Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Kuliner Khas Warga Pegunungan (4)

Menyantap Sayur Pakis Lereng Wilis

04 Januari 2019, 13: 54: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

MENGGOYANG LIDAH: Masakan tumis sayur pakis menjadi salah satu kuliner khas warga Pegunungan Wilis. Di hari biasa, pengunjung harus pesan terlebih dahulu.

MENGGOYANG LIDAH: Masakan tumis sayur pakis menjadi salah satu kuliner khas warga Pegunungan Wilis. Di hari biasa, pengunjung harus pesan terlebih dahulu. (Ramona Valentin - radarkediri.id)

Share this          

Warnanya hijau muda. Dengan bakal daun yang melengkung membentuk spiral. Bila dijadikan sayur dan dihidangkan dengan nasi yang masih hangat, dijamin orang akan ketagihan.

Nama tumbuhan ini pakis. Banyak tumbuh di lereng Pegunungan Wilis. Sebab, tumbuhan ini memang tumbuhan khas daerah pegunungan. Biasa hidup subur di ketinggian 600 sampai 1.000 mdpl. Ini merupakan tumbuhan jenis paku-pakuan.

Pakis tumbuh liar di hutan-hutan. Warga lereng Wilis biasa mencari pakis sembari mencari kayu bakar. Saat pulang mereka sering membawa tumbuhan ini. Dijadikan sayur tumis.

Ya, pakis memang nikmat disajikan dalam bentuk oseng alias tumis. Namun, bagi kita yang bukan warga lereng Wilis tak bisa mudah mendapatkan menu ini di warung-warung yang ada. Kita harus lebih dulu memesan. Baru kemudian si empunya warung bisa menyiapkan pesanan kita.

“Wah kesalahan sampean ke sini kalau hari biasa. Karena pakis ini dapatnya harus ke hutan dulu. Memang banyak tumbuhannya tapi di hutan,” jawab Sudiro, seorang pemilik warung yang dikenal sering menyediakan makanan tumis pakis. Warung Sudiro ada di kawasan wisata air terjun Irenggolo. Dekat dengan arena flying fox.

Sudiro menjelaskan bila sayur pakis sering tersedia saat hari libur seperti Sabtu atau Minggu. Sedangkan hari biasa kadang tersedia kadang tidak. Karena jumlah pengunjung tempat wisata tidak sebanyak hari libur. Laki-laki 51 tahun ini mengakui walaupun tanaman pakis yang berjumlah banyak di lereng Wilis, namun tidak semuanya bisa dikonsumsi. Bukan karena beracun, melainkan saat dimasak akan muncul rasa pahit. “Kalau saat kita petik dan dicuklek batangnya pakis. Pasti kelihatan bagian dalam batangnya. Kalau ada bintik-bintik hitamnya dia bisa dimasak,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bila batang pakis yang memiliki bintik-bintik putih justru akan pahit rasanya setelah dimasak. Sehingga saat sebelum dimasak wajib bila bagian bantangnya dicek. Apakah berbintik hitam atau putih.

Diakui Sudiro, tumis pakis sudah ada sejak dulu. Sekitar 1970-an. “Bisa saja tahun sebelumnya sudah ada juga, sayanya yang tidak tahu,” tuturnya. Sedangkan untuk mengolah tumis ini cukup mudah. Hampir mirip dengan tumis-tumis lainnya. Dengan irisan rempah-rempah alami seperti bawang, cabai hingga lengkuas. Dan pakis yang sudah diiris bisa langsung dimasukan  setelah rempah-rempah ditumis hingga harum. “Masakan ini harus disantap saat masih panas. Kalau sudah dingin dan terlambat menikmatinya dia akan berwarna hitam,” katanya.

Menu tumis pakis ini lebih nikmat dinikmati saat kondisi hangat. Selain tekstur sayurnya yang masih terasa dan renyah, juga masih berwarna hijau segar. “Kalau ada orang yang pesen tumis pakis, baru kita masakin. Kalau kita sudah masakin duluan dan tinggal menyajikan, rasanya sudah tidak enak lagi dan sayurnya menghitam,” imbuhnya.

Tumbuhan yang tumbuh subur di daerah dingin dan lembab ini juga bisa disajikan bersama nasi dari jagung atau nasi dari tiwul. Karena bisa memunculkan kesan makanan khas pegunungan dan pedesaan. “Ini masih jarang dijumpai di perkotaan. Memang cukup banyak (tersedia) di lereng-lereng Wilis. Karena tumbuhya di sana,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia