Minggu, 16 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Penyerapan Beras Bulog Turun

Pengaruh Faktor Cuaca pada Produksi Padi

12 Januari 2019, 11: 04: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

MASIH MEMADAI: Mulyani, karyawan Bulog Sub Divre Kediri, sedang memeriksa persediaan beras di gudang Desa Paron, Kecamatan Ngasem, kemarin.

MASIH MEMADAI: Mulyani, karyawan Bulog Sub Divre Kediri, sedang memeriksa persediaan beras di gudang Desa Paron, Kecamatan Ngasem, kemarin. (Ramona Valentin - radarkediri.id)

KEDIRI KOTA– Penyerapan beras Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Kediri dari petani lokal selama 2018 tidak setinggi tahun sebelumnya. Faktor ketersediaan hingga faktor produksi mempengaruhi hal tersebut.

Deny Kurniawan, wakil kepala Bulog Subdivre Kediri, mengakui, jumlah penyerapan beras di wilayah kerjanya memang menurun. “Kalau tahun lalu (penyerapan beras) sebanyak 31 ribu ton. Tetapi, tahun ini jumlahnya turun menjadi sekitar 29,8 ribu ton. Itu untuk penyerapan beras Bulog Subdivre Kediri,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di kantornya, kemarin.

Penurunan serapan beras tersebut, menurut Deny, salah satunya disebabkan berkurangnya ketersediaan pasokan dari petani. Itu seperti jumlah produksi padi yang tidak sebanyak tahun sebelumnya.

“Bisa saja karena faktor cuaca yang berdampak pada produksi padi. Tapi kalau faktor selebihnya kami kurang tahu,” urainya.

Apabila ketersediaan komoditas pangan dari petani mengalami penurunan, lanjut Deny, otomatis ketersediaan beras di gudang Bulog juga menurun. Hal ini dikarenakan semua penyerapan beras yang dilakukan Bulog adalah beras yang berasal dari petani lokal dari tiga wilayah.

Deny lantas memaparkan, bila jumlah tersebut adalah keseluruhan penyerapan dari Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Kabupaten Nganjuk. “Untuk jumlahnya per wilayah kami adanya ya total per subdivre (sub divisi regional). Karena kita di Kediri, berarti ya jumlah demikian itu termasuk tiga wilayah tersebut, tidak terpecah,” terangnya.

Deny menyatakan bahwa pihak Bulog tidak melakukan pendataan beras sampai ke sawah. Melainkan melalui petani yang menyalurkan hasil panennya langsung ke gudang Bulog. Penyaluran tersebut, baik oleh petaninya atau melalui pelaku usaha penggilingan gabah.

Dari situ Bulog mendapat informasi tentang pasokan beras. Sebagian dari mitra mengakui, bila faktor eksternal seperti serangan hama serta curah hujan yang tidak menentu mempengaruhi kondisi pertanian padi. Hal itu nantinya akan berimbas pada produksi beras.

Sehingga apabila padi sakit dan rusak, dikatakan Deny, belum tentu mampu menghasilkan beras. Juga ia paparkan, bila ingin mengetahui hasil panen secara detail bisa didapatkan di dinas pertanian di masing-masing wilayah.

Hasil penyerapan beras memang ditentukan oleh ketersediaan beras hasil produksi tanaman padi petani lokal. “Semua petani lokal berhak untuk menjadi mitra Bulog dalam pengadaan beras atau istilahnya penyerapan,” terang laki-laki berkacamata ini.

Walau tidak setinggi tahun sebelumnya, Deny mengatakan, dari hasil penyerapan tersebut masih mampu memenuhi kebutuhan beras di masyarakat. Menurutnya, bila ketersediaan beras di gudang Bulog hingga kemarin (11/1) masih terbilang aman. Stok masih dapat mencukupi hingga musim panen raya tiba.

“Ini nanti bisa sampai Maret 2019. Persediaannya sekitar 9 ribu ton yang disalurkan melalui pasar maupun mitra Bulog,” ungkapnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia