Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Features

Agus Toriq, Tingkatkan Kesejahteraan Warga dengan Budidaya Cupang

Ubah Toko Jadi Rumah Ikan

03 Februari 2019, 13: 55: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

ikan cupang

BERGELANTUNGAN: Agus Toriq berdiri di dekat rak bambu yang digunakan untuk menempatkan ikan cupang milik kelompoknya. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Ibu-ibu di sekitar rumah Agus Toriq tak lagi membuang waktu secara percuma. Mereka menjadi plasma bisnis budidaya ikan cupang yang dipelopori Agus. Membantu menambah penghasilan mereka.

Desa Paron. Demikian nama desa tempat tinggal Agus Toriq ini. Letaknya di Kecamatan Ngasem. Atau, dari Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) yang terkenal itu, hanya berjarak sekitar dua kilometer ke arah barat. Atau arah menuju Kota Kediri.

Di salah satu sudut desa, tepatnya di RT 4 RW 2, hampir di setiap rumah penduduknya ada ruangan ikan berukuran sekitar 3 x 4 meter. Di dalamnya terdapat kantung-kantung plastik berisi air. Lengkap dengan ikan-ikan cupang di dalamnya. Ikan yang dikenal sebagai ikan aduan.

Ya, Desa Paron dikenal sebagai sentra pembibitan ikan cupang. Di desa ini terdapat 12 petani yang membudidayakannya. Belasan petani ikan cupang tersebut, semua bergabung dalam kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Desa Paron. Petani-petani yang tergabung dalam kelompok tersebut mayoritas adalah ibu-ibu rumah tangga. “Pertama dulu hanya satu orang yang memulai ikut untuk pembesaran,” terang Agus Toriq, 49. Agus adalah pelopor budidaya cupang di desa ini. Dia adalah Ketua Pokdakan Desa Paron dan mulai merintis usaha tersebut pada 2005. Dia mengembangkan model bisnis inti-plasma. Para petani menjadi plasma yang membesarkan ikan-ikan dari Agus.

Melihat ikan cupang yang tumbuh cepat, membuat ibu-ibu tersebut tertarik. Merkea pun banyak yang beralih membudidayakan ikan cupang. Bahkan ada warung dan toko perancangan yang diubah menjadi rumah ikan cupang.

“Kebanyakan banyak yang tertarik dengan halfmoon,” ujar Agus menyebut salah satu jenis ikan cupang yang paling banyak disukai petani. Dan memang, jenis ikan ini merupakan salah satu yang paling banyak dicari orang. Dengan bentuk ekor melengkung menyerupai bulan separo.

Budidaya ikan capung tergolong mudah dan cepat. Mulai dari telur hingga panen, membutuhkan waktu 40 hari. Media yang digunakan juga relatif murah. Yaitu plastik 1 kilogram, yang digantung di rak kayu. Penggunaan kantung plastik tujuannya adalah menghemat tempat dan lebih murah. Juga memudahkan proses pembersihan.

“Yang sulit adalah mencari cacing sutra ketika sedang musim hujan. Di mana ketika banjir sukar untuk ditemukan,” ungkap Agus menceritakan sedikit kesulitan dalam mencari pakan ikan cupan.

Setiap plasma akan mengambil cacing sutra ke tempat Agus menetaskan telur ikan. Dalam satu hari, cacing sutra yang digunakan untuk memberi makan ikan cupang bisa mencapai 100 hingga 500 liter. Ikan hanya perlu diberi makan sekali dalam sehari.

“Ibu-ibu (petani plasma, Red) hanya mengambil pakan dan peralatan di sini,” jelas Sri Lestari, 45, istri Agus, yang saat itu sedang memberi makan.

Untuk penjualan ikan cupang ini tak hanya sampai luar kota saja. Tapi juga sampai ekspor ke Abu Dhabi dan Amerika Serikat. Sementara untuk pasar lokal bisa menjangkau Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Sidoarjo, dan Surabaya. “Padahal ketika saya awal mencoba jualan harganya masih Rp 1.750. Namun sekarang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per ekornya bila untuk pasar ekspor,” imbuh Agus.

Khusunul Azizah, 47, salah seorang petani, mengaku bergabung pada kelompok ini sejak 2013. Ibu rumah tangga tersebut rela mengubah toko prancangannya menjadi tempat budidaya ikan cupang. Hasil yang diperoleh lumayan. Cukup untuk membantu perekonomian keluarga. “Alhamdulillah, saat ini bisa menghasilkan sendiri dan dapat membantu meningkatkan ekonomi keluarga,” jelasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia