Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Lawan Tikus dengan ‘Dinamit’ Belerang

Klaim Mampu Tekan Serangan Hama Pengerat

16 Januari 2019, 13: 30: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

UJI COBA: Petani bersama penyuluh pertanian lapangan melakukan pengasapan untuk membasmi hama tikus di lahan sawah Desa Paron, Ngasem kemarin (15/1).

UJI COBA: Petani bersama penyuluh pertanian lapangan melakukan pengasapan untuk membasmi hama tikus di lahan sawah Desa Paron, Ngasem kemarin (15/1). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN- Segala upaya dilakukan untuk menekan serangan hama dari hewan pengerat, tikus. Salah satunya adalah metode pengasapan. Metode ini yang kemarin dilakukan oleh petani bersama penyuluh pertanian lapangan di Desa Paron, Ngasem.

Obat pembasmi tikus yang digunakan tersebut berbentuk seperti batang dinamit.  Namun, isinya belerang. Sumbu dinamit belerang itu yang kemudian disulut dengan api. Setelah berasap, kemudian diletakkan di lubang atau mulut liang tikus.

Meskipun baru kali ini diujicobakan, metode itu diyakini punya tingkat keberhasilan tinggi. “Lubang keluar dan masuknya kita tutup. Sementara lubangnya tersebut dipenuhi dengan asap belerang yang akan membunuh tikusnya,” terang PPL Desa Paron Yayuk Anisa kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di lokasi pengasapan kemarin pagi.

Menurutnya setiap lubang normalnya ada sekitar 10 tikus yang bersarang di dalamnya. Sementara itu, pada sawah seluas 100 ru tersebut bisa terdapat sekitar 50 lubang yang digunakan sebagai sarang tikus.

Pembasmian hama tikus juga bisa dilakukan dengan pemberian racun. Namun ia lebih memilih menggunakan teknik pengasapan tersebut. Menurutnya jika menggunakan racun, tikus tersebut bisa mati jauh dari lokasi pemberian racun. Padahal di barat sawah tersebut sedang dikembangkan pembasmian tikus menggunakan tito alba atau burung hantu. Hal tersebut akan berbahaya jika tikus yang terkena racun tersebut dimakan oleh burung hantu.

Oleh karena itu, pengasapan dinilainya adalah solusi terbaik. Tikus tersebut akan mati di dalam lubang tersebut. Sehingga untuk pembersihannya pun akan lebih memudahkan petani.

Suyitno, 42, ketua Kelompok Tani (Poktan) Waru-waru Desa Paron, Ngasem, mengatakan tahun ini serangan hama tikus melonjak tajam. Pada tahun-tahun sebelumnya, hama tikus dirasakannya tidak sebanyak kali ini.

“Setiap musim tanam pasti banyak tikusnya. Tapi tahun ini memang paling banyak,” akunya.

Hama tikus tersebut tidak hanya merusak tanaman padi semata. Juga menyerang jagung, kacang tanah, bahkan tebu juga tak luput dari serangan hewan ini. Untuk padi, yang diserang adalah bagian batangnya. Sedangkan jagung dan kacang tanah adalah bijinya.

Lebih lanjut, apabila tidak segera ditangani maka hama tikus dipastikan akan merugikan petani. Ia mengklaim dengan adanya hama tikus tersebut dapat mengurangi hasil panen hingga 30 persen.

Oleh karena itu, ia berharap banyak dengan adanya bantuan obat pembasmi hama tersebut dari Dinas pertanian dan perkebunan Kabupaten Kediri. “Tentunya kami berterima kasih dengan bantuan tersebut. Tapi perlu dilihat juga tingkat keberhasilannya,” ujarnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia