Rabu, 27 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Features

Puji Wahono, Sosok di balik Si Mapu, Maskot Persik

Ingat sang Buah Hati saat Diajak Foto Anak-Anak

07 Januari 2019, 16: 39: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

maskot macan putih persik

CINTA: Puji Wahono sesaat sebelum melepas topeng Si Mapu (Andhika Attar - radarkediri.id)

Sosoknya selalu ditunggu-tunggu belasan ribu Persikmania. Semua yang datang pada laga kandang Macan Putih pasti melihatnya. Namun, tidak banyak yang mengenal sosok di balik maskot tersebut.

ANDHIKA ATTAR

Gemuruh belasan ribu suporter Persik Kediri terdengar dari lorong pemain di stadion Brawijaya. Nyanyian, chant, dan sorakan seakan mengundang untuk segera memasuki lapangan.

Wajah-wajah serius pemain dan ofisial menjadi pemandangan lumrah. Semuanya sibuk mempersiapkan diri. Begitu juga dengan Puji Wahono. Sosok pria yang berada di balik Si Mapu, maskot Persik Kediri.

Di salah satu ruang yang bersebelahan dengan ruang ganti tim tamu, Mas Wah- begitu ia dipanggil- mengenakan kostum kebanggaannya. Dengan semangat Mas Wah mengenakan kostum yang terdiri dari tiga bagian itu.

Yang pertama dipakainya adalah kostum di bagian badan. Dibantu temannya Miftahul Qolbi. Resleting di bagian belakang pun terpasang. Keduanya memang selalu bersama kala menunaikan kewajiban menjadi maskot Persik. Selain itu, mereka memang tergabung dalam satu kelompok suporter yang sama. Yaitu kelompok Gerakan Cinta Persik (GCP).

“Pakai bajunya  dulu, biar macannya gak telanjang,” kelakar Qolbi saat memberikan jersey bertulis Djajati kepada Mas Wah.

Lalu sepatu dan sarung tangan yang menyerupai telapak kaki dan tangan macan. Terakhir, topeng kepala macan. Lengkap sudah sosok Si Mapu.

Melangkah setelah para pemain tak membuat sambutan kepadanya berkurang. Tak jarang sambutan lebih intim justru diberikan kepadanya. Bisa jadi karena ia selalu menghampiri setiap sisi tribun yang ada. Setiap teriakan penonton dibalasnya dengan lambaian dan tepukan tangan.

Si Mapu telah memiliki tempat tersendiri di hati suporter Persik. Terutama untuk mereka yang sering membawa anak ke stadion. Meminta bersalaman dan berfoto bersama. “Meski lelah, kalau ada anak-anak minta foto pasti saya layani. Kadang juga saya gendong,” aku Mas Wah.

Pria asal Kandat tersebut memang memiliki kedekatan khusus dengan anak-anak. Pasalnya, setiap kali bersama anak-anak yang meminta foto, Mas Wah selalu teringat dengan sang buah hati tercinta. Anak lelakinya meninggal tak lama setelah ia didapuk menjadi sosok di balik Si Mapu. Yaitu sekitar tahun 2016 saat Persik masih berada di Liga 2.

Disaat ia menghibur anak-anak di stadion Brawijaya, jauh di dalam hatinya menahan rindu dengan jagoan kecilnya. Tak pernah ia menjadi trauma bahkan tumbuh rasa penyesalan.

Menjadi maskot Persik Kediri adalah kebanggaan tersendiri. Meskipun tidak dibayar atau mendapatkan upah dari kelompok suporter bahkan manajemen, pria berumur 30 tahun itu tidak mempermasalahkannya. “Makan saja mbontot dari rumah,” celetuknya.

Kostum macan tersebut telah ada sejak 2010 silam. Buatan dari perajin asal Bandung. Inisiatornya tak lain adalah dari kelompok GCP sendiri. Namun kini, mskot tersebut seperti sudah menjadi milik warga Kediri raya.

Sempat lama tak ada yang memakai karena tidak ada yang cocok posturnya, maskot tersebut hanya disimpan. Pernah sekali dipakai oleh rekannya, namun tidak pas. Berbeda dengannya, topeng Mapu tersebut seperti sengaja dibuat untuknya. Serasa sangat pas di badannya. “Kalau saya kan agak gemuk dan tinggi, jadi pas. Kalau Qolbi yang pakai, ekornya nyeret di tanah,” sindirnya kepada sang rekan.

Memakai kostum tebal di bawah terik matahari tentu saja memberi kesan tersendiri. Di dalamnya, ia merasa seperti sedang di dalam sauna. Baju yang dipakainya pun pasti basah oleh keringat. Namun, hal itu justru disyukurinya. “Sekalian bakar kolesterol. Saya kan juga agak gemuk,” ujarnya sembari tertawa.

Mas Wah, memang sudah menjadi suporter sejak Persik merangkak di divisi satu Liga Indonesia. Hingga akhirnya Persik bisa menjadi tim juara, pernah dilaluinya. Di saat Persik jatuh lagi ke liga 3 Indonesia, ia mengaku sangat kecewa. Namun kini ia bisa kembali berbangga, tim idola menjadi kampiun Liga 3 Indonesia dan promosi ke level atasnya.

Ada komitmen tersendiri ketika didapuk menjadi maskot Persik. Ia dilarang membuka topeng di depan orang banyak. Minimal, hanya diperbolehkan saat berada di lorong pemain. Hanya segelintir orang yang mengetahui siapa sosok di balik kostum tersebut. “Pernah diminta buka oleh Bejo Sugiantoro, saya turuti tapi tetap tidak di depan orang banyak,” kenangnya.

Tiada gegap gempita khusus untuknya. Ia pun tidak mempermasalahkan. Baginya, sosok Si Mapu lebih penting daripada egoisme dirinya untuk terkenal. Puji Wahono, pria yang menghidupkan api cinta di Stadion Brawijaya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia