Rabu, 24 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Pertanian dan Pengairan Pegunungan (3)

Karena Panenan Padi Lebih Memberi Untung

14 Januari 2019, 11: 30: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

MENGUCUR : Lahan pertanian dengan teknik terasering di lereng  Wilis memudahkan petani untuk mengatur saluran irigasinya.

MENGUCUR : Lahan pertanian dengan teknik terasering di lereng Wilis memudahkan petani untuk mengatur saluran irigasinya. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Hijau daun padi yang masih berusia mingguan itu menjadi penghias mata sepanjang jalur jalan. Menjadi pemandangan menyejukkan bagi wisatawan yang menuju ke tempat-tempat wisata di lereng Wilis.

Tanah yang subur di daerah lereng Wilis, sebenarnya, bisa membuat banyak tanaman pangan tumbuh baik. Lahan persawahan di tempat ini bisa menjadi daerah yang bagus untuk berbagai tanaman pangan. Tak hanya padi, tapi juga jagung, kacang tanah, ataupun kedelai.

Namun, di Desa Pagung, Semen, Kabupaten Kediri, mayoritas warganya masih mengandalkan padi sebagai tanaman pokok. Terutama di musim penghujan seperti sekarang ini. “Karena memang sedang musim penghujan. Kurang cocok jika menanam tanaman selain padi,” jelas Yatirah, 40.

Yatirah mengaku menanami lahan sawahnya dengan padi seluruhnya. Banyak pertimbangan yang membuatnya melakukan itu. Yang paling membuatnya lebih condong ke padi adalah karena terbiasa melakukan sejak nenek moyangnya. Secara temurun keluarganya adalah petani padi. Terutama saat air sedang melimpah.

Alasan lain adalah dengan menanam padi, Yatirah tidak takut gagal panen. Sebab, selama ini dia belum pernah merasakan hal itu. Panen padi yang dia lakukan selalu memberi hasil bagus.

Bahkan, selama dia bertani, hasil panenan padinya lebih banyak dibanding ketika dia menanam tanaman lain. Karena itulah dia lebih memprioritaskan lahan sawahnya menjadi tempat menyemai padi. Dibandingkan bila harus mengubah dengan tanaman lain. Kecuali memang kondisi iklim mengharuskannya menanam komoditas lain seperti jagung atau kacang tanah.

Ada beberapa pilihan bagi petani di tempat ini untuk menanam selain padi. Tak hanya jagung ataupun kacang tanah. Ada pula yang memilih tanaman tebu. Hal itu tergantung pada pilihan dan kebutuhan petani. Namun, lebih banyak yang memilih seperti Yatirah. Menjadikan padi sebagai tanaman utama pada sistem pertanian mereka.

Dalam setahun dua kali musim tanam padi dilakukan Yatirah. Bila datang musim kemarau, dan air menjadi sulit, dia ganti menanam jenis tanaman lain. Biasanya jagung atau kacang tanah. Nanti begitu datang musim penghujan, dia kembali menanam padi.

Pilihan para petani di daerah ini menanam padi juga tak lepas dari sistem pengairan lahan sawah yang relatif masih bagus. Ada pasokan air irigasi dari sumber di Desa Joho. Meskipun ketika tiba di daerahnya, air irigasi itu juga tak terlalu besar namun masih bisa untuk mengairi sawahnya. Apalagi dalam musim penghujan seperti sekarang ini, pasokan air pun melimpah.

Ditambah lagi dengan teknik terasiring pada lahan pertanian mereka. Teknik ini tak hanya membantu mengurangi risiko longsor di lahan pegunungan. Namun juga memudahkan dalam hal pengairan. “Mengatur air lebih mudah. Dan kalau di pegunungan memang semuanya dibikin terasering, untuk lahan pertaniannya,” terangnya.

Namun tidak menutup kemungkinan bagi petani untuk menanam varian tanaman di ladang. Terutama yang ada di depan atau belakang rumah. Tidak sedikit petani di daerah ini yang menanam kacang tanah atau jagung di lahan yang ada di belakang rumah. Hal ini seperti tambahan pendapatan bagi mereka.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia