Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Kaki-Kaki Keramaian

10 Januari 2019, 12: 26: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

Sego Tumpang

Sego Tumpang

Malem tahun baruan lalu, boleh jadi ada yang bilang tak seramai sebelumnya. Terutama di pusat kota. Down town-nya. Itu karena keramaian tak lagi terkonsentrasi. Di satu titik. Melainkan sudah mulai menyebar. Hingga ke desa-desa. Hingga ke gunung-gunung.

Alun-Alun Kota? Sudah sejak Simpang Lima Gumul (SLG) jadi, keramaian bergeser ke sana. SLG? Kepadatannya pun mulai berkurang. Tak seramai pesta kembang api pertama untuk merayakan tahun baruan di sana.

Itu baik. Bukan buruk. Karena yang terjadi bukanlah hilangnya keramaian. Mati. Melainkan, pergeseran. Penyebaran. Sebab, pada saat yang sama, sudut dan pelosok kota/kabupaten yang sebelumnya sepi, berubah menjadi ramai. Malam tahun baruan lalu.

Sebut satu misal. Medowo, Kandangan. Yang ada di pegunungan itu. Juga Pojok, Mojoroto. Yang punya Selomangleng itu. Atau sudut-sudut lain. Pelosok-pelosok lain. Di kota dan kabupaten ini. Massa bergerak ke sana. Merayakan pergantian tahun.

Orang bakulan seperti Mbok Dadap tak perlu lagi ngotong-ngotong lincak. Bawa obrok. Ke pusat kota. Menjemput keramaian. Agar dagangannya laris. Melainkan cukup standby di tempat terdekat masing-masing. Yang aparaturnya. Yang tokoh masyarakatnya. Yang rakyat jelatanya. Punya kreativitas untuk menciptakan keramaian. Agar orang luar berdatangan.

Orang datang mencari keramaian, tentu, tidak hanya membawa badan. Namun, juga uang. Di situ perekonomian bisa digerakkan. Mbok Dadap jualan sego tumpang. Yu Menik menawarkan sulaman. Kang Noyo bakulan gorengan. Matglembos dodolan plembungan.

Semuanya bisa ditawarkan. Kepada mereka yang membawa uang. Dan, jika bakul-bakul yang berada di hilir itu laku, hulunya otomatis akan ikut terkerek. Industri tempe dan tahunya. Petani kedelai dan sayurannya. Pemintal benangnya. Belum lagi dengan serapan tenaga kerjanya. Semua terdampak. Itu namanya multiplier effect. Satu kegiatan, dampaknya ke mana-mana.

Meratakan keramaian, ibarat membangun kaki-kaki. Fondasi. Semakin banyak keramaian tersebar, semakin banyak punya kaki. Semakin banyak kaki, semakin kuat bangunan berdiri. Sehingga, ketika satu lumpuh, masih banyak kaki lain yang menjadi penopangnya.

Bandara segera menjadi pusat keramaian baru. Jika nanti benar-benar jadi. Maka, harus segera disiapkan kaki-kaki baru. Untuk menopangnya. Untuk menangkap luberannya. Untuk meratakan beban yang harus disangga oleh kaki-kaki yang sudah ada selama ini.

Sebab, jika bandara itu jadi, kaki-kaki yang sudah ada akan terlalu berat menyangga keramaian yang ditimbulkannya. Jika sendirian. Jika tidak dibikinkan kaki-kaki tambahan. Seperti Matcungkring yang tiba-tiba harus menggendong Dulgembul yang beratnya sak kuintal. Kalau ndak langsung nggeblak, ya pasti menggeh-menggeh. Lalu tepar. “Awak kok kayak kebo,” sumpah serapahnya.

Kota, sudah menambah kakinya. Di tengah-tengah. Dengan Jembatan Brawijaya. Yang mengurangi beban Jembatan Bandar dan Jembatan Semampir. Tapi, itu juga berarti memindahkan beban ke tengah kota. Masih butuh banyak kaki-kaki tambahan lagi. Di selatan, Ngronggo. Juga di utara, Jongbiru. Yang masuk wilayah Kabupaten.

Kota, yang berada di tengah-tengah, memang akan terasa paling terdampak dari keberadaan bandara. Yang lokasinya di Kabupaten. Karena dia menjadi persimpangan dari segala arah. Dari dan menuju bandara. Kepadatannya akan bertambah-tambah. Apalagi siang hari yang sudah padat. Yang jumlah penghuninya bisa naik dua kali lipat dibanding malam.

Maka, agar tetap mampu menyangga berapa pun jumlah orang yang masuk, menambah kaki-kaki menjadi sebuah keniscayaan. Seperti Mbok Dadap yang harus menambah lincaknya. Bahkan menjebol dinding warungnya. Agar orang yang berjubel antre sego tumpang bisa terwadahi semua.

Kaki-kaki itu, tidak hanya bisa menjadi penyangga keramaian di tengah kota. Tapi, juga bisa meratakan keramaian yang ada. Ke pinggiran. Yang sebelumnya tak tersentuh keramaian. (Tauhid Wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia