Minggu, 25 Aug 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Cegah Cagar Budaya Kian Pudar

Jaga Kelestarian, Kebijakan Pemkot Diperlukan

28 Januari 2019, 19: 21: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

BERSEJARAH: Yudi, penjaga malam kantor Kelurahan Pakelan, menunjukkan halaman yang dahulu tempat latihan barongsai di kawasan pecinan.

BERSEJARAH: Yudi, penjaga malam kantor Kelurahan Pakelan, menunjukkan halaman yang dahulu tempat latihan barongsai di kawasan pecinan. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA- Peran pemerintah daerah (pemda) sangat berpengaruh dalam menjaga kelestarian cagar budaya. Termasuk di Kota Kediri. Semakin banyaknya peninggalan sejarah yang tak terurus membuat sejumlah pihak prihatin. Apalagi saat bangunan tua di Kota Tahu itu mulai banyak yang dipugar.

Padahal sebagai salah satu kota yang kaya sejarah dan budaya, Kediri memiliki kesempatan memperoleh predikat Kota Pusaka dan Budaya. Itu bisa menjadi aset pemkot dalam pelestarian kebudayaan.

Hal tersebut diungkapkan Kasi Program dan Evaluasi Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Iqbal. “Kediri merupakan salah satu wilayah tua di pulau Jawa dan merupakan salah satu titik awal peradaban,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Iqbal menyampaikan bahwa Kediri telah memiliki pegangan, di mana Kerajaan Kadiri yang sangat terkenal bisa menjadi satu nilai tambah. Termasuk pada era pergerakan kolonial Belanda. Kediri menjadi salah satu kota penting di pulau Jawa karena ditopang aliran Sungai Brantas sebagai peradaban lalu lintas perdagangan.

“Ini harus diangkat, karena di Kediri ini bukti sejarahnya sangat kuat dan tidak kalah dengan sejarah-sejarah di kota lain bahkan luar negeri,” tegasnya.

Tak hanya itu, sejak zaman dahulu Kediri memiliki akulturasi budaya yang berjalan dengan baik. Sangat jarang ada konflik masyarakat di kota ini. Bahkan dalam menjaga kearifan lokal, Iqbal pun memberikan pesan agar budaya damai di Kota Tahu bisa terjaga dengan baik.

Termasuk menjaga budaya, baik berupa benda, bangunan maupun kesenian agar tetap lestari. “Pemkot Kediri harus bisa menggandeng penggiat budaya dan komunitas kesejarahan yang ada di kotanya. Itu sangat baik dan penting dilakukan demi menyosialisasikan pentingnya sejarah dan budaya disuatu kota,” jelas Iqbal.

Hal ini, menurutnya, tak lepas dari informasi tentang objek pemajuan kebudayaan di masing-masing daerah yang dinilai sangat penting dalam menentukan strategi pemajuan kebudayaan nasional. Oleh karenanya, pemerintah pusat mendorong pemda agar bisa segera menyelesaikan pokok pikiran kebudayaan daerah (PPKD).

Sejauh ini, ada sejumlah bangunan di kawasan bersejarah Kota Kediri yang baru saja dipugar. Paling banyak adalah bangunan pribadi di kawasan Pecinan. Bangunan tua yang masih tersisa dan memiliki arsitektur khas, di antaranya adalah Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, SMKN 2 Kediri, kantor Kelurahan Pakelan, Bangunan Perkumpulan Rukun Sinoman Dana Pangrukti, dan masih banyak lagi bangunan pribadi yang usianya lebih dari 50 tahun.

Sementara di kawasan karesidenan (barat Sungai Brantas) ada bekas rumah dinas Kolonel Surahmat yang kini jadi warung makan. Bagian depan pun telah diubah bentuknya. Selain itu, ada SMAN 1 Kota Kediri. Meski bentuknya sama, namun usai dipugar, kondisi dinding tidak mencerminkan bangunan kuno. Termasuk bangunan pengadilan dan Benteng Blokhuis yang kini menjadi Markas Polres Kediri Kota. Dua bangunan tersebut sudah mengalami pemugaran.

Lebih lanjut, Iqbal mengatakan, pemkot harus bisa menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air bagi anak muda, stakeholder, dan masyarakat di kotanya. Pemkot harus berkaca pada UU Nomor 11/2010 dan UU Nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Di sini kembali lagi ke kemauan pemdanya, mau apa tidak untuk melestarikan kebudayaan yang ada,” tandasnya.

Iqbal pun berharap, Pemkot Kediri berani menyosialisasikan rencana perwujudan Kota Pusaka dan Budaya kepada masyarakat luas. Sekaligus pemda diharapkan mampu mengajak masyarakat menjaga dan melestarikan cagar budaya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia