Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Pasien DB Penuhi Rumah Sakit

Ratusan Anak Jalani Perawatan

01 Februari 2019, 14: 17: 55 WIB | editor : Adi Nugroho

PERAWATAN INTENSIF : Pasien anak yang sedang dirawat di Ruang Galuh RSUD Gambiran karena terserang demam berdarah, kemarin (31/1).

PERAWATAN INTENSIF : Pasien anak yang sedang dirawat di Ruang Galuh RSUD Gambiran karena terserang demam berdarah, kemarin (31/1). (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA- Jumlah pasien penderita demam berdarah dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran Kota Kediri terus merangkak. Hingga kemarin, total ada 180 pasien yang telah ditangani. Anak-anak masih mendominasi penderita penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Humas RSUD Gambiran Nitra Sari menyebut bahwa jumlah pasien itu terhitung hingga (30/1). Sebagian besar warga Kabupaten Kediri. “Terutama anak-anak, yang dari kabupaten ada 128 pasien,” katanya saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Hal ini karena posisi RSUD Gambiran juga sangat dekat dengan kabupaten. Terutama bagian selatan. Seperti dari Kecamatan Ringinrejo, Kandat, Ngadiluwih banyak yang ke RSUD Gambiran.

Bahkan ada sejumlah pasien dari Kecamatan Mojo yang notabene berada di barat sungai juga merujuk ke sana sebagai tempat berobat. “Bahkan warga Kecamatan Udanawu, Blitar juga ada yang sempat dirawat di sini,” imbuh Nitra.

Sementara untuk pasien dari Kota Kediri, lanjut Nitra, ada 46 pasien yang sempat dirawat di RSUD yang terletak di Jalan Kapten Pierre Tendean itu. Sisanya ada enam pasien dari luar daerah. Mereka rata-rata adalah pelajar luar kota yang sekolah di Kota Kediri. Lebih lanjut, penambahan pasien ini tentunya berpengaruh terhadap penuhnya ruangan yang ada di sana.

“Misalkan di ruang anak ini penuh, kita bisa titipkan ke ruang lain. Yang terpenting pasien tetap tertangani di dalam ruangan. Jangan sampai di lorong,” tegasnya.

Pasalnya hal tersebut sangat memengaruhi kondisi pasien. Sekaligus untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien yang dirawat di rumah sakit milik pemerintah tersebut.

Hal ini juga disampaikan Kepala Ruang Galuh (ruang khusus anak) Sumariyati, dengan bertambahnya pasien dalam satu bulan terakhir. Maka pihak rumah sakit menambah jumlah ranjang pasien. “Kita mulai desember akhir sudah pembukaan bed. Kita tambah 11 bed,” sebutnya.

Lanjut Mariyati, ruangan PICU (Pediatric intensive care unit, red) yang sebenarnya untuk anak intensif, karena ada peningkatan pasien DB, akhirnya pihaknya membuka ruang PICU tersebut untuk penanganan pasien. Bahkan hampir semua ruangan di gunakan. Di mana sebenarnya ruang khusus anak di lantai tiga saja. Namun karena bertambah, sejumlah ruang di lantai dua juga digunakam untuk menampung pasien tersebut.

“Khusus anak ada di ruang Dhaha B, Jenggala B, Kilisuci, kemudian IGD lantai 2. Kita kondisikan untuk menampung pasien DHF (DBD, Red) ini,” paparnya. Hingga kemarin, masih ada 15 pasien yang ada di lantai dua atau ruang IGD. Namun nanti jika di lantai tiga ada beberapa yang kosong akan di geser ke lantai tiga tersebut. Bahkan kemarin sudah ada sejumlah pasien yang sembuh dan diperbolehkan pulang.

Sementara itu, tak hanya di Kota Kediri, rumah sakit yang ada di wilayah Kabupaten Kediri juga dipenuhi pasien demam berdarah. Hingga kemarin (31/1), total ada 139 pasien yang telah ditangani. Dibanding dengan orang dewasa, nyamuk Aedes Aegypti lebih suka menyerang pasien anak-anak.

Humas RSUD Pare Dr Budi Sanjaya menyebut bahwa pasien itu terhitung hingga (30/1). Pasien didominiasi warga Kabupaten Kediri. “Kalau total pasien sekarang diperkirakan sekitar 50 anak,” ungkapnya.

Meski terdapat peningkatan jumlah pasien, namun masih belum ada catatan pasien meninggal karena DBD di RSUD Pare. Membeludaknya pasien di rumah sakit, dikarenakan pihak rumah sakit tidak bisa menolak setiap pasien yang datang. Tetapi hal tersebut juga terdapat persetujuan dari pasien juga. “Kalau mau ditangani dalam kondisi terbatas (duduk atau di lorong rumah sakit) ya tidak apa-apa,” ungkap Budi.

Karena jumlah bed hanya terdapat 200, banyak pasien yang harus menunggu di IGD. Tidak hanya di lorong-lorong , bahkan ruang beberapa ruang kusus di isi oleh pasien. Dari empat pasien balita yang masuk karena demam, Aska, 5, yang masuk sekitar pukul 11.00 WIB terbukti positif terkena penyakit DBD. Ini dikarenakan jumlah trombosit pada sel darah turun sekitar 79000.  “Sebelum masuk rumah sakit, anak saya (Aska) sempat demam selama empat hari,” terang Nurul. Budi menambahkan, berdasarkan data sepuluh tahun. Memang sudah diprediksi bahwa jumlah pasien DBD tahun ini akan mengalami kenaikan. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia