Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Jurnalis Kediri Desak Jokowi Cabut Remisi Pembunuh Wartawan

Kami Ikut Terluka

26 Januari 2019, 14: 13: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

demo aji kediri

SOLIDARITAS: Anggota AJI Kediri membentang poster mengecam pemberian remisi kepada Susrama di Memorial Park. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA - Protes atas pengurangan hukuman yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada I Nyoman Susrama, narapidana kasus pembunuhan wartawan Jawa Pos Radar Bali A.A. Bagus Narendra Prabangsa, meluas.

Kemarin, sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri menggelar aksi di Memorial Park. Mereka mengecam Keputusan Presiden (Keppres) No 9 Tahun 2018 tentang remisi tersebut. Hal itu dinilai mencederai nilai kemanusiaan.

“Ini merupakan bentuk kemunduran demokrasi sekaligus kemunduran kepemimpinan bagi kami. Karena kebebasan berekspresi adalah amanat undang-undang,” tandas Ketua AJI Kediri Agus Fauzul. Oleh sebab itu, AJI Kediri menuntut agar Jokowi segera mencabut keppres itu.

remisi pembunuh jurnalis

SEGERA CABUT: Aksi jurnalis AJI Kediri. (Didin Saputro - radarkediri)

Menurut Agus, pemberian remisi kepada pelaku pembunuhan jurnalis sangat menyakitkan. Bukan hanya bagi sesama jurnalis. Akan tetapi, juga masyarakat luas. Sebab, hal itu sama dengan membungkam masyarakat. Melukai nalar kritis mereka.

Seperti diketahui, pembunuhan itu dilatarbelakangi oleh berita kritis yang ditulis Prabangsa. Yaitu, kasus korupsi yang melibatkan Susrama dalam proyek-proyek di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli sejak awal Desember 2008 hingga Januari 2009. Salah satunya proyek pembangunan taman kanak-kanak dan sekolah dasar internasional. Susrama menjadi pemimpin proyeknya. Hal itulah yang kemudian kemudian Nyoman Susrama merancang pembunuhan Prabangsa.

Adimas Budi, salah satu jurnalis peserta aksi, menambahkan, keppres remisi itu merupakan bentuk kemunduran yang sangat tajam dalam membangun demokrasi. Di mana, kebebasan pers menjadi salah satu elemen penting di dalamnya.

Apalagi, dalam banyak kasus kekerasan terhadap wartawan, pelakunya belum bisa diusut tuntas. “Sedangkan ini, yang sudah dihukum, malah dikurangi hukumannya,” tandasnya.

Dia berharap, aksi kemarin bisa ikut memperkuat dorongan agar Jokowi membatalkan keputusannya. Jika tidak, dia yakin, aksi-aksi serupa akan semakin meluas di Indonesia.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia