Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Korupsi Taman Hijau SLG: Kubu Joko Merasa di Atas Angin

Anggap Kesaksian Dirut PT HUM Meringankan

03 Februari 2019, 14: 04: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

sidang korupsi taman hijau

DISKUSI: Joko Prayitno (kiri) berbincang dengan Yuliana, penasehat hukumnya, di sela-sela sidang kasus dugaan korupsi Taman Hijau SLG di PN Tipikor Surabaya (31/1). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

SIDOARJO - Walaupun berbelit-belit, kesaksian Direktur Utama (Dirut) PT Harvindo Utama Mandiri (HUM) Rustam, dianggap menguntungkan Joko Prayitno, salah satu terdakwa kasus korupsi Taman Hijau SLG. Sebab, keterangan Rustam memperjelas posisi kliennya yang tidak memalsukan dokumen PT HUM untuk lelang.

“Jadi proses lelang tersebut telah sesuai dengan prosedur yang ada,” kata Yuliana Heriati Ningsih, penasihat hukum (PH) terdakwa Joko Prayitno.

Menurut Yuliana, pada awalnya ada asumsi bahwa kliennya memalsukan dokumen PT HUM untuk mengikuti lelang. Sementara, pada sidang Kamis (31/1) di PN Tipikor Surabaya, Rustam mengakui bahwa dokumen yang digunakan asli. Karena dia sempat meminjamkan pada seseorang.

Baca juga: Plastik oh plastik..

Terdakwa Joko sendiri memang meminjam dokumen milik PT HUM untuk mengikuti lelang tersebut. Atau, terdakwa melakukan peminjaman bendera PT HUM untuk lelang proyek tersebut.

Pada sidang itu, Rustam sempat membuat majelis hakim geregetan. Menyusul keterangannya yang berubah-ubah dan berbelit-belit.

Awalnya, Rustam mengaku dokumen asli untuk kualifikasi selalu dibawanya. TAk pernah diberikan ke orang lain. Namun ketika didesak oleh hakim ketua Dede Suryaman, ia mengubah keterangannya. Ia kemudian mengaku bahwa dokumen asli pernah dipinjamkan ke pihak lain.

“Dokumen perusahaan yang asli selalu bersama saya. Tidak pernah saya berikan kepada siapapun di luar sepengetahuan saya,” jawabnya setelah ditanya oleh majelis hakim di ruang sidang Cakra PN Tipikor Surabaya. Rustam dihadirkan sebagai saksi oleh JPU untuk memberikan keterangan terkait PT HUM yang menjadi pemenang lelang proyek tersebut.

Hakim Dede Suryaman bertanya kepada Rustam terkait dokumen perusahaan yang digunakan untuk mengikuti proses lelang proyek taman hijau SLG. Dede bertanya apakah dokumen yang digunakan pada saat kualifikasi tersebut asli atau hanya fotokopi.

Dede nampaknya bingung dengan jawaban yang diberikan Rustam. Pasalnya untuk mengikuti proses kualifikasi dibutuhkan dokumen asli dari perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan jika berdasarkan kesaksian Rustam, artinya dokumen yang dipakai untuk proses kualifikasi bukan yang asli.

Sejurus kemudian, Dede kembali mengulang pertanyaannya terkait keaslian dokumen. Ia pun sempat tercatat berulang kali menanyakan hal yang sama kepada Rustam. “Benar dokumen asli tidak pernah keluar di luar sepengetahuan anda? Yakin tidak pernah?” kejar Dede memastikan.

Rustam pun tetap dengan jawaban yang diberikan. Ia menegaskan bahwa dokumen asli selalu bersamanya.

Hakim ganti bertanya kepada saksi Ahmad Safi’I, orang yang mengurusi proses lelang PT HUM. Saat ditanya oleh Dede terkait dokumen yang digunakan dalam kualifikasi, keterangannya berbeda dengan Rustam.

Safi’i menegaskan bahwa dokumen yang digunakan pada saat kualifikasi adalah asli. Dede pun nampak kebingungan atas keterangan berbeda tersebut. Dede pun kembali mengkonfirmasinya kepada Safi’i dan jawabannya pun tetap. “Gimana ini, bingung saya,” celetuk Dede.

Sejurus kemudian, Dede langsung mengkonfrontasi keterangan Safi’i kepada Rustam. Dede mendesak Rustam mana yang benar antara dua kesaksian tersebut. “Bagaimana ini, dokumen asli tetap bersama dengan anda tidak? Pernah diserahkan kepada orang lain?” tanyanya.

Didesak oleh hakim, Rustam sempat kebingungan. Ia juga tergagap dalam menanggapi desakan Dede. Berulang kali didesak, Rustam pun memberikan keterangan yang berbelit-belit. Intinya ia mengaku bahwa dokumen asli tersebut sempat dipinjamkan ke orang lain. Hakim Dede pun semakin gemas.

Dalam sidang itu, ada enam saksi yang dihadirkan dalam persidangan. Dua di antaranya berstatus sebagai PNS di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri. Sedangkan empat lainnya dari pihak rekanan dan pelaksana proyek. Sedangkan terdakwa yang disidangkan dalam kasus tersebut ada tiga orang. Yaitu Didi Eko Tjahjono, Joko Prayitno, dan Heny Dwi Hantoro.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news