Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Pasang Plastik Loreng agar Tikus Menyangka Ular

Petani Hadapi Masa Tanam

09 Januari 2019, 18: 16: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

jebakan tikus

KREATIF: Bendera plastik berwarna belang dipasang di tepi lahan sawah milik Ahmadi di Desa Paron, Ngasem. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Masa tanam pada awal 2019 ini bagi petani di Kabupaten Kediri adalah masa yang berat. Serangan hama dan penyakit tanaman yang jadi penyebabnya. Hal yang membuat ancaman bagi produktivitas panen mereka.

Seperti yang dirasakan petani di Desa Paron, Ngasem. Akhir-akhir ini hama tikus menjadi momok. Banyak petani yang nyaris gagal panen akibat binatang mengerat ini. “Dari pengalaman tahun lalu, hampir separo lahan terserang tikus,” ujar Katirin, salah seorang petani.

Pria 53 tahun itu mengaku telah melakukan sejumlah alternatif pembasmian. Termasuk menggunakan racun tikus. Namun upayannya tersebut tidak bisa mengatasi tuntas. Bahkan, saat ini sejumlah lahan padi petani mulai digerayangi tikus. Hingga dilakukan pembongkaran liang tempat tikus bersembunyi di lahan-lahan Desa Paron.

“Dulu jagung saya juga pernah habis di makan tikus,” ujarnya saat ditemui di sela penyiangan rumput di lahan padi miliknya.

Sementara Ahmadi, petani lain di Desa Paron, mengantisipasi serangan tikus menggunakan cara yang kreatif. Yakni memakai plastik warna loreng hitam putih yang dipotong memanjang. Plastik itu ditaruh mengelilingi lahan padi miliknya.

“Ini agar tikus takut, karena mengira ular,” jelasnya.

Upaya sederhana itu nyatanya ampuh. Terbukti, dari masa vegetative hingga memasuki generatif, Madi tidak menjumpai satu tikus di lahan miliknya. Padahal dari keterangan pria 60 tahun tersebut, banyak teman sesama petani yang mengeluh karena ancaman tikus yang menyerang. Oleh karena itu dia melakukan antisipasi tersebut.

Menurut keterangan Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Anang Widodo, tikus menjadi ancaman serius bagi petani. Untuk mengantisipasi hal tersebut Anang menyampaikan bahwa pengaturan pola tanam, dan pendekatan sekolah lapang (SL) pengendalian hama terpadu (PHT) lebih efektif mengatasi serangan hama tikus.

“Jadi mulai pertengahan 2018 kami menerapkan manajemen tanaman sehat. Di mana Pemkab Kediri juga telah memberikan hibah burung tito alba atau burung hantu di beberapa lokasi,” terangnya.

Anang menyampaikan bahwa secara ekosistem, burung hantu merupakan predator tikus. Pihak Dispertabun juga memberikan sesuai sentra serangan tikus. Terutama yang ada disepanjang jalur Sungai Konto. Selain itu kegiatan gropyokan juga kerap dilaksanakan untuk mengurangi tikus yang ada di lahan petani.

“Begitu pula dengan menerapkan pola tanam serempak dan juga memakai sistem jajar legawa,” imbuhnya.

Cara-cara itu bisa menghambat perkembangbiakan tikus. Sebab, jika terlambat mengantisipasi, tikus dapat menyerang sejak masa pembenihan. Serangan lebih ganas pada masa vegetative. Dan mencapai puncaknya pada masa generatif.

Tikus-tikus itu juga berkembang biak pesat pada masa tanam pertama. Jumlah anaknya antara empat hingga sembilan ekor pada umur-umur produktif. Sekali musim tanam, tikus bisa berkembang biak dua kali. Yang paling mudah ditandai adalah ketika padi memulai tahap generatif.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia