Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Plastik oh plastik..

03 Februari 2019, 13: 58: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

OLEH : PUSPITORINI DIAN H.

OLEH : PUSPITORINI DIAN H.

Share this          

Pernah menghitung berapa banyak jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Kota Kediri? Jangan..kata Dilan..”Itu berat..biar aku saja”. Ya..data dari Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri disebutkan kalau setidaknya 300 ton sampah yang dikelola oleh TPA tiap harinya. Jumlah yang luar biasa. Jadi bisa dimaklumi jika saat ini TPA yang berada di lereng Gunung Klotok itu pun telah overload.

Dari angka sampah yang berasal dari wilayah Kota Kediri itu, sebagian besar adalah sampah-sampah plastik. Sulit untuk didaur ulang. Kalaupun ada pasukan pemulung, mereka hanya mampu mengolah tak lebih dari 30 persen.

Angka itu baru dari TPA. Masih ada sampah yang dikelola ratusan bank sampah di Kota Kediri. Jumlahnya mencapai 159 ton sampah. Dengan jumlah sekitar 5 ribu nasabah. Lagi-lagi, sampah yang banyak dikelola bank sampah tersebut adalah plastik.

Bicara tentang plastik..apakah Anda beberapa bulan terakhir mengunjungi restoran fast food? Setelah memesan, jangan bertanya tentang sedotan. Karena mereka sudah tidak menyediakan. Tidak semua sih. Beberapa jenis minuman tertentu tetap tersedia sedotan yang sekarang diberikan langsung oleh pelayan.

Meski belum total, cara mereka patut diapresiasi. Bayangkan, sudah berapa ribu sedotan yang terbuat dari plastik itu akan terbuang sia-sia begitu selesai dipakai dan memenuhi tempat pembuangan sampah, sulitnya mengurainya, dan akhirnya menjadi beban ‘bumi’.

Teman saya, yang sudah berkomitmen mengurangi penggunaan plastik, sengaja membeli sedotan permanen yang terbuat dari stainless steel . Satu buahnya Rp 10 ribu dengan warna berbeda. Setiap hari, sedotan yang juga memiliki langsung pembersihnya itu selalu dibawanya ke mana-mana. Jumlahnya ada tiga buah.

Bahkan, dia langsung mencegah kalau ada temannya yang hendak menggunakan sedotan plastik. Stok sedotan miliknya pun disodorkan untuk digunakan. Sedotan kaku yang tidak bisa ditekuk dan dimainkan. Tapi, ternyata tetap nyaman digunakan.

Apakah perilaku itu berlebihan? Ya..tidak munafik. Awalnya terasa berlebihan. Tapi, setelah tahu betapa hal kecil dengan tidak menggunakan sedotan plastik dan menularkan ke orang-orang sekelilingnya membuat perilaku itu sekali lagi patut diacungi jempol. Setidaknya, pada hari itu, tiga sedotan plastik tidak akan terbuang sia-sia dan mengotori bumi.

Bayangkan, jika dalam sehari, ada tiga sedotan plastik yang batal digunakan, bagaimana kalau seminggu, sebulan, setahun dan puluhan tahun mendatang. Hanya karena hal sederhana. Hal sederhana lainnya. Kesampingkan sedotan. Minum saja langsung dari gelasnya. Simpel kan.

Saat ini, Pemkot Kediri akan berencana membuat aturan larangan penggunaan plastik. Memang sih baru rencana. Memang sih.. sudah banyak kota lain yang sudah menerapkan. Di Bogor, sudah ada larangan penggunaan kantong plastik di mal dan supermarket mulai Desember 2018.

Di Jakarta, larangan penggunaan plastik mulai diterapkan awal tahun ini. Sedangkan di Denpasar, Bali, sudah menerapkan aturan ini cukup lama. Jadi, di pusat pariwisata itu jangan berharap barang belanjaan Anda akan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Kalau Anda tidak membawa tas belanjaan, maka harus membeli tas nonplastik Rp 15 ribu.

Kembali..bisa dibayangkan, seandainya larangan ini sudah diterapkan di Kediri. Tentu saja, akan mengurangi beban sampah yang masuk ke TPA Kota Kediri. Jangka panjangnya, tentu saja lingkungan terjaga. Tak ada lagi kebingungan saat mengelola sampah plastik. Saat tak lagi ada lahan yang digunakan untuk membuang plastik. Tak lagi kebingungan antara membakar atau mendaur ulang.

Melihat hal ini, rasanya bukan lagi hal berlebihan, jika banyak hal kecil seperti pengurangan sampah plastik ini memang harus dilakukan. Kapan memulainya? Apakah menunggu aturan larangan diberlakukan? Selamat memulai hal kecil untuk kepentingan masa depan Bumi ini. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia