Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Menguak Misteri Alas Ngreco (6/Habis)

Setiap Hutan Terbakar, Mata Warga Belekan

11 Januari 2019, 14: 16: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

PANORAMA: Pemandangan Dusun Karanglo, Desa Kanyoran, Semen. Perkembangan zaman membawa perubahan besar pada kondisi alam daerah di lereng Wilis ini.

PANORAMA: Pemandangan Dusun Karanglo, Desa Kanyoran, Semen. Perkembangan zaman membawa perubahan besar pada kondisi alam daerah di lereng Wilis ini. (M. Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Banyak ramalan tentang masa depan yang dilakukan orang-orang kuno. Ramalan dengan berbagai adagium itu sebagian adalah peringatan untuk generasi selanjutnya. Agar selalu menjaga hutan.

Pada zaman dulu kala, dulu sekali. Sebelum modernisasi menyentuh pelosok desa. Manusia dan alam hidup dengan harmoni. Manusia menggantungkan hidupnya dari alam. Mereka sadar betul bagaimana memperlakukan alam. Meskipun apa saja tersedia di hutan, mereka tak serakah mengambil semuanya. Manusia, pohon, dan hewan hidup bersama dalam damai.

“Zaman kulo tasik alit rumiyin, teng ndusun niki tasik katah kewan alas sobo kampung. Kidang, kancil, celeng, budeng, ketek niku pating sliwer. Sing paling katah nggih budeng kalih ketek niku (Masa saya kecil, di dusun ini banyak hewan hutan masuk kampung. Kijang, kancil, babi hutan, monyet besar, kera selalu berseliweran. Paling banyak monyet besar, Red) ,” cerita Jari, yang mengaku sejak kecil tinggal di Dusun Karanglo, Desa Kanyoran, Semen, Kabupaten Kediri.

Karanglo merupakan salah satu dusun paling barat di wilayah Kabupaten Kediri. Yang langsung berbatasan dengan hutan Gunung Wilis. Menurut Jari, sebelum aspal dan listrik masuk ke desanya, kondisi sekitar masih sangat rimbun pepohonan. Hewan-hewan hutan biasa datang.

Kini semuanya berubah. Seiring perkembangan zaman. Teknologi masuk ke pelosok. Alam pun ikut terkena dampaknya.

Menurut Jari, dulu kakeknya pernah bercerita tentang masa depan. Tentang kondisi desanya. “Titenono yo Ri. Mbesok wayah reja- rejane zaman, yen kenteng wis podo mlebu mrene, cedek karo deso, Budeng-budeng bakalan ngilang (perhatikan ya Ri, saat zaman sudah maju ketika ada kawat besar masuk, monyet besar akan menghilang, Red),” ujar Jari menceritakan ucapan kakeknya.

Saat itu Jari tidak langsung paham apa yang dimaksud Poniran, kakeknya. Kenteng apakah gerangan yang dimaksud sang kakek. Hinga kini Jari baru menyadari. Kenteng itu adalah kabel listrik. Seiring masuknya listrik ke Desa Kanyoran, berbanding searah dengan perkembangan teknologi. Televisi pun merebak. Desa menjadi lebih ramai. Pohon-pohon ditebangi. Hutan dijadikan ladang. Hewan-hewan pun pergi.

“Kulo sakniki paham unen-unen mbah kulo riyen. ‘Cedek Kenteng, Adoh Budeng’ artine nggih niku. Mbasan tekan listrik deso malih rame, bedeng lan kewan liane podo ngedoh mas (Saya sekarang paham perkataan kakek saya dulu. Dekat kenteng adoh budeng itu artinya seperti itu. Saat listrik masuk desa jadi ramai. Bedeng dan hewan lainnya jadi menghilang, Red),” kata Jari.

Kini, budeng dan monyet memang masih ada. Tapi jauh di tengah hutan Wilis. Tim ekspedisi pun sempat menjumpainya saat di puncak Wilis dekat alas Puspo. Dan di hulu kali Bruno dekat alas Ngreco.  Sedang di dekat pemukiman tak dijumpai lagi.

Tanda alam lain yang langsung berhubungan dengan warga Kanyoran adalah isyarat kebakaran hutan. Jika hutan wilis terbakar, maka bisa dipastikan mata warga di Desa Kanyoran akan ‘belekan’. 

“Mesti ngoten Mas. Saben enten wono kobong mripat beleken. Wungu sare ngantos mboten saget melek. Paningal kebak blobok mas (Pasti seperti itu. Setiap ada kebakaran hutan mata selalu belekan. Bangun tidur mata sampai tidak bisa terbuka. Penuh dengan belek, Red),” terang Jari.

Boleh percaya atau tidak, itulah yang terjadi di Dusun Karanglo jika terjadi kebakaran hutan. Seakan alam memberika sinyal kepada manusia. Agar selalu menjaganya tetap lestari. Jika ingin terus mendapat manfaat darinya.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia