Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Kuliner Khas Warga Pegunungan (2)

Sate Daging Rusa Lebih Nikmat daripada Gulai

02 Januari 2019, 16: 11: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

SATWA DILINDUNGI: Rusa yang dipelihara di kawasan lereng Gunung Wilis, Desa Tiron, Kecamatan Banyakan kini dilindungi

SATWA DILINDUNGI: Rusa yang dipelihara di kawasan lereng Gunung Wilis, Desa Tiron, Kecamatan Banyakan kini dilindungi (Miko-radarkediri.id)

Share this          

Dahulu, warga yang bermukim dekat hutan Gunung Wilis punya kebiasaan berburu. Hewan hasil buruan dimasak untuk hidangan. Salah satu menu spesial adalah olahan daging rusa. Namun untuk itu, pemburu harus bertahan seminggu di hutan.

Bagi yang pernah mencicipinya, olahan daging rusa mempunyai citarasa yang khas. Dagingnya memiliki tekstur padat namun empuk. Ada sensasi rasa manis nan gurih. Karena keistimewaannya, dahulu, para pemburu rela sampai bertahan dan tinggal di hutan. Bahkan hingga seminggu lamanya hanya untuk mendapatkan satwa buruannya tersebut.

Di masa lalu, populasi rusa memang masih banyak. Hewan bertanduk ini tinggal di habitatnya, dalam rimba yang masih sangat lebat. Kini seiring dengan pembukaan lahan hutan, jumlah binatang itu pun ikut berkurang. Para pemburunya pun berangsur menghilang.

Maka cukup beruntung bagi warga di pegunungan –yang memilah enam wilayah kabupaten di Jawa Timur – yang sempat menikmati olahan menu kijang itu. Dedy Saputra, Kepala Desa (Kades) Joho di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, termasuk pernah mencicipinya.

“Waktu itu saya coba rasanya ada manisnya. Uempukk.. dagingnya. Dan memang enak. Makanya dulu sering diburu,” ujarnya.

Dedy menjelaskan, daging rusa dalam kondisi mentah tidak seperti daging sapi. Dari sisi seratnya hingga warnanya yang merah maron, daging kijang ini cenderung bersih. Dalam teksturnya hanya terdapat sedikit lemak.

“Kita lihat saja bentuk fisiknya rusa. Hewan itu cenderung kekar. Bukan gemuk seperti sapi atau mamalia lainnya,” imbuhnya.

Dari keseluruhan anggota tubuh rusa, kades ini mengakui, bagian terlezat adalah paha. Biasanya daging kijang diolah untuk dibakar. Ada pula yang dipanggang atau disate.

Saat daging rusa dicoba dimasak gulai, menurut Dedy, rasanya biasa saja. Namun bila diolah dengan dibakar untuk sate, citarasanya lebih nikmat. Untuk memasaknya pun tidak terlalu sulit. Tanpa perlu direbus, daging rusa mudah empuk dan matang.

“Yang dikhawatirkan adalah daging justru hancur ketika dimasak, karena mengalami proses perebusan sebelumnya,” paparnya.

Dibandingkan dengan mentahnya daging mamalia lainnya, Dedy menyebut, daging rusa tidak begitu amis. Di balik kelezatan saat menyantapnya, siapapun yang ingin menikmati hewan bertanduk ini harus sabar menanti. Bagaimana tidak, populasinya yang tidak sebanyak dulu karena perburuan liar. Hal ini membuat penikmat daging rusa tidak sekadar sabar, tapi juga harus rela tinggal di hutan empat sampai tujuh hari.

“Untuk sebarannya sekitar Wilis utara, arah ke Nganjuk. Rusa ini bisa didapatkan di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Habitatnya berada di tengah hutan. Karena informasi terakhir di sana,” kata Dedy.

Bila beruntung, menurutnya, akan mudah dijumpai di ketinggian di bawah 800 mdpl. Namun, semenjak adanya aturan terhadap larangan berburu rusa, Dedy menjadi jarang menikmati kelezatannya. Walaupun tidak pernah berburu rusa, kades ini pernah merasakan daging rusa buah tangan dari rekannya.

“Masih banyak yang tidak tahu kalau rusa adalah satu satwa yang dilindungi. Ada bagusnya sih, jadi melindungi ekosistem,” tambahnya.

Tak sekadar ekosistem, rusa pun bisa dijadikan patokan bila di hutan atau di gunung terjadi sesuatu seperti bencana atau erupsi.  Dedy menjelaskan, bila fenomena rasa daging rusa memang membuat banyak orang menjadi pemburu rusa, yang rela tinggal sementara di hutan.

Tak tanggung-tanggung, harga daging rusa pun cukup menggiurkan. Diperkirakan, sekitar Rp 60 ribu per kilogram.

Sedangkan untuk satu ekor rusa, harganya pun bisa mencapai jutaan rupiah. Tergantung berat badan serta tanduknya. Apalagi saat ini, bila memang benar-benar ingin menikmati kelezatan daging rusa harus rela menerima risiko sanksi.

“Otomatis ya, karena dari BKSDA (badan konservasi sumber daya alam) ada kebijakan tersebut,” terang Dedy. Wajar hingga saat ini jarang dijumpai orang menjual daging rusa, bahkan tidak ada sama sekali.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia