Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Selera Makan Berimbas Pendapatan

PAD dari Sektor Kuliner Meningkat Tajam

25 Januari 2019, 17: 09: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

KONGKOW: Beberapa pengunjung menikmati fasilitas di salah satu restoran cepat saji yang ada di Kota Kediri, kemarin. Pendapatan dari sektor kuliner mengalami peningkatan seiring bertambahnya jumlah restoran maupun warung makan.

KONGKOW: Beberapa pengunjung menikmati fasilitas di salah satu restoran cepat saji yang ada di Kota Kediri, kemarin. Pendapatan dari sektor kuliner mengalami peningkatan seiring bertambahnya jumlah restoran maupun warung makan. (Ramona Valentin - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA- Soal selera terhadap makanan, warga Kota Kediri bisa jadi sangat luar biasa. Bisnis di sektor kuliner ini menjadi penambah peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) pada 2018 lalu. Bahkan peningkatannya mencapai hingga Rp 2,4 miliar!

“PAD restoran yang didapatkan meningkat. Dan pada 2018 lalu melebihi target,” kata Kepala Bidang Pendataan dan Penetapan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Heri S.P. Putro kemarin (24/1).

Menurut Heri, pada 2018 dari sektor kuliner itu diperoleh pendapatan sebanyak Rp 13,6 miliar. Sedangkan pada tahun sebelumnya ‘hanya’ Rp 11,2 miliar.

Peningkatan itu dipengaruhi oleh pertumbuhan bisnis kuliner saat ini. Hampir di semua kecamatan yang ada tumbuh baru restoran, cafe, katering, ataupun warung makan. Belum lagi yang menggunakan sistem daring (online). Kondisi seperti itulah yang membuat penerimaan dari sektor ini mampu  melebihi target. Karena pada 2018 target yang dipatok dalam APBD adalah Rp 10,8 miliar.

Heri menganalisis, kemunculan banyaknya tempat kuliner itu belum menunjukkan titik jenuh. Sebaliknya, warga terlihat masih mampu menerima kondisi itu. Apalagi pelaku bisnis kuliner juga pandai untuk menangkap peluang yang ada. Mereka tak hanya menjajakan kuliner yang bergantung pada rasa saja. Juga mengandalkan lokasi-lokasi dan interior menarik. Para pebisnis kuliner juga menjaring konsumen yang gemar ber-swafoto.

“Saya amati anak saya sendiri, kalau ketemu teman-temannya juga di cafe. Bisa karena sekadar makan dan ngobrol. Bisa juga memanfatkan wifi,” ceritanya sambil tersenyum.

Heri menambahkan bila era digital juga ikut mempengaruhi penerimaan itu. Terutama dari model pesan antar makanan ataupun melalui ojek online. “Sekarang juga ada warga yang jual makanan walaupun tidak punya tempat. Dimasak di rumah dari pesanan online,” jelasnya.

Pemkot sendiri mendapatkan pendapatan sektor kuliner melalui pajak restoran yang dikenakan. Nilainya sebesar 10 persen. Pajak itu menjadi biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen. Namun, pengutipannya melalui restoran-restoran ataupun tempat-tempat kuliner.

Sayangnya, pemkot masih belum memiliki data berapa banyak restoran, rumah makan, maupun tempat kuliner lain yang ada di Kota Kediri. Sebab, hingga saat ini mereka masih melakukan pendataan.

Sementara itu, salah seorang manajer restoran siap saji mengakui bahwa Kota Kediri merupakan pasar menarik bagi bisnis makanan. Dan itu dibuktikan oleh ekspansi yang mereka lakukan saat ini.

“Kami buka kedai di tiga kota. Surabaya, Malang, dan Kediri. Dan pasar tertinggi berada di Kediri,” kata Manajer Burger King Agus Fredrich.

Agus melihat konsumen di Kediri bagus dan beragam. Mulai dari anak sekolah hingga kalangan dewasa. “Walaupun banyak kompetitor saya lihat hampir semuanya memiliki pelanggan masing-masing,” akunya sembari tersenyum.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia