Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Features

Imlek di Kediri, Ratusan Lampion Menyala Selama Setahun

Simbol Keberuntungan, Rezeki, dan Kebahagiaan

05 Februari 2019, 11: 07: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

imlek di kediri

MERAH: Seorang petugas memasang label nama di tiap-tiap lampion. Lampion tersebut bakal terus menyala hingga tahun depan. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA- Perayaan tahun baru Imlek  kali  ini terasa lebih semarak. Setidaknya itu terlihat di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Kota Kediri. Suasana perayaan menyambut tahun babi tanah di kelenteng tersebut diwarnai dengan ratusan lampion warna merah. Lampion-lampion itu tergantung hampir di semua bagian kelenteng. Bahkan hingga di tepi Jalan Yos Sudarso.

Total lampion yang dipasang adalah 200 buah. Tahun lalu jumlahnya tak sebanyak itu. Selain lampion, ratusan batang lilin juga memenuhi ruang ibadah kelenteng tersebut.

Menurut Ketua Yayasan Tri Dharma Kelenteng Tjoe Hwie Kion Prajitno Sutikno, dua benda itu tak terpisah dalam perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Lampion dan lilin. Lampion menjadi semacam atribut penanda peralihan tahun dalam penanggalan Tionghoa. Untuk tahun ini, ada lebih dari 200 lampion yang di pasang, dan mulai dinyalakan sejak kemarin.

kelenteng

KHUSYUK: Warga berdoa di kelenteng. (Didin Saputro - radarkediri.id)

“Jumlahnya lebih banyak daripada tahun lalu. Lampion dan lilin ini bermakna sebagai penerangan bagi kami,” katanya saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Menurutnya, Imlek kurang meriah tanpa kehadiran lampion yang menghiasi kelenteng dan rumah-rumah warga keturunan Tionghoa. Dari sejarahnya, tradisi memasang lampion sudah ada di daratan Tiongkok sejak era Dinasti Xi Han. Sekitar abad ke-3 masehi. Munculnya lampion hampir bersamaan dengan dikenalnya teknik pembuatan kertas.

Lampion pada masa-masa awal memang diperkirakan telah menggunakan bahan kertas. Selain juga kulit hewan dan kain. Lampion mulai diidentikkan sebagai simbol perayaan tahun baru dalam penanggalan Tionghoa pada masa Dinasti Ming. Saat ini, di Indonesia lampion sudah melekat dan menjadi tradisi warga Tionghoa dalam merayakan Imlek. Di Kediri sendiri, menurut Prajit belum ada orang yang memproduksi lampion.

“Kami beli dari luar kota. Ada yang dari Surabaya juga dari Semarang,” sebutnya.

Lampion di kelenteng yang dituanrumahi oleh Makco atau Tian Shang Sheng Mu  ini sudah mulai dipasang sejak satu minggu sebelum perayaan Imlek. Sementara lilin baru di pasang beberapa hari ini. Sinar cahaya merah dari lampion, terang Prajit, memiliki makna filosofis. Nyala merah lampion menjadi simbol pengharapan bahwa di tahun yang akan datang diwarnai dengan keberuntungan, rezeki, dan kebahagiaan.

Di lampion tersebut juga di pasang nama-nama umat Tri Dharma yang telah memesan lampion jauh-jauh hari. Tiap satu lampion satu nama. Bahkan ada yang satu keluarga. Dan akan dinyalakan satu tahun ke depan.

Dari legenda dari Tionghoa, menggambarkan bahwa lampion sebagai pengusir kekuatan jahat yang disimbolkan dengan raksasa bernama Nian. Memasang lampion di tiap rumah juga dipercaya menghindarkan penghuninya dari ancaman kejahatan.

Perayaan Imlek di Kota Kediri memang terpusat di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong. Sementara, kemarin malam, sembahyang tutup tahun dimulai pada pukul 19.30 WIB. Sedangkan sembahyang buka tahun dilakukan pada 24.00 WIB. Selain sembahyang, di halaman kelenteng juga diselingi penampilan barongsai. Hari ini umat Tri Dharma pada pukul 19.30 WIB akan melakukan sembahyang She Jiet Mi Lek Hud atau Budha Maitreya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia