Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Kuliner Khas Warga Pegunungan (1)

Nikmatnya Nasgor Tiwul yang Bikin Panjang Umur

02 Januari 2019, 15: 47: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

LEZAT : Nasi Goreng Tiwul Khas Lereng Wilis

LEZAT : Nasi Goreng Tiwul Khas Lereng Wilis (Ramona Valentin - radarkediri.id)

Share this          

Desa-desa di lereng Pegunungan Wilis tak hanya menawarkan eksotisme pemandangan saja. Ada banyak menu yang bisa memikat lidah. Salah satunya adalah tiwul. Makanan yang berasal dari singkong.

Desa ini berketinggian sekitar 600 mdpl. Namanya Desa Joho. Masuk wilayah administrasi Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Di desa ini tak hanya dijumpai tempat wisata alam yang menyegarkan seperti Sumber Podang. Jajaran makanan khas warga pegunungan Wilis pun mudah ditemui. Salah satunya adalah tiwul.

Tiwul adalah ‘nasi’ yang terbuat dari ketela pohon alias singkong. Bagi masyarakat Jawa, makanan ini sangat dikenal. Rasanya cocok di lidah mereka. Menjadikan digemari dan menjadi santapan sehari-hari.

“Kata ibu saya, tiwul itu dari zaman dahulu sampai sekarang bentuknya ya sama. Begitu-begitu saja, butiran-butiran yang lengket jadi satu,” kata Dewi Ismi. Dewi adalah wanita yang berdagang nasi goreng (nasgor) dari tiwul. Dia berjualan di dekat kawasan wisata Sumber Podang.

Dewi menceritakan bila menu nasi goreng tiwul ini ada setelah terinspirasi dari nenek moyang. Dengan kebiasaan menyantap tiwul dengan cara digoreng. “Sekitar tahun 1970-an mungkin orang dulu juga jenuh. Masak makannya tiwul kukusan terus. Akhirnya coba digoreng. Dan tanpa bumbu hanya taburan garam saja,” terangnya sembari menumis irisan bawang.

Tiwul memang salah satu makanan pokok zaman dahulu selain nasi. Biasanya identik disantap bersama sayur dan lauk. Kandungan karbohidratnya mampu menggantikan nasi. Membuat masyarakat zaman dahulu menjadikannya makanan sehari-hari. Dimulai dari cara mendapatkannya di lahan, hingga pengolahannya yang tidak sulit membuat tiwul menjadi menu berbagai kalangan.

“Perbedaannya dulu dan sekarang jelas pada cara memasaknya dan bumbunya. Dulu masaknya ya di kuali lempong, kompornya berbahan bakar kayu,” terang perempuan ini.

Sedangkan saat ini tiwul dimasak dengan modern. Menggunakan kompor, kuali dari logam, serta racikan bumbu yang menambah kelezatan tiwul goreng ini. Nama nasi goreng tiwul sendiri karena memang serupa dengan nasi goreng yang berasal dari beras. Rempah untuk bumbu yang digunakan juga sama dengan nasi goreng secara umum. Seperti bawang merah, bawang putih, daun bawang, garam, gula, irisan cabai, dan dilengkapi sayur serta ikan teri.

Saat matang, menu ini juga diberi lalapan seperti irisan mentimun. Satu porsinya dihargai senilai Rp 10 ribu. Cukup terjangkau dan bikin kenyang. Biasanya mudah dijumpai di sekitar Desa Joho dan Besuki, desa yang masuk Kecamatan Mojo.

Konon katanya, siapa saja yang sering menyantap tiwul ini bisa panjang umur. Setidaknya begitulah pengakuan perempuan 41 tahun ini. “Inikan non-kolestrol, kandungan gulanya ndak sama seperti nasi. Makanya yang sering makan ini jadi ndak cepet mati karena diabetes,” candanya sambil menutup mulutnya.

Sementara itu, Deddy Saputra, kepala Desa Joho menceritakan sisi lain tiwul. “Tiwulnya sudah ada sejak zaman kerajaan, Dewi Kilisuci itu lho juga sudah merasakan tiwul. Cuma bukan nasi goreng tiwul,” paparnya.

Ia menegaskan bila singkong yang dibuat untuk tiwul ini diambil langsung dari tanaman yang tumbuh di sekitar lereng Wilis dan diolah pula di sekitaran lereng Wilis oleh penduduk. “Walaupun ada yang jualan menu ini di kota, pasti tetap berbeda. Mulai dari rasa dan sensasinya. Karena kalau di sini sambil lihat gunung,” pungkasnya sambil menunjukan jarinya ke pemandangan lereng Wilis.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia