Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Features
Pagi Diberi Roti, Siang Dikirim Nasi

Mikem dan Ketang, Kakak Beradik yang Lumpuh asal Kelurahan Kramat

07 Januari 2019, 18: 51: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

SAUDARA KANDUNG: Mikem (kiri) bersama Ketang, adiknya, saat berada di kediamannya di Lingkungan Mantup, Kelurahan Kramat, Kecamatan Nganjuk, kemarin.

SAUDARA KANDUNG: Mikem (kiri) bersama Ketang, adiknya, saat berada di kediamannya di Lingkungan Mantup, Kelurahan Kramat, Kecamatan Nganjuk, kemarin. (ANWAR BAHAR BASALAMAH - RADARKEDIRI.ID)

Kehidupan Mikem dan Ketang tengah menghadapi ujian dari Yang Maha Kuasa. Kakak beradik yang tinggal serumah ini mengalami lumpuh total. Untuk keperluan sehari-hari, dua bersaudara asal Kramat, Nganjuk  itu dibantu sang keponakan.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Jarum jam menunjukkan pukul 14.00. Deru motor baru saja berhenti di depan sebuah rumah sederhana di tepi jalan di Lingkungan Mantup, Kelurahan, Kramat, kemarin. Sumaji, pengendara motor itu, kemudian masuk dari pintu samping.

Setelah itu, dia mempersiapkan peralatan mandi untuk Ketang, sang paman. Sebelum kedatangan Sumaji, pria 50 tahun itu terlihat kelesotan di tengah pintu. Tak banyak kata yang terucap dari mulutnya. Ketang hanya mampu memandang kedatangan para tamu-tamunya. “Orangnya lumpuh,” kata Sumaji kepada wartawan koran ini yang kemarin bertandang ke sana.

Sementara di dalam  rumah, Mikem, kakak Ketang, hanya duduk di sebuah kursi plastik sembari menonton televisi. Di sampingnya, ada kursi roda. Dibanding sang adik, kondisi perempuan 60 tahun itu lebih baik. Dia masih bisa diajak berbicara. "Tapi tidak bisa kemana-mana. Bisanya cuma duduk,” kata Mikem.

Ya, Mikem dan Ketang merupakan dua bersaudara yang tinggal di rumah berukuran 3 x 9 meter itu. Keduanya sama-sama mengalami kelumpuhan. Kedatangan Sumaji kemarin untuk membantu keperluan kakak beradik itu. Setiap hari, sang kepokan itu yang mengurus mereka.

Contoh yang paling sederhana adalah membantu memandikan. Kemarin, setelah mandi, Sumaji lantas menggendong sang paman ke ruang tengah. Kentang lalu ditidurkan di sebuah kasur tipis di samping meja televisi. Setelah itu, pria 36 tahun itu membantu mengenakan pakaiannya. “Hampir setiap hari seperti ini. Sehari, mandinya satu kali,” ungkapnya.

Selain urusan mandi, Sumaji yang mengirim makanan ke Mikem dan Ketang setiap harinya. Kebetulan, rumah mereka hanya berada di satu lingkungan yang berjarak sekitar 100 meter.

Biasanya, bapak satu anak itu mulai mengantarkan sarapan sekitar pukul 09.00. Karena tidak terbiasa makan pagi, Sumaji hanya membawa roti dan beberapa jenis makanan ringan. “Mereka jarang makan nasi kalau pagi,” ujarnya.

Beranjak siang, setelah pulang dari sawah, Sumaji kembali menjenguk paman dan bibinya itu. Selain mengantarkan makan siang, dia juga selalu memandikan Ketang. Sementara Mikem lebih mandiri. “Soal makan, mereka tidak susah. Jadi lauk apa saja mereka mau,” ungkap petani ini.

Rutinitas itu sudah dijalani Sumaji sejak dua tahun lalu. Kala itu, Mikem yang semula sehat tiba-tiba jatuh sakit. Dari diaganosa awal menderita penyakit tipes, kemudian jadi lumpuh. “Hampir sebulan badan saya adem-panas terus,” kata Mikem.

Dia mengaku, sudah membawanya ke RSUD Nganjuk. Namun penyakitnya itu tidak kunjung sembuh. Sampai pada akhirnya, di saat gejala itu muncul, kakinya sulit digerakkan. Saat itu, dia mengeluh merasakan panas di kedua kakinya.

Lambat-laun karena jarang dipakai berjalan, kedua kakinya semakin mengecil. Sejak sakit itu, perempuan yang pernah menikah pada 1982 itu akhirnya berhenti bekerja. Sebelumnya, Mikem berjualan tahu keliling kampung. “Saya dulu ke mana-mana naik sepeda berjualan tahu,” ungkapnya.

Dengan kondisi itu, Mikem tidak mampu lagi mengurus sang adik yang lebih dulu sakit. Karena itulah, setelah lumpuh, semua urusan rumah tangganya dibantu sang keponakan. Untungnya, sekitar setahun lalu, dia mendapat bantuan kursi roda dari pelanggannya dulu.

Dengan kursi roda, Mikem bisa lebih mandiri. Sebelumnya, semua keperluan pribadi harus mengandalkan Sumaji. Mulai mandi, makan, menutup pintu, sampai bersih-bersih rumah. “Sekarang saya lebih mandiri. Tinggal Ketang yang tidak bisa ke mana-mana,” kata anak kedua dari empat bersaudara ini.

Jauh sebelum dirinya sakit, Ketang memang lebih dulu lumpuh. Menurut Mikem, sang adik, yang dulu bekerja sebagai juru parkir (jukir), jatuh di tempatnya bekerja di RSUD Nganjuk, sekitar 8 tahun lalu. Setelah itu, Ketang mulai lumpuh.

Mereka sudah beberapa kali berobat. Baik secara medis maupun herbal. Namun Mikem sendiri tidak bisa memastikan penyebab utama kelumpuhan kaki mereka.

Yang pasti, dia selalu berharap kesembuhan. Karenanya, meski lumpuh, Mikem tidak mau merepotkan orang lain. Selagi bisa, dia tetap berusaha membersihkan rumah dan mengurus keperluan pribadi secara mandiri. “Sekali-kali, saya ikut membantu menyuapi Ketang,” kata anak dari Sukiran dan Samirah ini.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia