Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata di Pegunungan Wilis (5)

Siapkan Lebah Madu sebagai Ikon di Wisata Kelir

24 Januari 2019, 16: 51: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

SARANG TAWON : Yahmen mengeluarkan sarang lebah madu dari kotak yang banyak terdapat di Resor Kelir.

SARANG TAWON : Yahmen mengeluarkan sarang lebah madu dari kotak yang banyak terdapat di Resor Kelir. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Keanekaragaman hayati menjadi salah satu andalan dalam pariwisata di lereng Pegunungan Wilis. Tak hanya wisata alam yang mengetengahkan hijaunya pemandangan. Juga budidaya hewan ternak seperti lebah madu yang ditawarkan.

Warna-warni bunga sudah terlihat dari kejauhan. Jauh sebelum memasuki kawasan wisata Resor Kelir. Indah memikat mata. Menjadikan pemandangan begitu cantik, menyenangkan hati.

Tapi, sebenarnya, rumpun-rumpun bunga beraneka warna itu tak hanya secara khusus untuk dinikmati pelancong yang datang. Namun, aneka bunga yang ditanam di resor wisata yang berada di wilayah Desa Joho, Semen, Kabupaten Kediri itu juga untuk menarik ‘yang lain’. Yaitu para lebah.

Ya, lebah merupakan salah satu hewan yang sengaja diundang agar berdatangan. Karena serangga yang hidup secara berkoloni itu menjadi salah satu andalan dalam budidaya di lereng Wilis. Serangga itu secara khusus diternak. Untuk diambil madunya.

Menjadi peternak lebah adalah salah satu mata pencaharian sebagian besar warga lereng Wilis. Mereka banyak yang menjadi peternak lebah madu. “Banyak yang berada di dalam hutan untuk mencari madu. Banyak juga yang beternak lebah madu di rumah masing-masing,” kata Legiar, warga tepi hutan.

Namun, Legiar bukanlah peternak lebah madu. Lelaki ini memilih menekuni pekerjaannya sebagai petani. Juga bekerja sambilan sebagai pemilik warung kopi di Desa Joho.

Khusus aktivitas beternak lebah madu di tempat ini sudah ada sejak 1984-an. Biasanya, warga yang menernak lebah membuat kotak-kotak dari kayu. Di kotak itulah akan terisi sarang yang akan dihuni ribuan ekor lebah. Dalam sebulan, satu sarang itu bisa menghasilkan sekitar 3 ons. Bila sedang bagus, madu yang dihasilkan bisa lebih dari itu.

Yahmen, salah seorang pengelola Taman Wisata Resor Kelir, membenarkan hal itu. Dia bercerita bahwa aktivitas beternak lebah madu memang mulai marak pada tahun itu, 1984.  Dulu, sebelum ada wisata Resor Kelir, aktivitas angon lebah madu juga sudah ada. Yang menjadi titik kumpul koloni lebah itu dulu adalah taman bunga dan buah. Tempat itu kini adalah sekitar pintu masuk kawasan Resor Kelir.

“Sekitar tahun 1986 akhirnya dipindahkan dan dipusatkan di sini (di area wisata Resor Kelir, Red),” terangnya.

Pemindahan ke dalam area Resor Kelir bukan tanpa sebab. Ada alasan yang kuat bagi Perhutani menjadikan lokasi tersebut sebagai sentra budidaya lebah madu. Dengan iklim alam hutan Pegunungan Wilis dan banyaknya tanaman bunga dan tumbuhan yang berada di sekitar membuat semakin banyak lebah madu yang datang.

Kebanyakan, lebah yang diternak warga adalah jenis apis cerana. Biasa disebut oleh warga sekitar sebagai lebah madu lokal. “Dulu juga sempat ada jenis lebah apis mellifera, atau biasa disebut lebah unggul. (Tapi) sekarang masih difokuskan untuk budidaya lebah lokal,” terang Yahmen tanpa memberi alasan mengapa lebah unggul tak banyak dibudidayakan.

Selama ini, para peternak lebah madu menjual hasil panenan, berupa madu, langsung ke Perhutani. Perhutanilah yang kemudian memasarkannya. Namun, seiring dengan ramainya resor wisata tersebut sebagian peternak juga ada yang menjual langsung ke konsumen yang datang. Terutama para wisatawan.

Menurut Yahmen, ke depannya Resor Kelir akan lebih mengangkat wisata edukasi lebah madu. Tapi itu dilakukan secara bertahap. Upaya itu juga sebagai salah satu upaya mempertahankan hakikat wisata alam di tempat itu. Yaitu agar tempat wisata lebih memperkuat keberlangsungan ekosistem. Sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati.

Pihak resor pun akan menanami kawasan itu dengan berbagai tanaman bunga dan buah. Terutama yang menjadi santapan lebah madu. Dan, tujuan utamanya nanti Resor Kelir akan mengangkat lebah madu sebagai ikon wisata.

Beberapa jenis tanaman yang dibudidayakan seperti kaliandra dan bunga terompet. Dua jenis tanaman yang bunganya menjadi makanan utama lebah madu lokal. Dengan dipadu wisata edukasi dan produksi madu, Yahmen mengatakan Resor Kelir bakal lebih dilirik wisatawan.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia