Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Sosial dan Ekonomi Wilayah Barat Sungai (2)

Bandara, Proyek Pendongkrak Wilayah Barat Sungai

18 Januari 2019, 17: 41: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

MENGAIS REZEKI: Agus mencari besi yang masih bisa dipakai di salah satu reruntuhkan rumah di Desa Bulusari, Tarokan kemarin (17/1).

MENGAIS REZEKI: Agus mencari besi yang masih bisa dipakai di salah satu reruntuhkan rumah di Desa Bulusari, Tarokan kemarin (17/1). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Keberadaan bandara di Kediri dinilai bisa menjadi angin segar. Tak hanya untuk wilayah Kediri saja. Melainkan juga untuk banyak daerah lain di sekitarnya. Terutama untuk pengembangan sosial-ekonomi.

Pembangunan wilayah di lereng Wilis mendapatkan beberapa momentumnya saat ini. Setidaknya ada dua proyek besar berstatus Program Strategis Nasional (PSN) yang bakal mendongkrak percepatan pembangunan di wilayah barat Sungai Brantas ini. Yaitu pembangunan bandara dan jalan tol.

Belum lagi rencana pembangunan jalan lingkar Wilis yang menghubungkan tujuh kabupaten di kaki-kaki gunung Wilis. Bila semua proyek itu terwujud, pengembangan wilayah ini dipastikan bisa pesat.

Meskipun, pembangunan itu juga perlu pengorbanan. Ratusan hektare lahan pertanian dan pemukiman akan menjadi harga dari proyek-proyek besar tersebut. Yang harus mengalah untuk kepentingan pengembangan sosial-ekonomi yang lebih besar.

Bagi banyak kalangan, keberadaan bandara juga dinilai menjadi perlu. Pasalnya untuk akses bandara besar, praktis tujuannya saat ini adalah Juanda Surabaya. Tak terkecuali untuk warga Kediri, Nganjuk, Madiun, Tulungagung, Trenggalek dan Blitar. Akses terdekat sekarang ini adalah Surabaya.

“Pembangunan bandara Kediri diperlukan untuk kepentingan sebuah kawasan. Kediri dinilai strategis untuk diakses beberapa daerah di sekitarnya,” ujar Dosen Fakultas Sosial dan Politik Universitas Kadiri Suwarno.

Dipilihnya Kediri sendiri menurutnya tidak terlepas karena bentang wilayahnya sendiri. Dulunya, sempat muncul rencana bandara akan dibangun di Tulungagung. Namun, karena beberapa pertimbangan akhirnya rencana pembangunan di sana akhirnya dibatalkan. Menurutnya, salah satu alasannya selain kurang strategis, juga karena kondisi tanah atau lokasi itu sendiri.

Ia menilai untuk menuju bandara Juanda Surabaya juga dibutuhkan waktu yang relatif lama. Belum lagi untuk warga di wilayah Blitar dan sekitarnya. Tentunya akan lebih efisien jika ada bandara di Kediri yang notabene lebih terjangkau aksesnya.

Pembangunan bandara tersebut tentunya selain untuk akses transportasi juga diharapkan dapat meningkatkan ekonomi daerah. Tentunya juga warga sekitar bandara. Namun Suwarno mempunyai pandangan lain terhadap hal tersebut.

Menurutnya, peningkatan ekonomi warga sekitar karena adanya bandara relatif memiliki tantangan yang tinggi. Menurutnya, keberadaan pedagang kaki lima atau semacamnya tidak akan terlalu dilirik oleh penggunan bandara.

Pasalnya hal tersebut sudah seperti menjadi gengsi tersendiri. Menurutnya pengguna bandara tidak akan terlalu tertarik untuk menikmati hidangan pinggir jalan. Seperti sudah ada segmentasi tersendiri akan hal tersebut.

“Padahal ngopi di warung pinggir jalan Rp 5 ribu sudah dapat. Tetapi ketika di kawasan bandara, bisa berkali lipat naiknya,” celetuknya.

Meskipun begitu, tidak berarti pembangunan bandara tidak dapat memberikan efek ekonomis. Setidaknya warung-warung yang tumbuh di sekitarnya kelak juga akan diminati oleh mereka dengan segmen tersendiri.

Namun, perlu dilihat dalam gambaran besarnya. Dengan adanya bandara, distribusi ekonomi dan investasi akan semakin pesat. Seperti halnya membuka kran air untuk memenuhi bak air mandi. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah mengarahkan pembangunan tersebut berdaya guna untuk semua kalangan masyarakat.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia