Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

Saksi Anggap Korban ‘Meracau'

Pengadilan Belum Tentukan PH Tersangka Ririn

03 Januari 2019, 12: 34: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

MALU: Ririn berjalan keluar ruangan usai menjalani sidang di PN Kabupaten Kediri kemarin.

MALU: Ririn berjalan keluar ruangan usai menjalani sidang di PN Kabupaten Kediri kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN – Sidang kasus percobaan pembunuhan yang dilakukan Ririn Septifiana, 39, akhirnya berlangsung lagi kemarin. Setelah sebelumnya, sidang sempat mengalami penundaan sebanyak dua kali.

Hingga sidang kemarin, terdakwa Ririn masih juga belum didampingi penasehat hukum (PH). Namun demikian, sidang tetap berlangsung di ruang sidang Kartika.

Dalam persidangan tersebut Jaksa Penuntut Umum ( JPU) Tommy Marwanto menghadirkan dua saksi yang memberatkan. Keduanya adalah Yohan, 28 dan Yuli, 18. Sebelum memberikan kesaksian, keduanya terlebih dahulu mengucapkan sumpah. 

“Kalian berdua kenal dengan terdakwa?” tanya Hakim Ketua Guntur Pambudi Wijaya.

“Tidak,” jawab kedua saksi serempak.

Di hadapan majelis hakim dan JPU, Yohan menceritkan kejadian yang terjadi pada 25 September 2018 itu. Saat itu Yohan sedang dibonceng Yuli dari arah Pare menuju Gurah. Ketika sampai di lokasi kejadian, Yohan melihat ada mobil yang berhenti di tepi jalan, di bawah pepohonan. “Saya kira saat itu ada kecelakaan, namun tidak lama kemudian pengemudi keluar dari mobil,” jelas Yohan.

Karena sepeda motor berada di seberang, dan posisi lalu lintas dalam keadaan ramai, Yohan memilih untuk turun dari sepeda motor. Dia kemudian menyeberang jalan. Menghampiri korban. Sedangkan Yuli memarkirkan sepeda motornya. “Ketika saya hampiri, korban sudah dalam keadaan berdarah-darah,” ungkap Yohan.

Korban yang dimaksud adalah Djony Suwono, 44. Mungkin karena dalam kondisi syok, Yohan mengira Djony saat itu meracau. Beberapa kali ia mengatakan bahwa di dalam mobil ada seorang wanita yang sedang membawa kapak, pisau, dan palu. Padahal saat kejadian, pisau berada di gengaman Djony.

Yohan yang semula mengira telah terjadi kecelakaan, mendekat ke arah Djony. Dia melihat luka sayatan yang berada di leher. Kemudian ia sontak membuka pintu mobil yang berada di bagian tengah. Saat dibuka, di dalamnya terdapat Ririn yang terlihat tenang. Saat melihat ada yang membuka pintu Ririn kemudian berteriak. Mengatakan bila Djony merupakan orang yang jahat.

“Saat itu korban dalam keadaan terduduk mengatakan, kurang baik apa aku ke kamu. Sampai tega melakukan ini,” ulang Yohan.

Tidak hanya itu saja, seolah tidak terjadi apa-apa, Ririn meminta air kepada warga di dekat TKP. Air tersebut sempat dikira Yohan untuk minum. Ternyata air itu untuk membersihkan tangan yang penuh darah. Hanya saja, karena baju Ririn berwarna merah, Yohan tidak dapat memastikan itu darah atau bukan. “Bagaimana terdakwa dengan keterangan saksi?” tanya Guntur.

“Ketika waktu itu saya tidak melihat keduanya di lokasi,” jawab Ririn, dengan wajah tenangnya.

“Bukan itu, maksud saya dengan keterangan yang diberikan saksi benar atau tidak kalau kamu di kursi bagian tengah?” ulang Hakim Ketua.

“Benar yang mulia,” jawab Ririn kembali.

Akibat masih ada saksi yang akan di datangkan, sidang sore itu ditunda. Dan akan kembali dibuka pada Rabu (11/1) dengan agenda sama mendengar keterangan saksi. Usai palu terdengar, Ririn langsung digelandang keluar ruang sidang oleh satu petugas kejaksaan itu langsung dijebloskan ke sel sementara.

Dalam kasus yang melibatkan wanita yang merupakan seorang sarjana hukum tersebut, JPU Tommy memasang tiga pasal untuk menjerat Ririn. Dakwaan primairnya tentang pembunuhan berencana. Yaitu pasal 340 KUHP. Sedangkan yang subsidair adalah pasal 338 KUHP jo pasal 53 ayat (1) KUHP. “ Lebih subsidair lagi, terdakwa terancam pasal 353 ayat (2) KUHP,” ujar Tommy pada persidangan sebelumnya.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia