Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Puluhan Hektare Sawah Diserang Tikus

Petani Terancam Gagal Panen

29 Januari 2019, 13: 33: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

DIMAKAN TIKUS : PPL Desa Paron Yayuk Anisa mengecek tanaman padi yang mati dimakan hama tikus di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, kemarin (27/1).

DIMAKAN TIKUS : PPL Desa Paron Yayuk Anisa mengecek tanaman padi yang mati dimakan hama tikus di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, kemarin (27/1). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN- Serangan hewan pengerat kembali menyerang puluhan hektare (ha) sawah di Desa Paron, Kecamatan Ngasem. Padahal sebelumnya sawah di sana sempat aman setelah adanya “bom” tikus.

Namun, kini hama pengerat tersebut kembali menghantui. Para petani pun terancam gagal panen. Menurut M. Saumal Abidin, 41, salah satu petani di Desa Paron, mengakui, efektivitas “bom” tikus sangat hebat. Bahkan mampu membunuh tikus yang ada di satu lahan pertanian sekitar 90 persennya.

Abidin memasang bom tersebut pada 20 lubang yang ada di lahan sawahnya. Hasilnya, 18 lubang di antaranya tidak ada lagi tikus yang berhasil bertahan. Alias mati semuanya.

“Sayangnya, ketersediaan produk tidak ada lagi sekarang. Sehingga banyak tikus yang kembali lagi ke sini. Dalam sekali beranak, bisa sekitar enam hingga sepuluh ekor,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di rumahnya selepas dari sawah kemarin siang.

Lebih lanjut, menurut Abidin, berkat bom tersebut sawahnya sempat aman dari hama tikus selama 8 – 9 hari. Kini, ia kebingungan mencari obat pembunuh hama serupa. Pasalnya bom tikus tersebut mengandung potasium. Salah satu bahan yang tidak diperjualbelikan secara bebas.

Oleh karena itu, Abidin berharap, agar segera bisa kembali mendapatkan bom tikus tersebut. Setidaknya, jika memang sudah tidak diproduksi lagi, ia ingin memproduksinya sendiri. Tentunya atas izin dinas atau instansi terkait.

“Soalnya kalau pakai racun tikus sudah tidak mempan. Tikus sudah banyak mengenali dan bisa menghindarinya,” paparnya.

Jika tidak segera mendapatkan tindak lanjut, Abidin khawatir lahan persawahan di desanya akan lebih banyak lagi yang rusak. Pasalnya, hanya beberapa hari ada tikus di sana, sudah terlihat beberapa titik yang padi yang mati. “Kalau dibiarkan terus ya bisa hingga 50 persen yang gagal panen,” keluhnya.

Sementara itu, Yayuk Anisha, petugas penyuluh pertanian (PPL) Desa Paron mengatakan, pihaknya juga sudah mengusahakan stok barang tersebut. Namun permasalahannya, bom tikus tersebut merupakan terobosan dari pihak Kementerian Pertanian. Begitu pun dengan stok barang tersebut juga merupakan kiriman langsung dari pusat.

“Sekarang hama tikus juga sudah mulai menyerang tanaman jagung juga. Tak hanya padi yang dirusaknya,” ungkapnya. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia