Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Pertanian dan Pengairan Pegunungan (1)

Terasering Permudah Irigasi, Kurangi Longsor

12 Januari 2019, 11: 25: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

SEPERTI ANAK TANGGA: Lahan persawahan yang digarap dengan sistem terasering di kawasan lereng Pegunungan Wilis, Desa Jugo, Kecamatan Mojo.

SEPERTI ANAK TANGGA: Lahan persawahan yang digarap dengan sistem terasering di kawasan lereng Pegunungan Wilis, Desa Jugo, Kecamatan Mojo. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Warga di kawasan pegunungan Wilis punya ciri khas sendiri dalam bercocok tanam. Mereka menyesuaikan dengan kondisi lahan yang berbukit dan melereng. Maka pengolahan sawah diatur sedemikian rupa agar tidak mengalami longsor.

Melewati jalur mana pun saat melihat kiri dan kanan di sekitar jalur menuju ke Pegunungan Wilis pasti menemukan lahan sawah tertata rapi.  Kebanyakan lahan pertaniannya menggunakan sistem terasering.

Di sekitar lereng pegunungan tersebut, sistim bercocok tanam dengan terasering masih digunakan oleh para petani. Sistem tanam yang cenderung memudahkan pengairan sawah ini sudah digunakan sejak zaman dahulu kala.

"Sudah dari nenek moyang sepertinya," ujar Jumiran, salah satu petani Desa Jugo, Kecamatan Mojo.

Ia sendiri saat ini sedang menanam beberapa tanaman kacang dan tanaman jagung di lahan yang dibentuk dengan model terasering. Menurutnya, model penggarapan lahan sawah terasering selalu diterapkan oleh semua orang yang tinggal di daerah dataran tinggi atau pegunungan.

Hal tersebut lebih memudahkan para petani untuk mengaliri air ke lahan. Dengan model lahan yang dibuat seperti anak tangga, pengairan lebih lancar. Ini lantaran air mengalir ke bawah dengan mudah. "Karena di pegunungan banyaknya lahan yang curam," imbuh Jumiran.

Terasering dicirikan sebagai "pendataran" tanah daerah dataran tinggi atau pegunungan untuk dijadikan lahan persawahan. "Pendataran" dilakukan karena memang di daerah dataran tinggi atau pegunungan sulit untuk ditanami tumbuhan dengan curamnya permukaan tanah.

Biasanya terasering dibuat seperti anak tangga. Desainnya seperti bertingkat dengan ditanami berbagai tanaman sawah yang berada di anak tangga terasering itu sendiri. Selain itu, pembuatan terasering juga memiliki manfaat untuk meningkatkan peresapan air ke dalam tanah dan aliran air yang menumpuk di permukaan juga berkurang, sehingga memperkecil risiko terjadinya pengikisan air terhadap tanah.

Dengan memperkecil risiko pengikisan aliran air di lahan, dan dapat dengan mudah mengendalikan arah aliran air menuju ke daerah yang lebih rendah, dapat membuat kestabilan dari lereng meningkat. Itu karena air tidak terkonsentrasi pada satu tempat saja.

Dengan adanya terasering juga membuat para warga di sekitar lahan persawahan menjadi lebih aman karena potensi longsor juga berkurang.

Biasanya memang lahan sawah yang menggunakan sistim terasering di sekitar Kecamatan Semen dan Mojo ditanami dengan tanaman padi. Hal tersebut, bagi beberapa wisatawan yang mengunjungi daerah lereng Pegunungan Wilis menjadi daya tarik tersendiri.

Ditemani dengan angin pegunungan dan pemandangan sawah terasering yang tersusun rapi, membuat salah satu dari banyak alasan wisatawan ingin mengunjungi Pegunungan Wilis lagi. "Sepanjang jalan, melewati Semen atau Mojo, selalu senang kalau melihat sawahnya, kadang berhenti sebentar untuk sekadar berfoto atau menikmati pemandangan sawah," ujar M. Yoga, salah satu wisatawan.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia