Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Pudarnya Ciri Khas Pecinan di Kediri

Banyak Bangunan Tua yang Alami Pemugaran

25 Januari 2019, 13: 26: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

pecinan kediri

TAK TERURUS: Pengendara sepeda melintas di depan bangunan tua di kawasan Pecinan. Banyak bangunan yang direnovasi dengan menghilangkan ciri khasnya. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA - Kondisi kawasan Pecinan Kota Kediri kian memprihatinkan. Ciri khas sebagai kawasan yang dihuni etnis Tionghoa sudah semakin pudar. Sebab, banyak bangunan tua bersejarah yang dipugar dan direnovasi. Ironisnya, renovasi gedung atau bangunan itu menghilangkan ciri khas lamanya.

Menurut keterangan warga, banyaknya bangunan tua yang mengalmai renovasi itu karena sudah banyak yang berpindah tangan. Terutama rumah-rumah yang dimiliki oleh perseorangan. Padahal, hingga saat ini belum ada peraturan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri terkait pelestarian bangunan yang layak masuk kategori cagar budaya tersebut.

“Ada yang masih milik pribadi keluarganya. Ada juga yang sudah dijual. Beberapa juga ada yang tidak berpenghuni,” terang Hermawan, warga Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota.

Pria 51 tahun ini juga menyayangkan apabila bangunan tua yang tersisa itu dipugar. Apalagi dirobohkan dan diganti dengan bangunan model baru. Sebab, menurutnya Pecinan ini sudah selayaknya menjadi kawasan yang dipertahankan ciri khasnya.

Pengamat sejarah Kota Kediri Achmad Zainal Fachris juga prihatin dengan kondisi Pecinan saat ini. Dia menilai selama ini memang tidak ada penjagaan terkait pelestarian bangunan di kawasan tersebut. “Seharusnya pemkot memberikan edukasi untuk melestarikannya. Minimal saat pemberian perizinan pembangunan,” tegasnya.

Dia menyebut bahwa kompleks Pecinan bisa sebagai penanda perjalanan sejarah Tionghoa di Kota Kediri. Di mana kawasan Pecinan tersebut sebagian besar ada di Kelurahan Pakelan. Mulai Jalan Dr Wahidin, Yos Sudarso, Monginsidi, Kyai Mojo, Trunojoyo, dan sekitarnya.

Dia melihat, memang ada beberapa bangunan di kawasan itu yang mulai dipugar dan direnovasi. Terutama di Jl Yos Sudarso. Hal itu membuat deretan bangunan yang berada di tepi jalan sudah tidak terlihat kuno lagi. Tidak tampak istimewa dan jauh dari kesan tua.

Penggiat Budaya Kediri Novi Bahrul Munib juga mengutarakan hal senada. Dia menyebut bahwa sebenarnya masih cukup banyak bangunan kuno di kawasan tersebut yang tersisa. Nah, bangunan yang tersisa dan masih bisa diselamatkan itulah yang kini harus tetap dijaga kelestariannya. “Maka dari itu tahun ini harus ada program pendataan dan kajian,” desaknya.

Bangunan tua yang masih tersisa dan memiliki arsitektur khas antara lain adalah Kelenteng Tjoe hwie Kiong, gedung SMKN 2 Kediri, kantor Kelurahan Pakelan, bangunan milik Perkumpulan Rukun Sinoman Dana Pangrukti, dan masih banyak lagi bangunan pribadi yang usianya lebih dari 50 tahun.

Jika melirik kota-kota lain, menurutnya, sudah cukup banyak contoh kawasan Pecinan yang secara resmi masuk daftar kawasan cagar budaya. Terutama di kota besar. Sementara di Kota Kediri kawasan Pecinan di sini sangat berpotensi menjadi kawasan cagar budaya. Sekaligus menjadi aset sejarah.

“Kalau di Kota Kediri secara de facto memang telah memenuhi kriteria. Namun secara de jure belum diakui,” jelasnya.

Untuk itu, kini tim penyusun pokok pemikiran kebudayaan daerah (PPKD) Kota Kediri sedang melakukan pendataan. Agar bisa melestarikan dan menghidupkan kembali kawasan Pecinan tersebut. Hal ini, menurut Novi, membutuhkan sinergi antara semua pihak. Baik Pemkot Kediri, kelompok pecinta kebudayaan, dan juga masyarakat secara umum.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia