Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Menguak Misteri Alas Ngreco (4)

Ada Koin Tua Bekas Sesaji di Bawah Nisan Batu

09 Januari 2019, 11: 20: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

BUKTI: Lokasi makam yang ada di Alas Ngreco.

BUKTI: Lokasi makam yang ada di Alas Ngreco. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Mengeksplorasi kuburan tua Alas Ngreco, tim ekspedisi menggali sebagian nisan batu. Mereka dikejutkan temuan-temuan aneh di dalam galian itu.

Usai diam dalam hening doa, kami mulai beraksi kembali. Dari tanda-tanda yang ada di area makam itu, kami merasa yakin keberadaan Reco Putri ada di sekitar itu. Kami pun memeriksa kawasan di sekitarnya dengan lebih teliti lagi. Setiap rerumpunan belukar kami periksa. Setiap ada gundukan tanah kami gali sekedarnya. “Umpomo recane kuwi isih enek mestine panggonane yo nang kene (seandainya arcanya ada seharusnya tempatnya di sini, Red),” kata Suko.

Masih menurut Suko, menurut informasi yang dia dapat, dulu arca itu duduk menghadap ke timur. Di sisi timur arca itu jurang dan ada sumber air di celah bebatuan di dekatnya. “Namanya Sumber Utuk. Karena air yang keluar dari celah-celah batu itu berbunyi blukutuk… blukutuk… blukutuk…. Maka dinamai Sumber Utuk. Area ini sepertinya cocok dengan info itu. Mungkin lokasi sumbernya di bawah situ,” kata Suko sambal menunjuk jurang di sisi timur area makam itu.

Kami terus mencari. Setiap pangkal pohon besar tak luput dari pengamatan kami. Area makam itu seperti benar-benar ditata. Tanahnya datar rapi. Di ujung utara makam tumbuh serumpun bambu kuning. Di sisi timur hanya menurun curam. Sementara di selatan makam tumbuh subur tanaman puring.

BUKTI : Uang logam yang menjadi tanda bahwa di tempat itu pernah menjadi lokasi orang meletakkan sesaji.

BUKTI : Uang logam yang menjadi tanda bahwa di tempat itu pernah menjadi lokasi orang meletakkan sesaji. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Tanah datar area makam itu kira-kira berukuran 6 x 6 meter. Tiga pasang batu nisan itu ada di dalam situ. Ukuran batu nisan itu kira-kira sebesar TV tabung 14 Inci. Namun volumenya lebih ramping. Lebih datar dan tidak menggelumbung laiknya TV tabung.

Hingga beberapa saat mencari, kami tidak menemukan apa-apa. Kami perpendapat, mungkin Reco Putri itu sengaja dikubur seseorang untuk menyembunyikannya dari jarahan. Mbah Bakin bernisiatif untuk menggali area di sekitar makam itu. Namun tak menemukan sesuatu. Kamudian beralih menggali di sekitar batu nisan.

Menggunakan parang, Mbah Bakin terus menggali di sekitar nisan. Banyak akar-akar pohon yang harus dipotong dalam galian itu. Kami menggali kira kira hingga kedalaman 50 sentimeter. Hingga batu nisan itu dapat kami angkat dari tempatnya. Tanahnya gembur subur. Saat batu nisan terangkat, ikut terbawa sebuah uang logam. Uang itu kusam tidak jelas terbaca. Sepertinya sudah lama terpendam.

Dengan sisa air yang kami bawa, kami membersihkan uang logam itu. Setelah bersih baru terbaca. Uang logam Rp 50. Dengan angka tahun 1971. “Kalau ada uang logam seperti ini, pasti dulu di sini pernah digunakan untuk menempatkan sesaji. Dalam sesaji biasanya selain kembang setaman, pisang, dan minyak wangi, juga dilengkapi dengan uang logam,” duga Mas Ari.

Temuan uang logam itu semakin meyakinkan kami bahwa di situ pernah digunakan tempat untuk pemujaan. Diperkuat tanaman puring dan batu nisan tadi. Kami juga meyakini jika Reco Putri dulu juga berada di situ. Kami jadi meyakini informasi bahwa ada yang membawa arca tersebut ke bawah.

Kami melanjutkan menggali ke sekitar lokasi nisan batu lainnya. Namun tak menemukan apa-apa. Merasa cukup menggali, kami mengembalikan kondisi tanah dan nisan seperti semula. Menutupinya lagi dengan dedaunan kering yang berserak di situ. Saat itu pukul 15.10 WIB. Kami bersiap meninggalkan lokasi itu.

Sebelum beranjak pulang, kami berdoa sejenak. Berharap kepada Yang Kuasa agar Alas Ngreco tetap lestari. Tersembunyi di ketinggian. Jauh dari tangan jahil dan tetap mistis dengan sejuta misterinya.

Keluar dari area Alas Ngreco ternyata matahari masih menyengat panas. Sampai kembali di Kawasan Watu Congol pukul 15.30. Kami kembali mengemas peralatan yang kami tinggal di situ. Bersiap turun.

Jalur pulang kami pilih berbeda dengan berangkat. Dari Kawasan watu congol kami langsung nge-track ke arah timur. Jalannya lebih bagus dengan kondisi menurun tajam. Kami terus menuruni jalan menurun itu. Dengan menyibak alang-alang di sepanjang jalan. Kira-kira 5 kilometer lebih jalan menurun itu. Kondisi itu membuat kaki saya kram menahan beban tubuh dan tas carrier. Beberapa kali harus berhenti untuk melemaskan kaki.

Jelang Magrib kami tiba di sungai Bruno. Berhenti sejenak di situ untuk mengisi air. Kemudian langsung naik mendaki menuju lungur tipis di dekat hutan Kaliandra tempat kami berangkat.

Medan ini benar-benar berat. Kemiringan antara 70 sampai 80 derajat. Kondisi malam hari. Kami terus merayap. Menuju puncak. Hampir lima jam kami mendaki. Baru sampai di atas. Kemudian turun ke kawasan Jeruk tempat motor kami parkir.

Tepat pukul 23.30 WIB kami tiba kembali di Dusun Karanglo. Benar-benar ekpedisi dengan track yang ekstrem. Telapak kaki saya bengkak semua. Kuku ibu jari pun hampir lepas tergencet sepatu saat track menurun. Raga lelah sekali, namun senang. Pulang dengan membawa berbagai cerita.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia