Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Pertanian dan Pengairan Pegunungan(5/Habis)

Irigasi dari Petirtaan Dianggap Lebih Subur

16 Januari 2019, 13: 50: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

MENGALIR: Seorang petani di Desa Puhsarang, Semen, mengairi lahan garapnya untuk persiapan tanam padi kemarin (15/1).

MENGALIR: Seorang petani di Desa Puhsarang, Semen, mengairi lahan garapnya untuk persiapan tanam padi kemarin (15/1). (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Bukti peninggalan sejarah yang ditemukan di Lereng Wilis ternyata masih ada kaitannya dengan sistem irigasi masa lalu. Banyaknya sumber air dan juga petirtaan (pemandian atau tempat suci keairan) terkait erat dengan sistem budidaya pertanian di masa lampau.

Tak jauh berbeda dengan sistem irigasi yang ada di Bali yang lebih dikenal dengan subak, di Kediri sistem irigasi juga menerapkan hal demikian. Yakni pembagian air. Bedanya, tidak terstruktur rapi seperti halnya subak di Bali. Pembagian air juga masih diterapkan dan dikelola hingga saat ini. Sistem tersebut diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan.

Bukti aktivitas pertanian dan irigasi di Kediri ini memang cukup banyak ditemukan. Salah satunya adalah prasasti dan juga peninggalan lain berupa bekas petirtaan. Di Kediri, untuk prasasti yang menyebut sistem pengairan ada dua. Prasasti Serinjing dan juga Kusmala. Di prasasti itu disebutkan sistem irigasi pembagian air dari hulu ke hilir. Hingga pembuatan saluran air untuk distribusi ke area-area pertanian. Tentunya distribusi tersebut juga mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar.

“Prasasti tentang pengairan cukup banyak, terutama prasasti dari Bali tentang persawahan subak. Kalau di Kediri, ada Prasasti Kusmala dan Harinjing yang membahas pengaturan pertanian dengan mengendalikan lingkungan,” terang Penggiat Budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib.

Untuk prasasti Harinjing, membahas tentang suatu penganugerahan tanah sima dari Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodong Kerajaan Mdang (Mataram kuno) kepada Bagawanta Bhari yang sangat berperan terhadap pembangunan irigasi di wilayahnya. Pembangunan sistem irigasi ini ada di timur Kabupaten Kediri. Sementara untuk daerah lereng Wilis, irigasi dibuktikan dengan banyaknya sumber. Sumber tersebut rata-rata banyak dijadikan sebagai petirtaan.

“Irigasi juga ada yang dari petirtaan. Disalurkan melalui weluran (sungai irigasi, Red) ke sawah-sawah,” kata Novi.

Ada juga petirtan yang berasal dari arung atau terowongan buatan. Biasanya sumber mata air dan muara arung itulah yang dijadikan petirtaan. Di Lereng Wilis sendiri sebenarnya ada banyak petirtaan. Namun hanya beberapa yang hingga kini masih ada. Salah satunya adalah petirtaan di Situs Gedong, perbatasan Desa Pamongan dan Petungroto, Mojo. Air di tempat ini sangat melimpah. Hingga sekarang pun air dari petirtaan tersebut masih digunakan sebagai sumber irigasi.

“Dari keyakinan zaman dahulu, untuk petirtaan kalau dibuat penyucian maka air yang mengalir adalah air suci. Air tersebut dianggap bisa memberi  air kehidupan atau air yang menyuburkan kehidupan tanaman,” terangnya.

Dalam pembagian air tersebut tentu  ada satu kepengurusan. Dari keterangannya, yang bertugas membagi atau pengurus pengairan ada bermacam-macam. Sementara pengurusnya diketuai oleh hulu aer atau hulu banyu.

Untuk saat ini, pemanfaatan air dari sumber-sumber tersebut masih dilakukan. Terutama di daerah yang cukup dekat dengan kawasan hutan heterogen. Di mana di hutan tersebut masih banyak terdapat cadangan air hingga sumber air. Dari sumber tersebut akan dibagikan ke petani-petani yang membutuhkan.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia