Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata di Pegunungan Wilis (1)

Kunjungan Tinggi, Ekonomi Warga Terangkat

20 Januari 2019, 13: 54: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

NUANSA ALAM: Salah satu sudut Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Bangunan gereja ini dibangun pada 1936. Tak sekadar jadi tempat beribadah. Juga menjadi destinasi wisata yang menarik turis dari mancanegara.

Hanya perlu sekitar 15 menit mengendarai motor dari pusat Kota Kediri. Cukup mengikuti petunjuk jalan. Tidak terlalu sulit. Dan kita akan sampai di Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang.

Dilihat sekilas dari luar bangunan, akan terlihat papan selamat datang yang cukup besar ketika memasuki kawasan wisata religi tersebut. Disambut dengan aroma persawahan yang berada di sekitar lokasi tersebut. Dengan angin dan kesejukan area lereng gunung, Gereja Katolik Santa Maria adalah salah satu destinasi wisata yang cukup ramai dikunjungi. Tak hanya oleh warga Kediri dan sekitarnya saja. Wisatawan dari luar kota pun juga banyak yang berkunjung. Bahkan, ada pula yang dari luar negeri.

“Tidak hanya dari umat Katolik yang memang datang untuk beribadah dan berdoa, namun juga wisatawan agama lain juga datang. Mereka menikmati pemandangan dan udara di sekitar,” ujar salah seorang warga Desa Puhsarang yang enggan mengenalkan namanya.

Jika melewati jalur utama maka para wisatawan akan diarahkan dengan Plaza Maria. Dihiasi dengan konsep bangunan bernuansa alam. Mulai dari lantai, tembok, hingga hiasan terbuat dari batu kali. Di tengah plaza tersebut ada bangunan berbentuk persegi panjang yang juga terbuat dari batu kali. Dengan patung Bunda Maria berada di atasnya. Patung itu dipayungi oleh atap.

Banyak wisatawan yang datang untuk bersantai di sekitar area sembari berfoto. Dengan latar bangunan gereja yang terletak di sebelah barat. Atau dengan patung Bunda Maria yang berada di tengah plaza tersebut. “Bisa dibilang setiap hari pasti ada pengunjung,” ungkapnya.

Pria berumur 40 tahun tersebut juga menjelaskan bahwa pada hari biasa, sekitar pukul 10.00 hingga 15.00 WIB daerah wisata Gereja Katolik Santa Maria ramai dikunjungi wisatawan. Tidak sekali langsung ramai dengan banyak orang, namun bertahap. Setiap hari pasti ada pengunjung.

Hal tersebut dirasa memberikan berkah bagi para pedagang yang berada di sekitar area. Entah itu pedagang yang membuka warung untuk kuliner bagi pengunjung, atau pedagang yang menjual pernak pernik khas kawasan wisata religi Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang.

Salah satu wisatawan asal Jakarta Timur, Abednego Giovani, menilai bahwa Gereja Katolik Santa Maria yang terletak agak jauh dari pusat keramaian kota adalah hal yang bagus. Ia menambahkan bahwa dengan datang ke tempat wisata itu, selain mendapatkan udara yang sejuk dan pilihan kuliner adalah kawasan oleh-oleh yang menunjukkan khas dari Gereja Puhsarang. “Sejuk, sih, cocok untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk di Jakarta,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan bahwa di dalam area wisata tersebut juga ada Taman Hidangan Kana. Yang di sekitarnya dikelilingi tanaman dan berbagai jenis pohon rindang. Hal itulah yang menurut Abednego membuat hati dan pikiran tenteram.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia