Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata di Pegunungan Wilis (2)

Banjir Peziarah dan Wisatawan setiap Jumat Legi

21 Januari 2019, 17: 13: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

GUA MARIA: Salah satu lokasi di Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang yang menyedot daya tarik pengunjung adalah Gua Maria Lourdess.

GUA MARIA: Salah satu lokasi di Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang yang menyedot daya tarik pengunjung adalah Gua Maria Lourdess. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Mendekati hari raya atau bulan suci umat Katolik, area wisata religi Gereja Katolik Santa Maria dan Gua Maria Lourdes mengalami peningkatan kunjungan. Tak hanya dari peziarah yang ingin beribadah saja. Tapi juga mereka yang hanya sekadar berwisata.

Suasana yang tenang, damai, dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Itulah suasana di sekitar tempat untuk berdoa di Gua Maria Lourdes di Puhsarang. Dan menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan untuk mengunjungi. Suasana itu pun tetap dijaga. Agar tidak mengganggu kekhusyukan umat Katolik yang sedang berdoa dan beribadat di tempat tersebut.

Meskipun ramai pengunjung, tetap saja suasana di sekitar Gua Maria Lourdes terasa hening. Seperti tidak perlu diingatkan lagi, jika ada orang yang sedang berdoa, maka orang lain yang tidak berdoa tidak boleh membuat gaduh. Toleransi terjaga antarumat.

Selain itu, pada malam Jumat Legi pun selalu diadakan malam misa tirakatan di Gua Maria Lourdes. Hal tersebut membuat lebih banyak pengunjung berdatangan. Pasalnya, malam misa tirakatan ini adalah penggabungan dari budaya Jawa dan agama Katolik. Suatu yang menarik bagi para pelancong dan pemerhati budaya.

Dilakukan pada Jumat Legi dipercaya sebagai hari yang baik untuk fokus untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Misa tirakatan juga dimulai tepat pada pukul 00.00 WIB. Dengan dimulai satu hari sebelumnya pada hari Kamis sekitar pukul 21.30 WIB.

“Biasanya peziarah akan berdatangan malah sejak sore hari. Dan mempersiapkan tikar atau alat bantu penerangan. Karena memang acara puncak dilakukan pada malam hari sekitar jam 12,” ujar salah satu penjaga keamanan di daerah tersebut

Hal tersebut tidak hanya untuk umat Katolik yang hendak mengikuti prosesi doa saja. Namun juga dari umat non-Katolik juga masih boleh berkunjung ke tempat wisata tersebut. Asal tidak mengganggu atau berbuat gaduh.

Ingin berbuat gaduh pun rasanya mustahil karena jika tidak datang sejak awal waktu, pada hari Kamis malam, wisatawan akan kesulitan untuk mencari tempat untuk mengikuti prosesi acara. Karena sejak siang sudah banyak para peziarah yang datang dan menggelar tikar di tempat agar lebih dekat dengan pemandangan saat prosesi.

Memang, Misa Tirakatan pada Jumat Legi adalah salah satu puncak dari para wisatawan dan peziarah mengunjungi Gua Maria Lourdes tersebut. Selain menikmati suasana malam yang masih kental akan udara alam, saat Misa Malam Jumat Legi para wisatawan disuguhi alunan musik gamelan khas Jawa yang digunakan sebagai pengiring lantunan lagu pujian.

Selain malam misa tirakatan yang rutin dilakukan pada Jumat Legi, juga pada Mei dan Oktober dilakukan peringatan Bulan Maria. Salah satu bulan suci umat Katolik. “Mei dan Oktober lebih banyak dari umat Katoliknya. Saya juga sering berkunjung ketika bulan tersebut karena memperingati Bulan Maria,” ujar Kevin Prasetyo, salah seorang pengunjung.

Bisa dibayangkan bagaimana ramainya ketika Malam Jumat Legi yang bertepatan Mei atau Oktober.  Altar dan tempat yang sudah disediakan tidak akan cukup. Biasanya, pengunjung akan berbondong-bondong ke Jalan Salib.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia