Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

PKL Pare Berjualan di Bahu Jalan dan Trotoar

07 Januari 2019, 14: 06: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

taman pare

BELUM PINDAH: Warung-warung pedagang kaki lima Taman Hutan Kota masih berada di bahu Jalan RA Kartini, Kelurahan/Kecamatan Pare karena taman belum dibuka. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Molornya pembukaan dua taman kota di Kecamatan Pare membuat pedagang kaki lima (PKL) di sana harus bersabar. Sebab, dari jadwal pada akhir 2018, hingga awal 2019 ini mereka masih belum dipindahkan.

Ini lantaran pembukaan Taman Ringinbudho (alun-alun) dan Taman Hutan Kota tersebut belum diresmikan. Seperti yang dirasakan Heri, salah satu PKL di sana. Dia mengaku bingung karena hingga kemarin belum bisa pindah. Pasalnya, belum adanya kepastian dari pemerintah kapan Taman Ringinbudho tempatnya berjualan dibuka resmi.

“Dulu dijanjikan akhir Desember sudah bisa jualan di dalam, tapi hingga hari ini (kemarin) belum ada kabar lagi,” ujarnya.

Memang, dari jadwal pengerjaan proyek taman senilai Rp 1,7 miliar tersebut, PKL diberi waktu tiga bulan. Itu sejak Agustus 2018. Dulu mereka direlokasi lantaran Taman Ringinbudho sedang direnovasi. Relokasi sempat menuai kontroversi karena tempat yang disediakan tidak bisa memenuhi PKL yang ada.

Dari pantauan di lokasi, sejumlah PKL Ringinbudho yang dahulu memenuhi Jalan Kawi, Kelurahan Pare, kemarin, tampak sepi. Beberapa di antaranya memilih untuk berpindah lokasi jualan. Alasannya, lokasi jualan yang tidak strategis. Bahkan ada yang memilih berjualan di trotoar depan SDN Pare 2 dan trotoar dekat patung 2 anak cukup.

Sementara itu, lapak semi-permanen di dalam taman yang terletak di Jl Ahmad Yani itu juga sudah terlihat selesai dibangun. Termasuk fasilitas pendukung lain. Namun, pagar seng yang mengelilingi taman hingga kemarin belum dibuka.

“Kabarnya menunggu rumput tumbuh. Padahal pedagang di sini sudah menanti taman segera dibuka kembali,” imbuh Heri.

Di Taman Ringinbudho nantinya akan ada 22 petak yang disediakan untuk PKL. Dari jumlah tersebut dibagi menjadi 2 sif, yakni siang dan malam. Sehingga total pedagang yang bakal menempati petak tadi 44 orang. Mereka yang telah terdaftar dalam paguyuban PKL Ringinbudho berhak mendapat jatah lapak itu.

Nasib sama dialami PKL di Taman Hutan Kota. Mereka juga menunggu kepastian pembukaan areal taman yang dijanjikan pemkab pada akhir Desember 2018. Namun hingga kemarin Hutan Kota Pare itu belum sepenuhnya dibuka. PKL pun masih menempati lokasi penampungan sementara di bahu Jalan RA Kartini.

Belum adanya kepastian ini dikeluhkan oleh Joko, salah satu warga yang sering mengunjungi Taman Hutan Kota. Pria yang sering nongkrong bersama rekan-rekannya di hutan kota itu, mengaku, prihatin dengan PKL yang menempati bahu jalan. Pasalnya, selama ini kondisi akibat lokasi yang kurang strategis itu mengakibatkan semakin sepinya pengunjung.

“Banyak pedagang mengeluh karena pendapatannya menurun sejak dipindah ke luar,” ungkapnya.

Slamet, salah satu pedagang, pun mengaku bahwa dalam satu hari biasanya ada puluhan pengunjung yang mampir ke warungnya. Namun kini tidak demikian. Sebab kondisi parkir yang sempit membuat orang enggan mampir.

Meski begitu, dia tetap bersabar dengan kondisi ini. Menurutnya, pagar penutup Hutan Kota Pare telah dibuka beberapa waktu lalu. Tetapi belum difungsikan.

Untuk diketahui, proyek pembangunan Taman Hutan Kota ini sebelumnya dijadwalkan selesai pada 23 Desember 2018. Area PKL berjualan nantinya akan berstatus semi-permanen. Yaitu dengan rangka tiang penyangga yang terbuat dari bahan galvanis. Sedangkan untuk rangka atap menggunakan material besi.

Area kuliner tersebut dibagi menjadi dua. Saling berhadapan utara selatan. Masing-masing sisi memiliki sembilan los atau lapak yang disediakan. Sehingga totalnya ada 18 lapak.

Sementara luas area tersebut masing-masing sekitar 6x27 meter persegi. Sehingga setiap los atau lapak di sana memiliki lebar sekitar tiga meter. Nantinya PKL yang berhak menempati lokasi tersebut tidak akan dipungut biaya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia