Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Fanatisme

20 Januari 2019, 12: 47: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Mahfud

Oleh : Mahfud

Share this          

“Kamu tak perlu memberi alasan pada tindakanmu. Sebab, musuhmu pasti tak memedulikannya. Sementara sahabatmu tak membutuhkannya.”

Menilai seseorang. Mengomentari semua tindakannya. Kemudian melakukan persekusi. Mungkin, tiga tindakan itu yang paling sering dilakukan orang zaman now ini. Atau, mungkin saja itu sudah jadi gawan bayi alias pembawaan kita sebagai manusia. Yang kemudian semakin mendapat ‘marwah’-nya di era ini. Era ketika sudah tak ada lagi batas tabu bagi kita. Yang dengan enteng akan mengumbar segala sesuatu di hadapan banyak orang. Menyampirkannya di tali-tali media sosial (medsos). Memamerkannya pada semua orang. Semakin ‘jeroan’ kita dilihat oleh banyak orang, semakin senang rasa kita. Harga diri kita sepertinya sangat bergantung pada seberapa banyak like pada postingan kita. Atau seberapa tinggi subscribe yang kita dapat.

Jangan heran bila sekarang ini tugas menilai tindakan dan sikap kita bukan lagi hanya dilakukan oleh orang tua kita. Tugas menilai kerja kita pun bukan lagi hanya dimiliki oleh para bos kita di tempat kerja. Bahkan, tugas menilai amalan kita, baik dan buruk kita, segala tindak tanduk kita, bukan lagi hanya Raqib dan Atid saja. Tapi sudah jadi bagian dari kita semua untuk menilai apakah seseorang itu benar dan layak masuk surga.

Pada zaman ini, zaman ketika informasi seperti halnya udara, ada di mana-mana dan mudah kita dapatkan, menilai seseorang seperti menjadi hal yang wajib. Tak peduli apa yang melatari suatu tindakan seseorang, yang penting adalah kita harus memberi penilaian. Wajib itu. Disebut njijris…biarin saja. Yang penting hits!

Yang ironis, objektivitas menjadi hal yang semakin pudar di zaman ini. Di era milenial, yang penting adalah pandangan kita, ide kita. Soal sudut pandang orang lain bukan urusan kita. Peduli setan. Wong setan aja ga peduli. Karena itu, apapun alasan seseorang melakukan itu, kita tak peduli. Asalkan bukan teman kita, yang kita bully. Kita tuding minor. Apapun hasil kerja mereka ya masih kurang maksimal. Lemah di semua hal. Tetap kurang ini, kurang itu.

Berbeda bila yang kita nilai adalah teman kita. Sahabat kita. Semua tindakan pasti baik. Sesalah apapun pasti tidak salah. Sebenar apa saja pasti sangat, sangat benar. Harus didukung. Harus disupport. Tak ada yang salah pada teman kita. Diam pun sudah suatu yang tepat. Asal kelompok kita (meminjam istilah penyanyi Gombloh yang sudah almarhum) maka …’Tai kucing pun rasa coklat…’.

Itulah mengapa pembelaan diri di zaman sekarang seperti sesuatu yang sia-sia. Sekuat apapun kita membela diri, hajaran dari musuh kita akan semakin bertubi-tubi. Mereka tak akan berhenti menghajar. Permintaan maaf bukanlah tujuan. Tapi kalahnya lawan kita hingga lungkang pukang adalah sasaran utamanya. Pokoknya, lawan hajar habis. Dan tujuan tercapai.

Karena itu saya setuju dengan beberapa kata-kata bijak yang banyak menyebar di medsos. Bahwa kamu tak perlu memberi alasan pada tindakanmu. Karena musuhmu tak memedulikan itu. Sementara, sahabatmu tak butuh itu.

Ya, kondisi seperti itu yang semakin mewujud saat ini. Di tahun politik. Di tahun yang penuh intrik. Debat kandidat presiden pun dalam hemat saya menjadi kehilangan maknanya. Terlepas dari kurang menariknya ‘sirkus’ debat yang baru lalu, ajang itu ‘hanya’ paling ditunggu oleh dua pihak. Pendukung paslon nomor 1 dan pendukung paslon nomor 2.

Yang pertama akan melihat apa saja ucapan dan sikap paslon saingan yang bisa dijadikan ajang pem-bully-an. Tergelincir sedikit saja, sudah tanpa ampun. Meme akan menyusul bertubi-tubi. Tak menunggu besok, tapi bisa beberapa saat setelah ucapan terpeleset itu.

Demikian pula dengan kelompok kedua, akan memuji setiap ucapan dan sikap yang ditunjukkan idolanya. Tak peduli seperti apa, diam pun akan terasa seperti orang yang santun. Ketaksanggupan meng-counter serangan lawan debat dipuji sebagai sikap yang tidak mau mempermalukan lawan.

Karena itu, jangan heran bila suasana debat yang seharusnya mengedepankan ide, program yang penuh analisa itu hanya sekadar seperti ajang permainan saja. Yang ramai bukan lagi pada adu argumentasi. Namun justru sorak-sorai para pendukung fanatisme. Bagaimana kita bisa mencerna dan menilai ide seorang paslon baik atau kurang pas bila kita sudah siap dengan bendera di tangan? Yang siap kita kibarkan hanya untuk pasangan yang kita dukung? (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia