Minggu, 15 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

SMAN 3 dan SMKN 3 Jadi Sekolah Inklusi

Luar Kota Tidak Perlu Rekomendasi

26 Januari 2019, 17: 10: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

BISA LANJUTKAN: Atlet inklusi  saat bertanding dalam paralympic di Stadion Brawijaya, Desember lalu.

BISA LANJUTKAN: Atlet inklusi saat bertanding dalam paralympic di Stadion Brawijaya, Desember lalu. (Ramona Valentin - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI- Siswa inklusi di sejumlah SMP Kota Kediri kini punya pilihan untuk melanjutkan sekolah. Tahun ini, dua SMA/SMK di kota ini akan membuka layanan inklusi. Yaitu SMAN 3 Kediri dan SMKN 3 Kediri.

Menurut Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jawa Timur Wilayah Kediri Sidik Purnomo, saat ini pihaknya tinggal menunggu turunnya surat keputusan (SK) gubernur terkait hal tersebut.

“Kemungkinan sebelum PPDB SK Gubernur turun. Kami juga siapkan pelatihan khusus untuk kepala sekolah dan guru di sekolah bersangkutan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri di ruangannya, kemarin.

Sidik mengatakan, dua sekolah tersebut akan menambah dua SMA/SMK inklusi yang sudah ada selama ini. Yaitu, SMKN 1 Ngasem dan SMAN 1 Grogol. Keduanya di wilayah Kabupaten Kediri. Layanan inklusi di sana dibuka sejak 2017. “Jadi, total tahun ini akan ada empat sekolah inklusi,” katanya.

Sidik menerangkan, keberadaan sekolah inklusi tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak disabilitas dengan intelegensi tinggi dalam menempuh pendidikan. Hal itu berbeda dengan sekolah luar biasa (SLB). Walaupun, sasaran peserta didiknya sama-sama siswa disabilitas.

“Kalau anak disabilitas memiliki intelegensi yang mencukupi, sebaiknya menempuh pendidikan di sekolah reguler yang memberikan layanan inklusi,” terangnya. Sebaliknya, anak disabilitas dengan intelegensi yang kurang mencukupi, sebaiknya di SLB.

Hal ini juga bertujuan agar pihak sekolah mampu membantu anak-anak disabilitas dalam menggali potensi yang dimiliki. Mulai dari bidang seni, olahraga, sains, hingga bidang lainnya yang tersedia di SMK yang terpilih.

Untuk membuka layanan inklusi, lanjut Sidik, sekolah harus memiliki guru pendamping yang cukup. Mereka harus mengikuti diklat. Biasanya, diambilkan dari guru bimbingan konseling (BK).

Layanan inklusi yang berada di sekolah reguler terpilih ini diharapkan membantu anak-anak terebut dalam menentukan langkah selanjutnya. Yakni, langsung bekerja atau mau lanjut ke perguruan tinggi.

Sidik menambahkan, untuk bisa masuk ke sekolah inklusi tersebut, calon siswa dari lintas wilayah tidak perlu menggunakan surat rekomendasi. Bisa langsung menuju sekolah inklusi pilihannnya dan mendaftar sesuai prosedur. “Karena pendidikan inklusi ini berkelanjutan. Anak disabilitas yang memiliki kecerdasan juga bisa bersosialisasi dengan temannya yang non disabilitas,” tambahnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia