Kamis, 27 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

-- Turutan --

24 Januari 2019, 15: 32: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

-- Turutan --

Share this          

Hoii…hoii… Ojo rame! Kancane sik ngaji…” Itu teriakan khas Mbah Kaji. Waktu Kang Noyo dkk guderan. Di emperan masjid. Setelah giliran nderes-nya selesai. Selepas Magrib. Dulu. Waktu masih kecil. Sambil menunggu waktu Isya tiba.

Tapi, namanya bocah cilik, mbok sampai suara Mbah Kaji serak, Kang Noyo dkk ya ndak nggabres. Paling-paling diam sebentar. Setelah itu guderan lagi. Bengok-bengok lagi. Ketawa-ketawa lagi. Lari-larian. Godak-godakan. Sambil, sesekali ada yang mengingatkan. Kalau tidak lupa. “Sssttt…ssssttt…ojo banter-banter. Nanti seneni Mbah Kaji.”

Dasar bocah. Jaman itu. Yang tipinya masih TVRI. Yang ndak sembarang wong punya telepon rumah. Apalagi HP. Dan gadget yang canggih-canggih. Makanya, langgar, masjid, adalah tempat yang paling dicari. Untuk mendapat teman. Untuk guyonan. Dolanan. Di serambinya. Di emperannya. Di halamannya. Sebelum atau selepas ngaji.

Yang agak longgar, santai, bocah-bocah yang masih level turutan. Itu adalah kitab tentang cara membaca Alquran. Dengan metode Baghdadiyah. Sebelum kemudian lahir Iqro’ dan metode-metode lainnya. Belajarnya butuh bantuan duding. Stick. Biasanya dari bilah bambu. Yang diserut. Untuk menandai panjang pendek ketukan.

Mulai dari mengeja alif, ba, ta. Lalu tanda baca. Lalu panjang pendeknya. Makhraj-nya. Pronunciation-nya. Tajwidnya. Sebelum kemudian merangkainya menjadi kata dan kalimat. Turutan, belumlah seberat Juz ‘Amma. Apalagi Alquran. Yang lebih sakral.

Di turutan, perdebatan soal kentut, ndak sekeras di Juz ‘Amma apalagi Alquran. Juz ‘Amma, juz yang dimulai dengan surat An Naba’. Yang ayat pertamanya adalah ‘amma yatasaa aluun’, “Tentang apakah mereka bertanya-tanya?”. Juz ketiga puluh dari Alquran. Yang biasa dijadikan kitab sendiri. Sebagai tingkatan ngaji setelah menamatkan turutan. Sebelum naik lagi ke Alquran.

Di turutan, bocah-bocah yang kentut, ndak terlalu ada yang merisaukan saat memegangnya. Membawanya. Karena isinya baru sebatas huruf-huruf. Paling banter rangkaiannya yang membentuk kata-kata. Belum menjadi kalimat. Ayat yang sempurna.

Di Juz ‘Amma, yang memperdebatkan juga masih seimbang. Karena Juz ‘Amma, biasanya, disertai terjemahan. Karena Juz ‘Amma juga dianggap sebagai bagian dari Alquran. Bagian. Bukan Alquran yang lengkap sebagai kitab.

Tapi, kalau sudah Alquran, bocah-bocah ndak berani sembarangan. Jika hendak memegangnya. Harus berwudu. Harus suci. Ndak boleh kentut. Ndak boleh batal. Dalilnya, karena Alquran adalah kitab yang suci.

“Lha terus iki piye?,” tanya Matgondrong waktu menjumpai Alquran yang tergeletak di dampar yang harus dikukuti. Untuk dirapikan. Semua hanya saling pandang. Karena sudah kentut semua. Malas untuk berwudu lagi.

Di situ, persoalan muncul. Di antara para bocah yang tumbuh tiap hari dengan asupan sego tumpang itu. Tapi, setiap persoalan, pasti akan menemukan jawabannya pula.

Begitulah, Dulkriwul yang ngajinya masih turutan justru punya ide. “Ayo, diangkat bareng-bareng dampare..” Dampar itu pun diangkat bersama. Oleh para bocah yang malas untuk berwudu lagi. Dipindahkan. Agar tempat dampar semula bisa disapu. Dirapikan.

Cuma, masalah ternyata belum selesai. Karena Alquran tetap harus dikembalikan ke tempatnya. Ndak boleh tetap di atas dampar.

Dan, lagi-lagi, Dulkriwul-lah yang punya ide. Tanpa banyak cakap, dia lepas sarungnya yang nglombrot. Lalu, tanpa menyentuhnya langsung, dibungkuslah Alquran itu. Dengan sarungnya. Dipindahkan ke rak penyimpanan Alquran.

Mission accomplished!

“Aku tidak menyentuhnya,” kata dia. Bangga.

***

Kelak, ide itu diterapkan Dulkriwul. Ketika menjumpai buku-buku yang tak boleh disentuh. Apalagi dibaca. Dia langsung membungkusnya. Dalam karung. Tanpa pernah menyentuhnya. Apalagi membacanya.

Dulkriwul, masih sampai turutan. (tauhid wijaya)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia