Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Menguak Misteri Alas Ngreco (2)

Menyusur Kali Bruno, Mendaki Watu Congol

09 Januari 2019, 11: 00: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

EKSOTIK : Tim Jawa Pos Radar Kediri - Gudang Garam Ekspedisi Wilis saat beristirahat di Watu Congol.

EKSOTIK : Tim Jawa Pos Radar Kediri - Gudang Garam Ekspedisi Wilis saat beristirahat di Watu Congol. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Karena lama tidak dijamah manusia. Tim ekspedisi harus membuat jalan baru menuju Alas Ngreco. Jalur super-ekstrem pun harus dilalui. Berikut kisahnya.

Pagi menjelang. Saat itu sekitar pukul 04.00. Saya terbangun karena ada air masuk ke hidung. Padahal tidak hujan. Air itu dari embun yang membasahi tempat itu. Saya, Ari, Kipeng, dan Mbah Bakin tidur di dalam sleeping bag di luar tenda. Semuanya basah oleh embun. Basah sebasah-basahnya bagai diguyur air. Namun saya merasa udara tidak terlalu dingin. Terasa segar dan sejuk.

Sejurus kemudian, di timur langit mulai terlihat semburat merah. Indah sekali. Di sisi barat, puncak Wilis kokoh berdiri. Di utara dan selatan kami lembah dengan jurang dalam. Di atas bibir jurang itu ditumbuhi alang-alang.

Di bawahnya semak-semak dan pepohonan besar. Jauh dibawah lembah, di atas pepohonan, kami melihat gerombolan budeng (monyet hitam besar). Berlompatan dari pohon ke pohon.

Usai merapikan tenda dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Berjalan ke arah barat. Menyusuri lungur tipis dengan alang-alang. Sekitar 500 meter berjalan, kami sampai di Watu Tugu. Tepat di tengah jalan daerah itu ada sebuah batu besar yang permukaanya rata mirip tugu.

Tujuan kami, Alas Ngreco sudah terlihat di kejauhan. “Lihat itu, batu besar mencongol di atas tebing sebelah barat selatan itu. Alas Ngreco tepat di atas daerah itu,” ujar Suko yang juga diiyakan oleh Samuji.

Ada dua pilihan jalur. Jalan terus ke arah barat mendaki puncak kemudian melingkar ke selatan dan turun ke sisi Alas Ngreco. Atau langsung belok ke selatan menurun tajam menuju lembah dalam kemudian mendaki ke Alas Ngreco. Kami memilih jalur yang kedua. Menurut perhitungan kami lebih jaraknya pendek dan lebih ringan.

Saat itu kira-kira pukul 07.00 pagi. Udara terasa segar dengan mentari hangat menyinari. Suko dan Mbah Samuji jalan di depan membuka jalan. Kami langsung turun ke selatan menuruni lembah. Bukan jalan setapak. Tapi membuat jalan baru. Menebangi semak belukar. Berkali-kali kami melewati tanah berlubang bekas babi hutan. Sepertinya di situ habitat babi hutan berkembang biak.

Terkadang kami harus merambat di tebing batu. Dengan kemiringan hampir tegak lurus. Hanya berpegangan akar atau tumbuhan perdu. Tak hanya sekali, kira-kira puluhan jumlahnya tebing yang kami lewati. Bahkan, beberapa di antara tebing itu licin berair dengan lumut tipis menghijau.

“Ini jalur super-ekstrem, pelan-pelan saja,” ujar Ari Kusdwianto, tim pendaki profesional yang mendampingi kami.

Tak hanya sekali, berkali-kali saya terperosok. Tulang kering kaki saya benjol dan terberet di beberapa tempat karena terantuk batu. Tangan saya, meski memakai sarung tangan kulit, masih bisa terluka karena terpaksa berpegangan pada tanaman berduri. Perih dan panas di luka itu. Beban tas carrier di punggung yang berisi perbekalan membuat langkah kami semakin lambat.

Track menurun itu kami lewati kira-kira sejauh 2 kilometer. Kira-kira pukul 08.45 WIB, kami mendengar gemericik aliran air. Terdengar jauh di bawah kami. Suasana yang kami lewatipun berubah. Kalau sebelumnya semak belukar, kini masuk pepohonan besar khas hutan homogen. Meski kontur tanahnya masih miring, tapi tak securam tadi. Udaranya pun lebih lembab.

Kami terus berjalan menurun. Menuju suara aliran air. Kami jumpai juga rerumpunan hutan bambu. Bambu-bambu itu berlumut. Mungkin berusia puluhan tahun. Suara air semakin keras terdengar. Sebelum bertemu sumber suara itu, beberapa kali kami melewati sungai kecil yang mengalir dari celah tebing.

Pukul 9.23 wib. Kami tiba di sungai besar. Airnya jernih mengalir. Saya langsung minum air itu. Sangat sejuk dan segar sekali. “Sungai ini hulu Kali Bruno yang mengalir di antara Desa Kanyoran dan Desa Selopanggung, di bawah alirannya lebih besar dari ini,” ujar Suko. Kami istirahat beberapa saat di sungai itu. Mengisi air dan membasuh muka. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

Kami menyisir hulu Kali Bruno itu. Naik terus mencari celah naik ke sisi selatan. Beberapa kali kami harus memutar karena aliran sungai sangat terjal tak bisa kami lewati. Banyak pepohonan tua roboh melintang di tengah sungai. Banyak juga potongan tubuh hewan kecil bekas dimangsa hewan lainnya.

“Biasanya kucing hutan atau hewang pemangsa lainnya kalau makan membawa korbannya ke dekat sungai. Makanya disini banyak kotoran hewan dan sisa makanan hewan itu,” ujar Ari Kusdwianto.

Kira-kira 500 metar menyusur sungai, kami menemukan celah untuk naik tebing di sisi selatan sungai. Di celah itu kami menemukan banyak sekali bunga cocor bebek. Tumbuh di tebing batu di atas sungai. Kami terus naik di tebing itu. Matahari mulai menyengat panas. Jam menunjukkan pukul 11.12 WIB.

Di depan kami berdiri tebing dengan semak belukar yang lebat. Kemiringan kira-kira 80 derajat mendekati 90 derajat. Kami terus merambat setapak demi setapak. Berpegangan dari akar satu ke akar lainnya. Dari belukar satu ke belukar lainnya.

Tanjakan itu seakan tak habis-habis kami daki. Sepuluh meter merayap, berhenti sejenak mengatur napas. Terus begitu. Kira kira sejauh 700 meter. Tepat satu jam perjalanan. Kami tiba di atas. Tanahnya datar dengan tanaman cemara. Meski mentari panas bersinar, angin sepoi-sepoi mereduksi panasnya.

Tanah datar itu bawahnya menghitam. Tanda bekas terbakar. Membentang ke arah barat. Dengan kanan kiri jurang dalam. Kami menyusuri jalan itu menuju barat.

Pukul 12.40 kami tiba di Watu Congol. Sebuah batu sebesar rumah tepat di punggung gunung. Kami istirahat di situ. Makan siang seadanya. Masih menu yang sama. Mi insatan dan jeli rasa buah. Tujuan kami alas Ngreco sudah tampak di depan kami. Kira-kira 500 meter dari Watu Congol itu. Berada di ketinggian gunung. Kami harus mendaki lagi. Lelah, namun semangat kami masih membara. Bersiap ngos-ngosan lagi.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia