Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Korupsi Taman Hijau SLG: Ada Tanda Tangan Palsu  

05 Februari 2019, 13: 13: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

korupsi taman hijau slg

BEBER KASUS: Suasana usai persidangan di PN Tipikor Surabaya. (Andhika Attar - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN - Proyek pembangunan Taman Hijau SLG dinilai sudah cacat sejak awal. Alasannya, surat penawaran lelang tidak ditandatangani sendiri oleh Dirut PT Harvindo Utama Mandiri (HUM). Tanda tangan yang dibubuhkan memang tertera Rustam, sang dirut. Namun, yang melakukan itu adalah Ahmad Safi’i. Ahmad Safi’i sendiri adalah sosok yang menjadi perantara peminjaman bendera PT HUM oleh terdakwa Joko Prayitno.

“Kalau tanda tangan surat penawaran itu palsu, otomatis kontraknya proyek itu sudah cacat prosedur,” kata Budiarjo Setiawan, penasihat hukum (PH) terdakwa Heny Dwi Hantoro.

Pengacara asal Mrican, Kota Kediri ini, tidak hanya menganggap proyek tersebut cacat prosedur saja. Menurutnya, proyek tersebut juga cacat secara kewenangan.

korupsi

Korupsi Taman Hijau SLG (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri.id)

Pasalnya Safi’i bukanlah orang yang berwenang membubuhkan tanda tangan tersebut. Seharusnya tanda tangan surat penawaran tetap dilakukan oleh Rustam selaku dirut PT HUM.

Namun kenyataannya tidak seperti itu. Safi’i memalsukan tanda tangan Rustam untuk mengikuti proses lelang proyek Taman Hijau SLG.

Selain itu, pria yang akrab disapa Budi itu juga menyikapi terkait adanya “pinjam bendera” PT HUM untuk mengikuti proyek. Menurutnya, hal itu juga menjadi sebuah kesalahan tersendiri. “Ini kan sudah melanggar peraturan tentang pengadaan barang dan jasa. Kan nggak boleh itu (pinjam bendera),” hematnya. Oleh karena itu, Budi meyakini bahwa proyek tersebut telah cacat hukum sejak awal proses tersebut.

Fakta baru tersebut diketahui saat persidangan pemeriksaan keterangan saksi pada Kamis (31/1) lalu. Bertempat di ruang Cakra PN Tipikor Surabaya, jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan enam orang saksi. Dua di antaranya adalah Safi’i dan Rustam.

Keduanya diperiksa secara bergantian oleh Hakim Ketua Dede Suryaman. Dede sempat dibuat bingung dengan keterangan keduanya yang saling bertolak belakang. Hingga akhirnya Dede mendesak Safi’i terkait surat penawaran lelang yang dibuat untuk proyek tersebut.

Setelah beberapa kali didesak dan diberikan pertanyaan yang berulang-ulang, Safi’i pun mengakuinya. “Saya menandatangani surat penawarannya atas nama Pak Rustam,” jawab Safi’i setelah mendapat desakan majelis hakim pada saat persidangan berlangsung.

Mendengar pernyataan Safi’i tersebut, Dede sontak tercengang. “Ini muncul lagi baru ini. Belum dapat delegasi tapi membuat surat atas nama bapak (Rustam, Red) untuk ikut klarifikasi. Legal standing-nya sudah tidak betul,” tegas sang hakim ketua.

Untuk diketahui, pada persidangan kasus dugaan korupsi pembangunan Taman Hijau tersebut juga menghadirkan ketiga terdakwa. Yaitu Didi Eko Tjahjono, Joko Prayitno dan Heny Dwi Hantoro. Ketiganya akan kembali mengikuti persidangan pada Kamis (7/2) mendatang. Agenda persidangan masih dengan pemeriksaan saksi dari JPU.

Banyak Cacat di Proyek Taman

-         Terjadi pemalsuan tanda tangan pada surat penawaran lelang. Pemalsuan itu akan berimplikasi pada cacat prosedur, cacat kewenangan, dan legal standing salah.

-         Legal standing salah karena belum adanya delegasi dan pemalsuan tanda tangan oleh perantara, Safi’i.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia