Jumat, 17 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Januari Bisa Jadi Puncak DBD

Sudah Muncul 100 Kasus Pelaporan

16 Januari 2019, 11: 41: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

“Perlu kesadaran tinggi dari segala lini untuk menanggulangi DBD”.  Nur Munawaroh, Kasi P3M Dinkes Kabupaten Kediri.

“Perlu kesadaran tinggi dari segala lini untuk menanggulangi DBD”. Nur Munawaroh, Kasi P3M Dinkes Kabupaten Kediri. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN- Januari ternyata memiliki ‘sejarah erat’ dengan kasus demam berdarah dengue (DBD). Di bulan inilah tren pasien tertinggi penyakit berbahaya itu sering terjadi. Bahkan, seperti sudah menjadi pola baku dalam siklus DBD di Kabupaten Kediri. Yang sudah berlangsung sejak 2013.

Berdasarkan data dari dinas kesehatan (dinkes), kasus DBD memiliki pola yang sama setiap tahunnya. Yaitu tingginya laporan kasus tersebut selalu terjadi pada bulan-bulan di mana musim penghujan sedang berlangsung. Namun, memang Januari menjadi yang tertinggi dibanding bulan lain.

“Awal tahun tinggi lalu pada pertengahan turun drastis. Tapi nanti mendekati akhir tahun ada lagi kenaikan,” papar Kasi Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Nur Munawaroh kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di rumahnya, Jumat (11/1).

Lebih lanjut, penurunan kasus DBD tersebut biasanya terjadi pada sekitar Mei dan Juni. Setelahnya perlahan akan mengalami kenaikan lagi pada sekitar Oktober dan November. Dan memang, kasus DBD sudah identik dengan musim penghujan.

Meskipun begitu, hal tersebut sejatinya dapat ditanggulangi dengan beberapa cara. Seperti fogging atau program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Selain itu, terpenting adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. Dengan rutin mengecek jentik-jentik nyamuk di lingkungannya.

Bagi Nur peran kader juru pemantau jentik (jumantik) sangatlah vital. Pasalnya, sebagai kader jumantik mereka adalah ujung tombak penanggulangan wabah tersebut. “Diperlukan kesadaran tinggi dari segala lini untuk bisa menanggulangi masalah DBD,” akunya.

Lebih lanjut, berdasarkan keterangannya pada Januari 2013 adalah saat di mana kasus DBD melonjak tinggi. Kala itu, sekitar 350 kasus DBD yang dilaporkan kepada instansi terkait. Angka tersebut menjadi yang tertinggi hingga tahun sekarang.

Tertinggi kedua adalah pada Januari 2016 dan 2015 lalu. Jika pada Januari 2015 kasus DBD hanya berkisar 200 temuan, maka jumlah tersebut naik pada tahun depannya. Yaitu pada 2016 angka kasus tersebut ada sekitar 220 kasus.

Pada Januari 2014 menjadi yang terendah dibanding yang lainnya. Kala itu, hanya tercatat sekitar belasan kasus saja. Sayang, prestasi tersebut tidak bisa dipertahankan.

Sejatinya, jika melihat grafik dari dinkes Kabupaten Kediri mulai 2016 tren penurunan sudah mulai kembali dicapai. Yaitu pada dua tahun kemarin kurang dari 100 kasus yang dilaporkan.

Atas data tersebut, pihaknya pun berusaha keras agar Januari kali ini tidak terjadi lonjakan kasus secara masif. Namun, setidaknya hingga dua minggu awal ini telah ada lebih dari 100 kasus yang dilaporkan. Angka tersebut terdiri dari mereka yang masih tersangka maupun yang sudah positif DBD.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia