Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Pertanian dan Pengairan Pegunungan (4)

Cegah Longsor dengan Sistem Bertani Agroforestri

15 Januari 2019, 17: 12: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

MASIH TERJAGA: Salah seorang anggota tim Ekspedisi Wilis I berada di Alas Puspo. Bertani di samping hutan dengan tetap mempertahankan kelestarian pohon tahunan menjadi salah satu pilihan yang ramah lingkungan. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Di lereng Wilis, warga terbiasa melakukan alih fungsi lahan dari hutan menjadi kawasan budidaya pertanian. Kondisi ini bisa menjadi ancaman erosi sewaktu-waktu di lahan tersebut.

Petani di lereng Wilis banyak yang masih mempertahankan tanaman tahunan yang ada. Mereka memanfaatkan tanaman tersebut sebagai salah satu faktor yang membantu tanaman budidaya tetap tumbuh subur. Seperti yang dilakukan Marni. Dia tidak menebang tanaman di lahan miliknya. Karena dia menilai pohon-pohon besar yang ada akan bermanfaat di lain waktu.

“Dibiarkan seperti ini karena untuk melindungi tanaman di bawahnya,” kata Marni.

Secara tersirat, warga Desa Pamongan ini menyebut bahwa melindungi tanaman di bagian lahan bawah adalah untuk mencegah erosi. Ternyata warga lereng Wilis sudah ada yang mengantisipasi bencana tersebut sejak dini. Meski masih saja ada masyarakat yang menebang habis tanaman tahunan di sana. Dan mengabaikan ancaman bahaya.

“Kalau ditebang semua, nanti takutnya longsor. Tapi ada juga warga yang menebang habis, karena kalau dibuat budidaya sayur lebih menguntungkan,” jelas pria 56 tahun itu.

Kepedulian Marni terhadap ancaman bahaya ini memang patut diapresiasi. Apa jadinya jika warga terus menerus menebang kawasan hutan untuk membuka areal pertanian tanpa adanya kontrol. Namun hal semacam ini hanya bisa dilakukan bagi mereka petani yang lahannya masih sangat dekat dengan daerah hutan. Bukan untuk mereka yang di bagian lereng paling bawah.

Marni menyebut, dia masih mempertahankan pohon yang ada di bagian atas areal tegal miliknya. Alasanya karena sempat terdengar bahwa pemanfaatan pohon di sekitar area budidaya di pegunungan memang lebih banyak manfaat.

“Salah satunya sebagai pupuk organik,” imbuhnya.

Pupuk organik yang dimaksud adalah dari bekas dedaunan kering yang lapuk. Dan itu tidak akan ditemukan pada lahan yang kondisinya gundul atau tanpa tanaman tahunan. Lahan gundul itu biasanya digunakan oleh masyarakat dengan sistem pertanian lama yakni ladang berpindah.

Dalam sistem perladangan berpindah petani dapat meninggalkan lahan kosong selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Dan selama masa ini, penduduk lain dapat mengambil lahan mereka. Tetapi jika mereka melakukan sistem agroforestri atau mempertahankan pohon tahunan, pohon tersebut bisa menjadi tanda dan memberi mereka hak permanen atas pertanian mereka.

Dari sejumlah literatur, memang lingkungan hidup khususnya di sekitar hutan sangat memberikan keuntungan. Pohon membantu mengamankan tanah dan mencegah longsor.

Sebab, selama ini longsor kecil di lereng ladang adalah masalah besar di Indonesia. Hilangnya tutupan hutan dan degradasi sisa hutan dapat meningkatkan erosi tanah di lereng terjal tersebut. Termasuk di wilayah pegunungan di lereng Wilis.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia