Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Menguak Misteri Alas Ngreco (3)

Temukan Kuburan Tua di Bawah Tanaman Puring

09 Januari 2019, 11: 09: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

MISTIS: Penulis berada di bawah pohon berukuran besar yang tumbuh di Alas Ngreco.

MISTIS: Penulis berada di bawah pohon berukuran besar yang tumbuh di Alas Ngreco. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Masuk area Alas Ngreco, tim ekspedisi tak hanya disambut udara dingin. Juga suasana mistis. Di rerimbunan hutan lebat, terdapat area kuburan tua dengan nisan batu.

Usai makan siang dan istirahat kami kembali berjalan. Jarak ke Alas Ngreco masih sekitar 500-an meter. Mbah Samuji menunjuk rerimbunan hutan lebat di atas gunung. “Itu lokasi Alas Ngreco. Yang pohonnya besar-besar setelah alang-alang,” tunjuk Mbah Samuji.

Di masa mudanya dulu Mbah Samuji adalah tukang gladak. Istilah untuk seorang pemburu binatang. Jika sedang berburu, berhari-hari dia keluar masuk hutan Wilis. Dia tidak sendiri. Ditemani anjing-anjing khusus yang dilatih untuk melacak dan mengejar hewan di hutan.

Kini dia memang sudah pensiun berburu. Namun ingatannya tentang seluk beluk hutan Wilis masih sangat prima.

Kami berangkat tanpa membawa peralatan. Semua ditinggal di bawah celah Watu Congol. Hanya bekal air dan kamera yang saya bawa. 100 meter pertama jalanan mendatar. Masih ditumbuhi alang-alang yang menjulang hingga melebihi tinggi kami. Setelah itu langsung menanjak ekstrem. Untung kami terbebani dengan peralatan.

Setelah 30 menit berjalan kami sampai di ujung jalan alang-alang. Di depan menghadang hutan lebat dengan pepohonan menjulang. Kami berhenti sejenak sebelum masuk ke hutan itu. Angin berembus dingin dari arah hutan.

Mbah Samuji dan Suko masuk lebih dulu. Mas Ari, saya, Kipeng, dan Mbah Bakin menyusul di belakangnya. “Ya ini alas Ngreco. Hawane yo sintrung ngene iki (suasana ya mistis seperti ini, Red),” ujar Mbah Samuji.

Begitu masuk ke kawasan Alas Ngreco, saya merasakan udaranya dingin lembab. Bukan sejuk. Pepohonan tua dengan ukuran besar-besar masih tegak berdiri. Di bawah pepohonan itu tumbuh tanaman mirip laos tapi tingginya sampai di atas kepala kami. Sementara di bawahnya rerumputan. Seperti rumput hias namun tidak terawat. Sinar matahari hanya sedikit yang menembus sampai bawah.

Semakin masuk udara semakin dingin lembab. Di bawah pepohonan besar banyak rongga. Tanah berserakan di dekat rongga itu. “Ini kalau tidak babi hutan, ya trenggiling yang melakukan,” ujar Ari Kusdwianto.  

Saya merasakan suasana di dalam hutan itu benar-benar lain dibanding hutan-hutan yang pernah saya datangi. Seperti ada yang sedang mengawasi.

Kami berhenti di bawah sebatang pohon besar. Entah kenapa, tanpa dikomando, kami berhenti duduk agak menjauh dari pohon itu. Memandang ke arah pohon besar itu. “Lek gak salah, tekan crito soko Pak De ku, ndisik nag isor wit iki enek pawonan (Kalau tidak salah, dari cerita paman saya, dulu dibawah pohon ini ada tungku, Red),” guman Suko bercerita.

Setelah duduk beberapa saat, kami kembali memeriksa sekitar Alas Ngreco. Kami menyebar memeriksa setiap bagian di sana. Salah satu arca yang terkenal di Alas Ngreco adalah Reco Putri. Konsentrasi kami mencari keberadaan arca itu. Meskipun menurut info sebelumnya, kami diberitahu arca itu sudah dicuri dan dibawa ke luar hutan. Namun ada info lain yang bilang arca itu sudah kembali ketempat semula. Kami terus mencari hingga radius sekitar 300 meter dari pohon besar tempat kami duduk tadi.

Hampir setengah jam mencari, hasilnya nihil. Kami tidak menemukan apa-apa. Padahal hari semakin sore. Hampir pukul 15.00. Di hutan seperti itu suasananya sudah mirip maghrib.

Kontur tanah di Alas Ngreco ini seperti teras siring. Mendatar kemudian ada teras naik dan mendatar lagi. Sepertinya pernah ada kehidupan di sini.

“Hoooeeee…. nang kene,” tiba-tiba terdengar teriakan Mbah Bakin. Dari lokasi yang agak di ketinggian, Mbah bakin memanggil. Sepertinya dia menemukan sesuatu. Kami pun yang tadinya menyebar segera mendatangi lokasi Mbah Bakin.

Di lokasi itu Mbah Bakin menemukan tiga pasang batu. Di sekitar batu itu banyak ditandai dengan tanaman puring. Kami berasumsi bahwa batu itu adalah batu nisan. Tiga pasang batu membujur ke utara. Namun ukurannya lebih panjang dari kuburan manusia pada umumnya. Jarak batu nisan itu sekitar 4 meteran.

Yang memperkuat prediksi kami kalau itu kuburan adalah tanaman puring yang ada di sekitarnya. Layaknya tradisi orang Jawa, puring sering digunakan sebagai penanda pekuburan.

Kamipun berkumpul di area itu. Duduk melingkar di dekat batu itu. Untuk beberapa saat kami terdiam. Dalam hati saya berdoa. Memohon keselamatan kepada yang kuasa. Memohon izin mengeksplorasi Alas Ngreco.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia