Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata di Pegunungan Wilis (6)

Buah Kepel, Pelengkap Konsep Agro-Forestry

25 Januari 2019, 16: 36: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

LANGKA: Yahmen menunjukkan buah kapel yang tumbuh menempel mengelilingi batang pohonnya. Buah langka ini akan jadi daya tarik bagi wisatawan.

LANGKA: Yahmen menunjukkan buah kapel yang tumbuh menempel mengelilingi batang pohonnya. Buah langka ini akan jadi daya tarik bagi wisatawan. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Buah yang tumbuhnya memenuhi batang pohonnya itu berwarna coklat muda. Dan menjadi lebih gelap ketika sudah matang. “Nantinya buah yang matang akan jatuh dari pohon dengan sendirinya. Namun kalau belum matang biasanya hanya menarik semut dan lebah madu pada bunganya,” terangnya.

Rumah pohon, taman bunga, gazebo, udara khas pegunungan, dan hutan pinus. Semuanya seperti paket lengkap bagi pengunjung yang datang ke Resor Kelir. Dan akan semakin lengkap karena konsep agro-forestry yang juga akan diperkuat.

Resor Kelir di Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Tempat wisata ini ke depannya akan terus melakukan pengembangan diri. Menjadi wisata alam yang benar-benar berkonsep alam. Yang tak mengubah kondisi alam.

Salah satu yang dipersiapkan adalah wisata edukasi ternak lebah madu. Berbagai macam jenis lebah dan madu yang biasa tinggal di wilayah hutan di Lereng Pegunungan Wilis itu akan diperkenalkan. Disiapkan sebagai daya tarik.

Bahkan, ikon Resor Kelir nanti adalah lebah madu. Karena itu, pihak Perhutani sebagai pengelola tempat wisata itu telah mempersiapkan cara untuk memancing lebah madu datang dari dalam hutan menuju ke Resor Kelir. Seperti memperbanyak tanaman bunga terompet atau bunga kaliandra di taman Resor Kelir.

Tidak itu saja, beberapa jenis buah-buahan yang sebelumnya berada di dalam hutan akan ditanam di lokasi wisata. Terutama tanaman yang menjadi penarik datangnya lebah madu. “Maka dari itu, nantinya akan ditanami bermacam macam buah yang sekiranya bisa tumbuh baik di dataran tinggi. Dan untuk menarik lebah madu masuk (ke lokasi wisata),” ujar Yahmen, staf Perhutani yang mengurusi Resor Kelir.

Hingga saat ini,di Resor Kelir sudah ada beberapa tanaman buah yang sedang tumbuh. Mulai strawberry, durian, mangga, hingga buah kepel. Semuanya dikembangkan untuk melengkapi konsep wisata agroforestry. Mengembangkan wisata tapi alam tetap lestari. Tanpa harus merusak ekosistem yang telah ada. Seperti menebang pinus atau pohon randu.

Yahmen menjelaskan, nantinya akan banyak buah kepel yang ditanam di taman. Terutama di lokasi budidaya lebah. Sebab, buah kepel ini adalah buah berasa manis yang menjadi makanan kesukaan lebah madu.

Yang menarik, pohon buah kepel termasuk langka di Indonesia. Sudah jarang tumbuh. Padahal, konon, buah ini adalah makanan kesukaan raja-raja zaman dahulu. “Orang Jawa menyebutnya kepel karena bentuknya seperti kepalan tangan,” terangnya.

Pihak pengelola sudah mempersiapkan tempat untuk menanam. Pohon buah kepel menjadi salah satu pohon yang akan dibudidayakan. Pohon yang tingginya bisa mencapai 25 meter itu juga dirasa akan menjadi daya tarik buah baru di sekitar wisata Lereng Pegunungan Wilis. Yang selama ini sudah terkenal dengan mangga podang dan duriannya.

Yahmen juga menjelaskan bahwa buah dengan nama latin stelechocarpus burahol itu bisa dicicipi para wisatawan. Namun, buah tersebut baru berasa manis bila benar-benar sudah matang. Ketika buahnya membentuk satu kepalan besar.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia