Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Jaksa Hadirkan Empat Saksi

Tenaga Pelaksana Teknis Taman Hijau SLG

24 Januari 2019, 18: 06: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

ASRI : Pengunjung saat memberi pakan burung dara di Taman Hijau SLG, kemarin pagi (23/1).

ASRI : Pengunjung saat memberi pakan burung dara di Taman Hijau SLG, kemarin pagi (23/1). (Puspitorini Dian - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN- Empat tenaga pelaksana proyek pembangunan Taman Hijau Simpang Lima Gumul (SLG) akan hadir menjadi saksi pagi ini (24/1). Keempatnya dihadirkan jaksa terkait kasus korupsi taman yang menjerat tiga pegawai Pemkab Kediri ini.

“Itu merupakan perintah dari majelis hakim untuk menghadirkan saksi lanjutan besok (hari ini, Red),” ujar Kasi Intelijen Kejari Kabupaten Kediri Arie Satria Hadi Pratama melalui Kasubsi Penkum Seksi Intelijen Kejari Kabupaten Kediri Anang Yustisia kemarin siang.

Saksi yang diperiksa tersebut secara garis besar akan membahas terkait kesalahan atau kecacatan dalam pelaksanaan proyek tersebut. Yaitu mulai dari pengadaan, pelaksanaan hingga proses pengerjaan proyeknya itu sendiri.

Terkait identitas saksi, pihaknya enggan untuk menyebutkan identitas yang bersangkutan. Namun untuk pelaksana teknis itu sendiri diperkirakan adalah pejabat lelang, pengawas pembangunan dan pelaksananya.

Pihaknya menegaskan bahwa kewajibannya adalah untuk membuktikan apa yang menjadi dakwaannya. Dalam hal ini membuktikan bahwa ada kesalahan prosedur yang terjadi pada saat proses pengerjaan itu sendiri.

Selain menghadirkan saksi-saksi, pihaknya juga mengaku akan membawa sejumlah dokumen. Antara lain surat dan berkas yang terkait dengan dugaan kasus korupsi tersebut. “Dari situ nanti baru bisa masuk ke arah kerugian negara. Akan mulai kelihatan pada persidangan tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ketiga terdakwa Didi Eko Tjahjono, Joko Prayitno dan Heny Dwi Hantoro akan menjalani sidang secara bersamaan. Meskipun berkas perkara ketiganya di pisah, namun persidangan tetap dijadikan satu.

Menurut keterangannya, penggabungan tersebut dikarenakan majelis hakim dan JPU-nya pun sama. Sehingga persidangannya pun dijadikan satu. Terlebih pada persidangan kali ini tidak ada yang mengambil langkah hukum yang berbeda. Kali ini ketiganya sama memiliki agenda sidang yang sama.

Sebelumnya, Heny sempat mengambil langkah umum yang berbeda dengan kedua terdakwa lainnya. Heny bersama penasihat hukum (PH) mengajukan keberatan atas dakwaan JPU. Alhasil ia pun sempat menjalani agenda persidangan yang berbeda. Namun, eksepsi yang diajukan oleh Heny tidak dikabulkan oleh majelis hakim.

“Eksepsinya ditolak karena majelis hakim menilai surat dakwaan sudah sesuai dengan ketentuan dalam pasal 143 ayat 2 KUHAP,” terangnya. Oleh karena itu, Heny akan menjalani persidangan yang sama dengan Didi dan Joko hari ini.

Sementara itu Budiarjo Setiawan, PH Heny menegaskan bahwa kliennya dalam kasus tersebut hanyalah sebagai korban. “Klien kita di luar kemampuannya masuk dalam “gerbong” yang salah,” kelitnya.

Untuk diketahui, persidangan keterangan saksi sebelumnya JPU menghadirkan tujuh orang saksi pada Kamis (16/1). Lebih lanjut, ketiganya diduga terlibat dalam kasus korupsi pembangunan taman hijau SLG pada 2016 silam. Akibatnya, negara diperkirakan menanggung kerugian Rp 505 juta.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia