan pembagian empat kelompok. Masing-masing sekitar 11 orang. Maklum, beberapa di antara kami ada yang jarang hiking. Bahkan, ada yang baru pertama kali mendaki gunung. Saya hanya bilang “Santai saja...jalannya datar-datar saja”.  Padahal, saya tahu jalan yang akan saya lewati nanti akan cukup berat. Hehehe..

Saat berangkat, awalnya terasa menyenangkan. Tanjakan pertama atau kilometer pertama itu sudah sambat semua. Ketinggiannya memang curam. Saya hanya bisa terus memberi motivasi. Jalur yang saya lalui terasa masih ‘perawan’. Kami harus terus menyibak semak yang menutup jalan dengan membawa sabit. Dan sepanjang jalan banyak ditemui pacet. Hewan yang membuat saya benar-benar geli. Lihat saja caranya bergerak, dan membayangkannya menyedot darah..wahh..

Tanjakan pertama memang dirasakan berat bagi rombongan. Jalannya sudah banyak yang terseok-seok. Saya terus memberi semangat. Karena Gua Jepang, tempat yang kami tuju masih jauh. Hingga kami menemukan lokasi lapang, yang kami duga sebagai landasan pesawat. Biasa disebut warga setempat Ngebrakan. Lokasinya yang lapang dan tanpa peneduh sama sekali membuat kami terus berjalan.

Setelah itu, kami melewati jalan sempit panjang yang di kanan kirinya berupa jurang dengan kedalaman 100 meter. Saya menyebutnya Jembatan Ogal-agil. Karena memang jalurnya yang sempit. Membuat harus hati-hati. Kalau salah jalan sedikit saja dan terpeleset, jatuh ya berbahaya.

Setelah itu, sekitar pukul 12.00, perjalanan sampai ke sebuah lembah dan ada sungainya. Banyak anggota rombongan yang sengaja mengambil air. Di tempat inilah, kebetulan stok air yang kami bawa memang sangat  terbatas. Tapi, kalau saya sih sengaja tidak mengisi air dan memaksimalkan stok air yang ada. Dan di tempat ini...lagi-lagi...saya melihat banyak sekali pacet. Memang karena kondisi lahannya yang lembap. Tempat yang disukai pacet.

Akhirnya, rombongan bersantai sebentar di sekitar sungai, setelah itu perjalanan kembali dilanjutkan dengan mengikuti jalan air. Jalurnya  naik. Medannya cukup berat. Banyak ilalang. Jalan pun masih harus merangkak. Saat ini, banyak yang mulai kecapekan dan menyerah. Kalau saya memilih untuk jalan terus. Namun ada pula yang memilih istirahat hingga dua jam karena sangat kelelahan.

Akhirnya saya sampai di bukit alang-alang sekitar pukul 16.00. Di tempat ini menjadi tempat istirahat. Dari tempat ini belok ke kiri ke Alas Puspa dan kalau ke kanan adalah Gua Jepang. Saya mencoba mendatangi keduanya.

Sesuai namanya, saya membayangkan Alas Puspa menjadi tempat yang indah. Begitu saya datangi ternyata tempatnya lembap. Meski begitu, terasa indah sekali karena pohonnya tinggi-tinggi. Konon, pohon puspa itu mampu meredam sinyal radar. Menahan radar. Rekayasa yang sengaja dibangun oleh Jepang. Terasa semakin indah karena sebelumnya tidak terlihat pohon. Ini langsung ketemu pohon yang tinggi tegak lurus dan daunnya lebat.

Kalau Gua Jepang, tempatnya agak turun. Perlu ndlosor kalau turun..hehehe. Di pelataran ini menggoda untuk jadi tempat istirahat. Ada sumber air juga. Di pelataran Gua Jepang itu ada cetakan-cetakan 40x40 cm. Saya juga tergoda untuk istirahat. Tetapi,begitu dibersihkan, kaget saya, banyak pacet. Akhirnya saya membatalkan niat saya untuk beristirahat di tempat itu.

Begitu masuk ke Goa Jepang, saya menjadi percaya, kalau warga yang naik dan membawa material ini memang digunakan untuk membangun gua ini. Karena gua ini terlihat sebagai gua buatan. Sengaja dibangun Jepang dengan tempat yang nyaman. Tempatnya datar. Ada material-material beton yang terlihat yang dulu dibawa oleh warga.Melihat itu saya percaya, tempat itu juga digunakan Jepang untuk menyimpan perbekalan selama masa perang. Dimasukkan ke gua itu. Selain itu, juga digunakan untuk tempat peristirahatan.

Puas melihat dua tempat yang membuat penasaran, kami akhirnya putuskan untuk pulang. Banyak anggota rombongan yang takut untuk turun. Banyak yang ‘awang-awangen’ takut ketinggian. Akhirnya mereka berjalan merambat.

Berangkat pukul 08.00 WIB, kami sampai ke lokasi sekitar pukul 13.00 WIB. Sempat kejadian ada yang terjebak di lubang tikus hingga terkilir. Syukurlah, dengan pijatan dari tour leader dan ramuan khusus, akhirnya perjalanan bisa dilanjutkan. Padahal, saya sudah khawatir kalau sampai turun harus dibopong.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia